Oleh : Ayu Fitri
Izaki
Tokoh :
- Gadis (Bulan)
- Pemuda (Ricco)
- Ibu Bulan
- Nanda (Adik Bulan)
- Pemuda yang lain (teman Ricco)
ADEGAN 1 :
(Sebuah
panggung, yang ditata seperti sebuah lapangan. Di sudut lapangan tersebut
(belakang) terdapat sebuah rumah kecil berwarna hijau dengan di sampingnya
sebuah pohon tua nan amat besar. Rumah itu mengahdap ke arah penonton. Di sudut
lain sebuah lapangan tersebut (depan) terdapat pohon berukuran sedang.dan di
bawah pohon itu duduklah seorang gadis. Paras gadis itu ayu namun pucat.
Matanya sayu, menyiratkan sebuah kegelisahan. Matanya menghadap ke depan, ke
arah penonton. Beberapa saat kemudian, masuklah dua orang pemuda dari arah
samping, mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan atributnya. Namun
seragam itu penuh dengan coret-coretan di sana-sini. Pemuda-pemuda tersebut
meneriakkan kelulusan mereka dengan bangga tanpa menghiraukan sekeliling.
Mereka lalu berpisah. Pemuda satu menjauhi lapangan (keluar lapangan). Pemuda
yang lain terus berjalan dan mulai menghampiri gadis yang sedang duduk di bawah
pohon).
Pemuda (Ricco) : Maaf Mbak. (MULAI BERBICARA DENGAN NADA
CANGGUNG). Mbak kenapa duduk sendirian?
Gadis (Bulan) : (MENDONGAK
KE ATAS, MENATAP DENGAN SEKSAMA LAWAN BICARANYA, NAMUN TAK SEGERA MENJAWAB,
DIAM).
Pemuda (Ricco) : (TIDAK MENYERAH, MENERUSKAN BERBICARA).
Boleh kenalan tidak, mbak? Namaku Ricco. (MENGULURKAN TANGANNYA, HENDAK
BERSALAMAN).
Gadis (Bulan) : (TIDAK
MEMBALAS ULURAN TANGAN). Kau mau kenalan denganku, hah?! (UCAPANNYA KASAR,
SOROT MATANYA SINIS).
Pemuda (Ricco) : Iya.. mbak. Mbak keberatan? (MULAI DUDUK
DI SAMPING GADIS ITU)
Gadis (Bulan) : Tolong
jangan panggil saya dengan sebutan mbak. Saya tidak setua yang kamu pikir. Umur
saya sama sepertimu. Panggil saya, Bulan.
Ricco : Iya, mbak,
eh Bulan. Rumah kamu di mana. (BASA-BASI).
Bulan : Jangan
basa-basi deh kamu. Kamu lihat rumah kecil berwarna hijau, itu rumah saya. (SAMBIL
MENUNJUK KE ARAH YANG DIMAKSUD)
Ricco : (PANDANGAN
TERTUJU KE ARAH YANG DIMAKSUDKAN GADIS, LALU PANDANGANNYA MENATAP KEMBALI GADIS
YANG BERADA DI SAMPINGNYA). Oh dekat dari sini ya. Oya, saya kok baru lihat kamu.
Kamu sekolahnya di mana ya?
Bulan : Untuk
apa kamu ingin tahu di mana sekolah saya. Itu tidak penting kan buatmu. Kamu mau tahu siapa saya?
Baiklah akan saya beri tahu. Saya ini adalah orang yang tidak bisa bebas. Orang
yang telah terperangkap karena ulahnya sendiri. Kamu tahu? Saya ini adalah
orang yang tercela.
Ricco : (MELONGO, TERHERAN-HERAN LANTAS
MEMOTONG PEMBICARAAN). Maaf, saya
kurang paham dengan maksud kamu. Orang yang tidak bebas? Orang yang
terperangkap? Orang yang tercela?
Bulan : (TERTAWA).
Mungkin saat ini kamu tidak paham dengan maksudku. Namun, suatu saat kamu akan
tahu. Kenapa aku bisa berkata, kalau aku ini orang yang tidak bebas? Kau mau
tahu? Dulu aku adalah orang yang selalu bebas. Namun, aku memanfaatkan
kebebasanku kepada hal-hal yang tercela, sebuah kenistaan. Sebuah kesia-siaan
yang tidak pantas ditiru oleh orang lain. Sekarang, kebebasanku sudah sirna,
menguap entah kemana. Aku pun terjerat ke dalam lobang yang aku buat sendiri.
(Bulan
menghela napas panjang. Di matanya masih menampakkan kegalauan hati. Suasana
pun sunyi seketika. Bak berhentinya sang waktu. Ricco mulai mencerna apa yang
dimaksudkan Bulan. Namun, ia tidak bisa. Ia tidak paham. Rasa penasarannya
kemudian tumbuh).
Ricco : Aku
benar-benar tidak paham maksud kamu. Tolong ceritakan lebih detail kepadaku.
Mungkin saja aku bisa membantumu. Ayolah.. (MENDESAK).
Bulan : Ricco,
Ricco. (TERTAWA). Ternyata rasa penasaranmu besar sekali ya. Kamu ini suka
mencampuri urusan orang ya? (RICCO TERSENYUM, BULAN MELANJUTKAN KEMBALI
PERKATAANNYA). Ibuku mungkin sangat malu mempunyai anak seperti aku. Aku ini
hanya menambah beban orang tua saja. Bayangkan, Ibuku selalu memikirkan
bagaimana caranya mendapatkan uang. Maklumlah, ayahku sudah sepuluh tahun yang
lalu meninggal. Jadi, Ibuku yang bekerja
membanting tulang. Apalagi aku mempunyai dua orang adik. (MENGHELA NAPAS,
MENCARI SISA-SISA UDARA). Namun, aku ini anak yang tidak tahu berbalas budi,
uang dari Ibuku aku pakai buat kesenanganku semata. Kesenangan yang berujung
pada kenistaan. Aku ini bukannya memikirkan kesusahan orang tua dan berusaha
membantu malahan menjadi orang yang menyusahkan.
Ricco : (MASIH
DENGAN RASA PENASARAN, NAMUN MENDENGARKAN DENGAN SEKSAMA PERKATAAN BULAN,
MENCOBA MEMAHAMI). Teruskan perkataanmu. Aku akan dengan setia mendengarkan
pembicaraan ini sampai tuntas.
Bulan : Ibuku
selalu mengeluh tentang naiknya harga BBM. Kau tahu berapa harga bensin, solar,
minyak tanah sekarang? Aku yakin kamu pasti tahu, Rp 8.000,00 per liter. Mahal
bukan? Akibatnya, harga kebutuhan pun naik. Ibuku seperti terlilit dengan uang.
Bayangkan kami hanya keluarga kecil, namun kebutuhan kami banyak. Bagaimana
kami bisa hidup kalau harga kebutuhan naik? Mau makan apa kami? Bisa-bisa kami
tidak makan dalam sehari. Ibuku yang gajinya kecil, bahkan mepet pun harus
pasrah menerima keadaan. Memang sih, harga minyak mentah dunia naik, di atas
100 dollar AS per barel. Namun, bukankah negara kita ini kaya akan minyak?
Jadi, harga minyak dunia tidak mempengaruhi, bukan? Asalkan kita mau
mengolahnya dengan sebaik-baiknya, tidak seperti Lumpur Lapindo yang hingga saat
ini tidak bisa diatasi. Kalau sudah seperti ini, kemiskinan makin merajalela.
Bagaimana tidak, rakyat kecil seperti keluargaku ini tidak bisa lagi membeli
barang-barang kebutuhan pokok. (MENGHELA NAPAS KEMBALI, MENCOBA MENGATUR
NAPASNYA YANG MEMBURU).
Ricco : (TIDAK
SABAR, TIDAK TAHAN, GELISAH DENGAN RAUT MUKA MASIH TERHERAN-HERAN BERCAMPUR
PENASARAN, NAMUN MENCOBA BERTAHAN).
Bulan : Ibuku
juga mengeluh, kenapa korupsi masih merajalela di Indonesia? Bukankah korupsi yang
menjadi dalang utama kemiskinan di Indonesia? Bukankah sebetulnya Indonesia itu
kaya, kalau saja sang korup biadab itu tidak gatel tangannya? Uang negara raib
entah kemana, imbasnya adalah rakyat tidak bisa menikmati uang yang
diperuntukkan bagi rakyat itu. Seharusnya pemerintah bisa mengadili seadil-adilnya
sang korup tersebut. Uang yang diambil oleh korup juga harus dikembalikan ke
tangan rakyat. Pokoknya, pemerintah yang lamban ini harus bertindak cepat.
Jangan hanya bersantai-santai seperti ini. Dunia ini seperti tumpukan sampah karena
keserakahan dan ketamakan. Tapi kok anehnya, anggota DPR gajinya besar padahal
kerjanya tidak sebanding dengan para kuli bangunan? Apa karena pendidikan
mereka tinggi sehingga mereka bisa diberi fasilitas yang indah nan mewah? Kalau
begitu, aku juga ingin deh jadi anggota DPR. Hah, tapi apa bisa, orang senista
aku menjadi anggota DPR? Alih-alih rakyat kecil muak melihatku karena tahu
perbuatanku yang nista lagi biadab di masa lampau! (TERTAWA). Sepertinya,
pemerintah berbahagia, namun rakyat terjebak dalam kesengsaraan.
Ricco : (TIDAK
TAHAN, TIDAK SABAR, MULAI ANGKAT BICARA). Aku benar-benar tidak mengerti gaya bicaramu. Bukankah
awalnya kamu ingin membicarakan perihal dirimu. Kenapa tiba-tiba pembicaraan
jadi ngalor ngidul seperti ini? Soal
naiknya harga BBM lah? Korupsi lah? Bahkan tiba-tiba menuju ke anggota DPR?
Tolonglah, pembicaraan kita jangan terlalu jauh. Jangan berbelit-belit. Saya
tidak paham. (DENGAN NADA SETENGAH MEMOHON).
Bulan : Aku
ini memang orang jahat. Aku ini memang orang yang hina. Namun, aku bukan
monster. Bukan! (HISTERIS)
Ricco : Sabarlah.
Tenangkan hatimu. Sekarang lanjutkanlah.
Bulan : (TERTAWA
DENGAN KERAS DAN KEMUDIAN BERTERIAK DENGAN LANTANGNYA). Aku ini memalukan!
Memalukan!
(Ricco
tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ia benar-benar tidak paham dengan
perkataan Bulan. Suasana hening seketika)
Ricco : Saya benar-benar
tidak paham dengan
maksud kamu. Sebenarnya yang
ingin kamu katakan itu apa?
Bulan : Oiya,
maaf. Aku terlalu emosi sehingga jadi ngelantur. Aku lanjutkan pembicaraan
mengenai diriku yang sempat tertunda karena keegoisannku. (DIAM SEBENTAR,
BERPIKIR UNTUK MENDAPATKAN KATA YANG TEPAT). Nah, karena itu, aku sepertinya
tidak merasakan keluhan Ibuku itu. Aku memang seperti tak mempunyai perasaan.
Aku ini anak yang biadab, tidak tahu malu! Aku saat ini sudah terjebak dalam
perangkapku sendiri tanpa bisa keluar walaupun aku sudah berusaha. Namun,
sepertinya usahaku sia-sia belaka. Kau tahu itu?
Ricco : (TIDAK
TAHAN LAGI). Sudahlah, cukup!! Aku tidak tahu apa-apa. Dan sepertinya rasa
penasaranku terhadap dirimu sudah mulai luntur sejalan dengan kecerewetanmu.
Aku benar-benar tidak memahami jalan pikiranmu. Kau benar-benar telah membuang
waktuku. Lebih baik kita hentikan pembicaraan ini. Aku sudah bosan dan muak
dengan semua ini. (BERDIRI, MULAI BERANJAK
PERGI, NAMUN DICEGAT OLEH BULAN)
Bulan : (SAMBIL
TANGANNYA MENAHAN KAKI RICCO,
IA PUN MULAI BERBICARA). Aku
tahu, kau muak denganku. Setiap orang yang bertemu denganku, pasti akan muak. (RICCO
MASIH BERDIRI MEMBELAKANGI BULAN). Aku pikir dengan kenalan denganmu, aku bisa
mendapatkan teman yang mau diajak berbagi. Tapi, ternyata semua orang sama
saja, muak melihatku! (MULAI MENANGIS). Apakah kau keberatan menjadi temanku?
Ricco : (HATINYA
MULAI LULUH, KEMBALI DUDUK DI SAMPING BULAN). Aku mau kok jadi temanmu. Mungkin
saat ini kamu belum bisa menceritakan siapa dirimu. Tidak apa-apa, aku mafhum.
Namun, sepertinya aku tidak bisa terus berada di sampingmu seperti ini. Maafkan
aku.
Bulan : Kenapa?
Kenapa tidak bisa? Karena kamu muak denganku? Aku mau kok merubah sikapku. (MASIH
DENGAN ISAK TANGIS).
Ricco : Bukan,
bukan itu. Aku sudah diterima di sebuah PTN di Jakarta. Kau tahu kan maksudku apa?
Sebentar lagi aku akan ke Jakarta.
Bulan : Ya,
aku mengerti. Kamu akan mengejar cita-citamu. Aku tidak akan mencegahmu sebab
ini berhubungan dengan masa depanmu. Aku doakan semoga kamu bisa sukses dan
selamat di sana.
Kuharap kamu bisa menjadi kebanggan orang tua tidak sepertiku.
Ricco : Amiin..
terima kasih. Aku janji bila ada waktu luang aku akan mampir ke rumahmu. Kau
harus menerimaku dengan senang hati. Aku harus pamitan pulang. Sampai jumpa di
lain waktu. (BERDIRI MULAI BERANJAK PERGI).
Bulan : (BERDIRI,
MENATAP RICCO). Mungkin ini adalah pertemuan pertama dan terakhir buat kita.
Kita tidak akan bisa bertemu lagi. (MENANGIS KEMBALI).
Ricco : Maksud
kamu?
(Bulan
memeluk Ricco yang masih dalam keheran-heranan. Suasana menjadi tenang. Yang
terdengar hanyalah suara tangis Bulan. Panggung tiba-tiba gelap seketika. Tirai
panggung menutup perlahan disertai alunan melodi yang menyayat hati).
ADEGAN 2 :
(Sebuah
panggung yang ditata seperti sebuah ruangan dalam sebuah rumah sederhana. Di
dalam ruangan itu terdapat beberapa sofa, di tengahnya ada sebuah meja kecil berbentuk
bulat. Di samping sofa terdapat lemari kecil tua yang tingginya sama persis
seperti sofa yang di ada di sampingnya. Di atas lemari itu ada beberapa bingkai
foto milik si empunya rumah. Di dinding rumah itu, ada sebuah jam dinding tua
yang amat besar ukurannya. Itu seperti ruang tamu. Seorang Ibu setengah baya,
berumur sekitar 40 tahun sedang duduk di atas sofa sambil membaca koran).
Tok…tok…tok.
Assalamu’alaikum…
(Suara
orang mengetuk pintu dan memberi salam. Dengan tergopoh-gopoh, Ibu yang duduk
di atas sofa bangkit dari tempatnya bergegas membuka pintu. Pintu dIbuka,
muncullah seorang pemuda mengenakan kemeja berwarna biru di depan pintu. Si Ibu
hanya membuka sedikit pintu rumahnya).
Ibu :
Wa’alaikumsalam. Maaf, Anda mau
mencari siapa? Perasaan saya tidak mengenal Anda. (MASIH DI BELAKANG PINTU). Ada keperluan apa?
Pemuda (Ricco) : Maaf, Bu, saya mengganggu Ibu. Apa benar
ini rumahnya Bulan? (DENGAN SOPAN BERTANYA KEPADA IBU YANG BERADA DI DEPANNYA).
Ibu : Benar.
Ada
keperluan apa ya dengan anak saya?
Anda Ini
siapanya ya? (MASIH MEMBORONG BERBAGAI PERTANYAAN, BELUM MEMPERSILAHKAN MASUK).
Pemuda (Ricco) : Saya ini temannya, Bu. Bulannya ada?
Ibu : Benar kamu temannya? (YANG DITANYA HANYA MENGANGGUKKAN KEPALA). Baiklah, silakan masuk.
(Si
Ibu mempersilahkan masuk lalu mempersilahkan duduk. Kemudian ia pun duduk
menghadap pemuda itu).
Ibu : Benar kamu mengenal perempuan ini? (SAMBIL MEMPER-LIHATKAN BINGKAI FOTO YANG DIAMBIL
DARI ATAS LEMARI KECIL DI SEBELAHNYA).
Pemuda (Ricco) : Iya, Bu. Kenapa, Bu? Sepertinya Ibu
meragukan kejujuran saya.
Ibu : Oh.. tidak apa-apa. (MELONGOK KE DALAM RUMAHNYA). Nanda,
tolong ambilkan air minum beserta makanan ringan, ada tamu nih! Cepat ya! (BERTERIAK,
MENYURUH ANAKNYA).
Ibu : Oh, ya, nama kamu siapa? Sejak kapan kamu mengenal anak saya
dan di mana?
Pemuda (Ricco) : Nama saya Ricco, Bu. Saya mengenal Bulan
dua bulan yang lalu Bu. Kami bertemu di lapangan yang tak jauh dari rumah ini,
Bu.
Ibu : Apa?! Dua bulan yang lalu? (TERKEJUT).
(Tiba-tiba
masuklah seorang gadis yang umurnya sedikit lebih muda daripada pemuda itu,
mungkin dia adik Bulan, ke dalam panggung membawa nampan yang berisikan
secangkir teh dan sepiring makanan ringan. Gadis itu meletakkan apa yang
dibawanya di atas meja kecil yang ada di depan sofa. Suasana pun sepi seketika.
Sejurus kemudian, gadis itu masuk ke dalam rumahnya (keluar panggung).
Ibu : Silahkan diminum dan dimakan, nak. (MEMPERSILAHKAN, SI PEMUDA
MENGAMBIL CANGKIR LALU MEMINUMNYA PERLAHAN, KEMUDIAN MELETAKKANNYA KEMBALI DI
ATAS MEJA). Ehem, begini nak, Bulan sudah meninggal (SUARA IBU ITU BERAT
MENUNJUKKAN KESEDIHAN HATINYA).
Ricco :
(KAGET). Innalillahi wa inna ilaihi
roji’un…Kalau boleh saya tahu, meninggalnya karena apa ya, Bu?
Ibu : (MENGHELA NAPAS). Dia
meninggal karena over dosis.
Ricco : Apa? Over dosis? Jadi
dia…
Ibu : Ya.. dia pecandu. Ini semua benar-benar kesalahan Ibu. Coba
kalau Ibu tidak bekerja keras mencari uang, pastilah Ibu bisa memantaunya. Yang
dia butuhkan hanyalah kasih sayang. Ya, kasih sayang. (MULAI MENANGIS).
Semenjak ayahnya meninggal, Ibulah yang berusaha mencari uang. Ibu bekerja hingga
larut malam sehingga Ibu tidak bisa bercerita lagi dengannya. Ibu tidak bisa
menasihatinya lagi. Ibu tidak bisa memberi kasih sayang yang ia butuhkan. Ibu…
(TERISAK, TIDAK BISA BERKATA).
Ricco : Sabar, Bu. Sabar…
Ibu : Ibu hanya berpikir
bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak. Ibu pun membebaskan semua anak
Ibu untuk berbuat sekehendak hati mereka karena Ibu pikir mereka sudah dewasa,
sudah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. (MASIH MENANGIS, RICCO MASIH
TERDIAM).
Ibu : Awalnya Ibu tidak tahu kalau Bulan pecandu. Ibu baru tahu
ketika itu. Ya, pada hari itu, Bulan pingsan, Ibu lalu membawanya ke rumah sakit,
dan dokter menyatakan bahwa dia…dia… (BERHENTI SEJENAK). Dia terkena HIV AIDS.
Ibu bingung. Di keluarga Ibu tak ada satupun yang mengidap penyakit itu. Bulan
juga tidak pernah mendapatkan transfusi darah. Ibu akhirnya berpikiran negatif,
bahwa Bulan penganut seks bebas. Namun, pikiran ibu ternyata keliru. Bulan bisa
terkena penyakit itu, karena dia adalah seorang pecandu. Dia memakai jarum
suntik beramai-ramai dengan temannya untuk memasukkan serbuk ganja sehingga dia
bisa tertular penyakit itu.
(Suasana
hening seketika. Si Ibu masih saja menangis, sedangkan Ricco hanya bisa terdiam
tanpa bisa berbicara).
Ibu : Kabar pun cepat tersebar, dan dia pun dikeluarkan dari
sekolahnya. Padahal dia mau ujian dan sebentar lagi lulus. Ibu akhirnya mengurung dia di kamar. Kenapa?
Karena Ibu malu… Ibu malu sama tetangga. Ibu malu karena Ibu telah gagal
mendidik anak. Ibu juga malu kepada almarhum ayahnya. Ibu benar-benar malu.
Malu sekali… Malu!! (BERTERIAK HISTERIS).
Ricco : Sabar,
Bu. Sabar…
Ibu : Ibu mengurung dia di kamar karena Ibu tidak mau dia diejek
oleh anak kecil. Ibu benar-benar mengisolir dia dengan rapat. Apakah perbuatan
Ibu salah? Sebenarnya yang salah itu siapa? Ini semua salah Ibu yang gagal
mendidik ataukah salah teman-temannya yang menjerumuskannya? Ataukah salah dia
yang telah salah memilih tempat pelarian? Atau ini semua karena benda laknat
itu? Ayo, coba katakan ini salah siapa? Kenapa kamu masih diam!
Ricco : Saya
bingung harus berbicara apa, Bu. Ibu
tenanglah…
Ibu : Ya, Ibu harus tenang. (TERSENYUM SAMBIL MENGHAPUS AIR MATANYA).
Sudah, Ibu sudah bisa mengontrol diri. (TERDIAM SESAAT). Dia pun akhirnya bunuh
diri dengan cara yang tragis. Over dosis. Benar-benar sangat tragis dan
memilukan. (MENGHELA NAPAS KEMBALI, MENCOBA MENGATUR DIRI AGAR TIDAK TERLARUT
PERASAAN). Oh ya, Ibu mau bertanya padamu sekali lagi. Benar kamu bertemu
dengannya dua bulan yang lalu?
Ricco : Iya, Bu.
Untuk apa saya
berbohong. Tapi, sepertinya
Ibu meragukan saya.
Ibu : Bukan. Bukan seperti itu. Tapi…Nanda kemari sebentar!!
(gadis yang dipanggil pun muncul dari
dalam rumahnya).
Nanda : Ada
apa Bu?
(sang
Ibu berbisik kepadanya, Nanda pun masuk kembali ke rumahnya namun hanya
sebentar. Nanda datang kembali membawa secarik amplop dan memberikannya kepada
Ibu. Nanda masuk kembali ke dalam rumahnya. Sang Ibu membuka amplop itu dan mengeluarkan
secarik kertas dan memberikannya kepada Ricco).
Ibu : Ini.
(MENYERAHKAN SECARIK KERTAS KEPADA RICCO). Cobalah kamu baca dengan keras. Ini surat yang ditulisnya,
sehari sebelum kematiaannya.
Ricco : Baiklah. (DENGAN RASA TERHERAN-HERAN
MENERIMA DAN MEMBUKA KERTAS, MULAI MEMBACA).
Buat
Ibu dan adik-adikku. Ibu maafkan aku. Aku benar-benar anak yang tidak
berbudi. Aku sudah
mengecewakan Ibu dan membuat Ibu malu. Aku sudah menyalahkan
arti kebebasan yang Ibu berikan kepadaku. Aku juga tidak bisa menjadi kakak
yang baik. Maafkan aku ya adik-adikku. Aku benar-benar sudah terjerembab ke
dalam lembah kenistaan. Jangan meniruku ya.
(Ibu menangis, Ricco berhenti
membaca).
Ibu : Tidak
apa-apa. Teruskanlah…
Ricco : (MULAI
MEMBACA KEMBALI).
Ibu,
aku mau jujur. Sebenarnya yang selama ini
mengambil uang Ibu adalah aku. Aku
mengambilnya untuk membeli barang haram yang merusak tubuhku itu. Aku benar-benar
menyedihkan. Aku seharusnya mengerti kesusahan Ibu dan membantu Ibu bukannya
malah membuat Ibu kesusahan dengan mencuri uang Ibu. Aku benar-benar minta
maaf. Waktu itu, aku tidak memikirkannya. Yang aku pikirkan hanyalah kesenangan
sesaat yang berujung kepahitan. Karena aku pikir Ibu sudah tidak menyayangiku
lagi seperti dahulu. Aku salah. Sekarang aku mengerti arti penyesalan. Dan
ternyata benar kata pepatah kalau penyesalan akan datang terlambat. Namun aku
sudah berusaha untuk tidak menyesali perbuatanku.
Ibu
sekarang aku hanya menjadi beban buat Ibu. Menjadi sampah masyarakat. Menjadi
orang yang terikat. Menjadi orang yang terbuang dan tidak berguna. Hmm.. Tapi
itu memang karena kesalahanku sendiri. Iya kan, Bu? Jadi, aku tidak perlu menyalahkan keadaan.
Aku juga tidak perlu menyesali semua ini. Karena ini yang aku mau. Aku akan
tersenyum, tersenyum buat Ibu.
Ibu,
sekarang aku akan mengakhiri semua ini. Supaya tidak menjadi beban buat Ibu.
Supaya tidak lagi membuat Ibu malu. Maafkan aku, Ibu. Maafkan aku adik-adikku.
Aku sayang kalian semua. Selamat tinggal. Terima kasih karena kalian semua mau
menyayangiku. Biarkan aku pergi. Dan aku benar-benar tidak menyesali semua ini.
Karena inilah yang aku mau. Beginilah nasibku.
Sekali
lagi maafkan aku, Ibu. Terima kasih karena engkau mau membesarkanku dan
merawatku.
Dari
anakmu yang selalu menyusahkanmu, Bulan. Tiga Maret dua ribe delapan.
Ricco : (TERKEJUT,
MENGULANGI MEMBACA BAGIAN AKHIR). Tiga Maret dua ribe delapan. Jadi… Dia sudah
meninggal lima
bulan yang lalu?
Ibu : Iya,
benar, dia meninggal lima
bulan yang lalu. Maka dari itu saya bingung waktu kamu menyebutkan bahwa kamu
bertemu dengannya dua bulan yang lalu. Mana mungkin dia bertemu denganmu,
sedangkan dia sudah tiada.
Ricco : Tapi,
saya benar-benar bertemu dengannya. Kalau orang yang aku temui bukan dia, lalu
siapakah dia… Atau mungkin itu adalah…
Ibu : Arwahnya. Entahlah… Itu mungkin. Namun, aku tidak benar-benar mempercayainya.
(suasana
sepi, sunyi seketika. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Mereka lelah
memikirkannya. Hal yang sangat sulit diterima oleh akal. Panggung menjadi gelap
tirai menutup seketika).
ADEGAN 3 :
(Tirai
panggung terbuka namun panggung masih gelap. Lampu tiba-tiba menyala dan
menyorot sedikit seorang gadis yang memakai baju putih berambut panjang
terurai. Di belakang gadis itu tampaklah bulan purnama yang tampak jelas
sinarnya. Si gadis hanya tersenyum, senyum kepahitan. Lampu panggung tiba-tiba
meredup, makin meredup hingga yang nampak hanyalah kegelapan. Tirai panggung
menutup).
~Ditulis tahun 2008 waktu saya masih memakai seragam putih abu-abu ^^

0 komentar:
Posting Komentar