Senin, 27 Januari 2014

~Drama~



Cahaya Bulan Yang Meredup
Oleh : Ayu Fitri Izaki

Tokoh :
  1. Gadis (Bulan)
  2. Pemuda (Ricco)
  3. Ibu Bulan
  4. Nanda (Adik Bulan)
  5. Pemuda yang lain (teman Ricco)

ADEGAN 1 :
(Sebuah panggung, yang ditata seperti sebuah lapangan. Di sudut lapangan tersebut (belakang) terdapat sebuah rumah kecil berwarna hijau dengan di sampingnya sebuah pohon tua nan amat besar. Rumah itu mengahdap ke arah penonton. Di sudut lain sebuah lapangan tersebut (depan) terdapat pohon berukuran sedang.dan di bawah pohon itu duduklah seorang gadis. Paras gadis itu ayu namun pucat. Matanya sayu, menyiratkan sebuah kegelisahan. Matanya menghadap ke depan, ke arah penonton. Beberapa saat kemudian, masuklah dua orang pemuda dari arah samping, mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan atributnya. Namun seragam itu penuh dengan coret-coretan di sana-sini. Pemuda-pemuda tersebut meneriakkan kelulusan mereka dengan bangga tanpa menghiraukan sekeliling. Mereka lalu berpisah. Pemuda satu menjauhi lapangan (keluar lapangan). Pemuda yang lain terus berjalan dan mulai menghampiri gadis yang sedang duduk di bawah pohon).
Pemuda (Ricco) :        Maaf Mbak. (MULAI BERBICARA DENGAN NADA CANGGUNG). Mbak kenapa duduk sendirian?
Gadis (Bulan)    :         (MENDONGAK KE ATAS, MENATAP DENGAN SEKSAMA LAWAN BICARANYA, NAMUN TAK SEGERA MENJAWAB, DIAM).
Pemuda (Ricco) :        (TIDAK MENYERAH, MENERUSKAN BERBICARA). Boleh kenalan tidak, mbak? Namaku Ricco. (MENGULURKAN TANGANNYA, HENDAK BERSALAMAN).
Gadis (Bulan)    :         (TIDAK MEMBALAS ULURAN TANGAN). Kau mau kenalan denganku, hah?! (UCAPANNYA KASAR, SOROT MATANYA SINIS).
Pemuda (Ricco) :        Iya.. mbak. Mbak keberatan? (MULAI DUDUK DI SAMPING GADIS ITU)
Gadis (Bulan)     :        Tolong jangan panggil saya dengan sebutan mbak. Saya tidak setua yang kamu pikir. Umur saya sama sepertimu. Panggil saya, Bulan.
Ricco                  :        Iya, mbak, eh Bulan. Rumah kamu di mana. (BASA-BASI).
Bulan                  :        Jangan basa-basi deh kamu. Kamu lihat rumah kecil berwarna hijau, itu rumah saya. (SAMBIL MENUNJUK KE ARAH YANG DIMAKSUD)

Ricco                  :        (PANDANGAN TERTUJU KE ARAH YANG DIMAKSUDKAN GADIS, LALU PANDANGANNYA MENATAP KEMBALI GADIS YANG BERADA DI SAMPINGNYA). Oh dekat dari sini ya. Oya, saya kok baru lihat kamu. Kamu sekolahnya di mana ya?
Bulan                  :        Untuk apa kamu ingin tahu di mana sekolah saya. Itu tidak penting kan buatmu. Kamu mau tahu siapa saya? Baiklah akan saya beri tahu. Saya ini adalah orang yang tidak bisa bebas. Orang yang telah terperangkap karena ulahnya sendiri. Kamu tahu? Saya ini adalah orang yang tercela.
Ricco                  :        (MELONGO,  TERHERAN-HERAN  LANTAS  MEMOTONG  PEMBICARAAN). Maaf, saya kurang paham dengan maksud kamu. Orang yang tidak bebas? Orang yang terperangkap? Orang yang tercela?
Bulan                  :        (TERTAWA). Mungkin saat ini kamu tidak paham dengan maksudku. Namun, suatu saat kamu akan tahu. Kenapa aku bisa berkata, kalau aku ini orang yang tidak bebas? Kau mau tahu? Dulu aku adalah orang yang selalu bebas. Namun, aku memanfaatkan kebebasanku kepada hal-hal yang tercela, sebuah kenistaan. Sebuah kesia-siaan yang tidak pantas ditiru oleh orang lain. Sekarang, kebebasanku sudah sirna, menguap entah kemana. Aku pun terjerat ke dalam lobang yang aku buat sendiri.
(Bulan menghela napas panjang. Di matanya masih menampakkan kegalauan hati. Suasana pun sunyi seketika. Bak berhentinya sang waktu. Ricco mulai mencerna apa yang dimaksudkan Bulan. Namun, ia tidak bisa. Ia tidak paham. Rasa penasarannya kemudian tumbuh).
Ricco                  :        Aku benar-benar tidak paham maksud kamu. Tolong ceritakan lebih detail kepadaku. Mungkin saja aku bisa membantumu. Ayolah.. (MENDESAK).
Bulan                  :        Ricco, Ricco. (TERTAWA). Ternyata rasa penasaranmu besar sekali ya. Kamu ini suka mencampuri urusan orang ya? (RICCO TERSENYUM, BULAN MELANJUTKAN KEMBALI PERKATAANNYA). Ibuku mungkin sangat malu mempunyai anak seperti aku. Aku ini hanya menambah beban orang tua saja. Bayangkan, Ibuku selalu memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang. Maklumlah, ayahku sudah sepuluh tahun yang lalu meninggal.  Jadi, Ibuku yang bekerja membanting tulang. Apalagi aku mempunyai dua orang adik. (MENGHELA NAPAS, MENCARI SISA-SISA UDARA). Namun, aku ini anak yang tidak tahu berbalas budi, uang dari Ibuku aku pakai buat kesenanganku semata. Kesenangan yang berujung pada kenistaan. Aku ini bukannya memikirkan kesusahan orang tua dan berusaha membantu malahan menjadi orang yang menyusahkan.
Ricco                  :        (MASIH DENGAN RASA PENASARAN, NAMUN MENDENGARKAN DENGAN SEKSAMA PERKATAAN BULAN, MENCOBA MEMAHAMI). Teruskan perkataanmu. Aku akan dengan setia mendengarkan pembicaraan ini sampai tuntas.
Bulan                  :        Ibuku selalu mengeluh tentang naiknya harga BBM. Kau tahu berapa harga bensin, solar, minyak tanah sekarang? Aku yakin kamu pasti tahu, Rp 8.000,00 per liter. Mahal bukan? Akibatnya, harga kebutuhan pun naik. Ibuku seperti terlilit dengan uang. Bayangkan kami hanya keluarga kecil, namun kebutuhan kami banyak. Bagaimana kami bisa hidup kalau harga kebutuhan naik? Mau makan apa kami? Bisa-bisa kami tidak makan dalam sehari. Ibuku yang gajinya kecil, bahkan mepet pun harus pasrah menerima keadaan. Memang sih, harga minyak mentah dunia naik, di atas 100 dollar AS per barel. Namun, bukankah negara kita ini kaya akan minyak? Jadi, harga minyak dunia tidak mempengaruhi, bukan? Asalkan kita mau mengolahnya dengan sebaik-baiknya, tidak seperti Lumpur Lapindo yang hingga saat ini tidak bisa diatasi. Kalau sudah seperti ini, kemiskinan makin merajalela. Bagaimana tidak, rakyat kecil seperti keluargaku ini tidak bisa lagi membeli barang-barang kebutuhan pokok. (MENGHELA NAPAS KEMBALI, MENCOBA MENGATUR NAPASNYA YANG MEMBURU).
Ricco                  :        (TIDAK SABAR, TIDAK TAHAN, GELISAH DENGAN RAUT MUKA MASIH TERHERAN-HERAN BERCAMPUR PENASARAN, NAMUN MENCOBA BERTAHAN).
Bulan                  :        Ibuku juga mengeluh, kenapa korupsi masih merajalela di Indonesia? Bukankah korupsi yang menjadi dalang utama kemiskinan di Indonesia? Bukankah sebetulnya Indonesia itu kaya, kalau saja sang korup biadab itu tidak gatel tangannya? Uang negara raib entah kemana, imbasnya adalah rakyat tidak bisa menikmati uang yang diperuntukkan bagi rakyat itu. Seharusnya pemerintah bisa mengadili seadil-adilnya sang korup tersebut. Uang yang diambil oleh korup juga harus dikembalikan ke tangan rakyat. Pokoknya, pemerintah yang lamban ini harus bertindak cepat. Jangan hanya bersantai-santai seperti ini. Dunia ini seperti tumpukan sampah karena keserakahan dan ketamakan. Tapi kok anehnya, anggota DPR gajinya besar padahal kerjanya tidak sebanding dengan para kuli bangunan? Apa karena pendidikan mereka tinggi sehingga mereka bisa diberi fasilitas yang indah nan mewah? Kalau begitu, aku juga ingin deh jadi anggota DPR. Hah, tapi apa bisa, orang senista aku menjadi anggota DPR? Alih-alih rakyat kecil muak melihatku karena tahu perbuatanku yang nista lagi biadab di masa lampau! (TERTAWA). Sepertinya, pemerintah berbahagia, namun rakyat terjebak dalam kesengsaraan.
Ricco                  :        (TIDAK TAHAN, TIDAK SABAR, MULAI ANGKAT BICARA). Aku benar-benar tidak mengerti gaya bicaramu. Bukankah awalnya kamu ingin membicarakan perihal dirimu. Kenapa tiba-tiba pembicaraan jadi ngalor ngidul seperti ini? Soal naiknya harga BBM lah? Korupsi lah? Bahkan tiba-tiba menuju ke anggota DPR? Tolonglah, pembicaraan kita jangan terlalu jauh. Jangan berbelit-belit. Saya tidak paham. (DENGAN NADA SETENGAH MEMOHON).
Bulan                  :        Aku ini memang orang jahat. Aku ini memang orang yang hina. Namun, aku bukan monster. Bukan! (HISTERIS)
Ricco                  :        Sabarlah. Tenangkan hatimu. Sekarang lanjutkanlah.
Bulan                  :        (TERTAWA DENGAN KERAS DAN KEMUDIAN BERTERIAK DENGAN LANTANGNYA). Aku ini memalukan! Memalukan!
(Ricco tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ia benar-benar tidak paham dengan perkataan Bulan. Suasana hening seketika)
Ricco                  :        Saya  benar-benar  tidak  paham  dengan  maksud  kamu. Sebenarnya yang ingin kamu katakan itu apa?
Bulan                  :        Oiya, maaf. Aku terlalu emosi sehingga jadi ngelantur. Aku lanjutkan pembicaraan mengenai diriku yang sempat tertunda karena keegoisannku. (DIAM SEBENTAR, BERPIKIR UNTUK MENDAPATKAN KATA YANG TEPAT). Nah, karena itu, aku sepertinya tidak merasakan keluhan Ibuku itu. Aku memang seperti tak mempunyai perasaan. Aku ini anak yang biadab, tidak tahu malu! Aku saat ini sudah terjebak dalam perangkapku sendiri tanpa bisa keluar walaupun aku sudah berusaha. Namun, sepertinya usahaku sia-sia belaka. Kau tahu itu?
Ricco                  :        (TIDAK TAHAN LAGI). Sudahlah, cukup!! Aku tidak tahu apa-apa. Dan sepertinya rasa penasaranku terhadap dirimu sudah mulai luntur sejalan dengan kecerewetanmu. Aku benar-benar tidak memahami jalan pikiranmu. Kau benar-benar telah membuang waktuku. Lebih baik kita hentikan pembicaraan ini. Aku sudah bosan dan muak dengan semua ini. (BERDIRI, MULAI BERANJAK  PERGI, NAMUN DICEGAT OLEH BULAN)
Bulan                  :        (SAMBIL TANGANNYA MENAHAN KAKI RICCO, IA PUN MULAI BERBICARA). Aku tahu, kau muak denganku. Setiap orang yang bertemu denganku, pasti akan muak. (RICCO MASIH BERDIRI MEMBELAKANGI BULAN). Aku pikir dengan kenalan denganmu, aku bisa mendapatkan teman yang mau diajak berbagi. Tapi, ternyata semua orang sama saja, muak melihatku! (MULAI MENANGIS). Apakah kau keberatan menjadi temanku?
Ricco                  :        (HATINYA MULAI LULUH, KEMBALI DUDUK DI SAMPING BULAN). Aku mau kok jadi temanmu. Mungkin saat ini kamu belum bisa menceritakan siapa dirimu. Tidak apa-apa, aku mafhum. Namun, sepertinya aku tidak bisa terus berada di sampingmu seperti ini. Maafkan aku.
Bulan                  :        Kenapa? Kenapa tidak bisa? Karena kamu muak denganku? Aku mau kok merubah sikapku. (MASIH DENGAN ISAK TANGIS).
Ricco                  :        Bukan, bukan itu. Aku sudah diterima di sebuah PTN di Jakarta. Kau tahu kan maksudku apa? Sebentar lagi aku akan ke Jakarta.
Bulan                  :        Ya, aku mengerti. Kamu akan mengejar cita-citamu. Aku tidak akan mencegahmu sebab ini berhubungan dengan masa depanmu. Aku doakan semoga kamu bisa sukses dan selamat di sana. Kuharap kamu bisa menjadi kebanggan orang tua tidak sepertiku.
Ricco                  :        Amiin.. terima kasih. Aku janji bila ada waktu luang aku akan mampir ke rumahmu. Kau harus menerimaku dengan senang hati. Aku harus pamitan pulang. Sampai jumpa di lain waktu. (BERDIRI MULAI BERANJAK PERGI).
Bulan                  :        (BERDIRI, MENATAP RICCO). Mungkin ini adalah pertemuan pertama dan terakhir buat kita. Kita tidak akan bisa bertemu lagi. (MENANGIS KEMBALI).
Ricco                  :       Maksud kamu?
(Bulan memeluk Ricco yang masih dalam keheran-heranan. Suasana menjadi tenang. Yang terdengar hanyalah suara tangis Bulan. Panggung tiba-tiba gelap seketika. Tirai panggung menutup perlahan disertai alunan melodi yang menyayat hati).

ADEGAN 2 :
(Sebuah panggung yang ditata seperti sebuah ruangan dalam sebuah rumah sederhana. Di dalam ruangan itu terdapat beberapa sofa, di tengahnya ada sebuah meja kecil berbentuk bulat. Di samping sofa terdapat lemari kecil tua yang tingginya sama persis seperti sofa yang di ada di sampingnya. Di atas lemari itu ada beberapa bingkai foto milik si empunya rumah. Di dinding rumah itu, ada sebuah jam dinding tua yang amat besar ukurannya. Itu seperti ruang tamu. Seorang Ibu setengah baya, berumur sekitar 40 tahun sedang duduk di atas sofa sambil membaca koran).
Tok…tok…tok. Assalamu’alaikum…
(Suara orang mengetuk pintu dan memberi salam. Dengan tergopoh-gopoh, Ibu yang duduk di atas sofa bangkit dari tempatnya bergegas membuka pintu. Pintu dIbuka, muncullah seorang pemuda mengenakan kemeja berwarna biru di depan pintu. Si Ibu hanya membuka sedikit pintu rumahnya).
Ibu                      :        Wa’alaikumsalam. Maaf, Anda mau mencari siapa? Perasaan saya tidak mengenal Anda. (MASIH DI BELAKANG PINTU). Ada keperluan apa?
Pemuda (Ricco) :        Maaf, Bu, saya mengganggu Ibu. Apa benar ini rumahnya Bulan? (DENGAN SOPAN BERTANYA KEPADA IBU YANG BERADA DI DEPANNYA).
Ibu                      :        Benar.  Ada  keperluan  apa  ya  dengan  anak  saya?
                                Anda Ini siapanya ya? (MASIH MEMBORONG BERBAGAI PERTANYAAN, BELUM MEMPERSILAHKAN MASUK).
Pemuda (Ricco) :        Saya ini temannya, Bu. Bulannya ada?
Ibu                      :        Benar kamu temannya? (YANG DITANYA HANYA MENGANGGUKKAN  KEPALA). Baiklah, silakan masuk.
(Si Ibu mempersilahkan masuk lalu mempersilahkan duduk. Kemudian ia pun duduk menghadap pemuda itu).
Ibu                      :        Benar  kamu  mengenal  perempuan  ini?  (SAMBIL  MEMPER-LIHATKAN BINGKAI FOTO YANG DIAMBIL DARI ATAS LEMARI KECIL DI SEBELAHNYA).
Pemuda (Ricco) :        Iya, Bu. Kenapa, Bu? Sepertinya Ibu meragukan kejujuran saya.
Ibu                      :        Oh.. tidak apa-apa. (MELONGOK KE DALAM RUMAHNYA). Nanda, tolong ambilkan air minum beserta makanan ringan, ada tamu nih! Cepat ya! (BERTERIAK, MENYURUH ANAKNYA).
Ibu                      :        Oh, ya, nama kamu siapa? Sejak kapan kamu mengenal anak saya dan di mana?
Pemuda (Ricco) :        Nama saya Ricco, Bu. Saya mengenal Bulan dua bulan yang lalu Bu. Kami bertemu di lapangan yang tak jauh dari rumah ini, Bu.
Ibu                      :        Apa?! Dua bulan yang lalu? (TERKEJUT).
(Tiba-tiba masuklah seorang gadis yang umurnya sedikit lebih muda daripada pemuda itu, mungkin dia adik Bulan, ke dalam panggung membawa nampan yang berisikan secangkir teh dan sepiring makanan ringan. Gadis itu meletakkan apa yang dibawanya di atas meja kecil yang ada di depan sofa. Suasana pun sepi seketika. Sejurus kemudian, gadis itu masuk ke dalam rumahnya (keluar panggung).
Ibu                      :        Silahkan diminum dan dimakan, nak. (MEMPERSILAHKAN, SI PEMUDA MENGAMBIL CANGKIR LALU MEMINUMNYA PERLAHAN, KEMUDIAN MELETAKKANNYA KEMBALI DI ATAS MEJA). Ehem, begini nak, Bulan sudah meninggal (SUARA IBU ITU BERAT MENUNJUKKAN KESEDIHAN HATINYA).
Ricco                  :        (KAGET). Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…Kalau boleh saya tahu, meninggalnya karena apa ya, Bu?
Ibu                      :        (MENGHELA NAPAS). Dia meninggal karena over dosis.
Ricco                  :        Apa? Over dosis? Jadi dia…
Ibu                      :        Ya.. dia pecandu. Ini semua benar-benar kesalahan Ibu. Coba kalau Ibu tidak bekerja keras mencari uang, pastilah Ibu bisa memantaunya. Yang dia butuhkan hanyalah kasih sayang. Ya, kasih sayang. (MULAI MENANGIS). Semenjak ayahnya meninggal, Ibulah yang berusaha mencari uang. Ibu bekerja hingga larut malam sehingga Ibu tidak bisa bercerita lagi dengannya. Ibu tidak bisa menasihatinya lagi. Ibu tidak bisa memberi kasih sayang yang ia butuhkan. Ibu… (TERISAK, TIDAK BISA BERKATA).
Ricco                  :        Sabar, Bu. Sabar…
Ibu                      :        Ibu hanya berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak. Ibu pun membebaskan semua anak Ibu untuk berbuat sekehendak hati mereka karena Ibu pikir mereka sudah dewasa, sudah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. (MASIH MENANGIS, RICCO MASIH TERDIAM).
Ibu                      :        Awalnya Ibu tidak tahu kalau Bulan pecandu. Ibu baru tahu ketika itu. Ya, pada hari itu, Bulan pingsan, Ibu lalu membawanya ke rumah sakit, dan dokter menyatakan bahwa dia…dia… (BERHENTI SEJENAK). Dia terkena HIV AIDS. Ibu bingung. Di keluarga Ibu tak ada satupun yang mengidap penyakit itu. Bulan juga tidak pernah mendapatkan transfusi darah. Ibu akhirnya berpikiran negatif, bahwa Bulan penganut seks bebas. Namun, pikiran ibu ternyata keliru. Bulan bisa terkena penyakit itu, karena dia adalah seorang pecandu. Dia memakai jarum suntik beramai-ramai dengan temannya untuk memasukkan serbuk ganja sehingga dia bisa tertular penyakit itu.
(Suasana hening seketika. Si Ibu masih saja menangis, sedangkan Ricco hanya bisa terdiam tanpa bisa berbicara).
Ibu                      :        Kabar pun cepat tersebar, dan dia pun dikeluarkan dari sekolahnya. Padahal dia mau ujian dan sebentar lagi lulus.  Ibu akhirnya mengurung dia di kamar. Kenapa? Karena Ibu malu… Ibu malu sama tetangga. Ibu malu karena Ibu telah gagal mendidik anak. Ibu juga malu kepada almarhum ayahnya. Ibu benar-benar malu. Malu sekali… Malu!! (BERTERIAK HISTERIS).
Ricco                  :        Sabar, Bu. Sabar…
Ibu                      :        Ibu mengurung dia di kamar karena Ibu tidak mau dia diejek oleh anak kecil. Ibu benar-benar mengisolir dia dengan rapat. Apakah perbuatan Ibu salah? Sebenarnya yang salah itu siapa? Ini semua salah Ibu yang gagal mendidik ataukah salah teman-temannya yang menjerumuskannya? Ataukah salah dia yang telah salah memilih tempat pelarian? Atau ini semua karena benda laknat itu? Ayo, coba katakan ini salah siapa? Kenapa kamu masih diam!
Ricco                  :        Saya bingung harus berbicara apa,  Bu. Ibu tenanglah…
Ibu                      :        Ya, Ibu harus tenang. (TERSENYUM SAMBIL MENGHAPUS AIR MATANYA). Sudah, Ibu sudah bisa mengontrol diri. (TERDIAM SESAAT). Dia pun akhirnya bunuh diri dengan cara yang tragis. Over dosis. Benar-benar sangat tragis dan memilukan. (MENGHELA NAPAS KEMBALI, MENCOBA MENGATUR DIRI AGAR TIDAK TERLARUT PERASAAN). Oh ya, Ibu mau bertanya padamu sekali lagi. Benar kamu bertemu dengannya dua bulan yang lalu?
Ricco                  :        Iya,  Bu.  Untuk  apa  saya  berbohong.  Tapi,  sepertinya  Ibu meragukan saya.
Ibu                      :        Bukan. Bukan seperti itu. Tapi…Nanda kemari sebentar!!
(gadis yang dipanggil pun muncul dari dalam rumahnya).
Nanda                :        Ada apa Bu?
(sang Ibu berbisik kepadanya, Nanda pun masuk kembali ke rumahnya namun hanya sebentar. Nanda datang kembali membawa secarik amplop dan memberikannya kepada Ibu. Nanda masuk kembali ke dalam rumahnya.  Sang Ibu membuka amplop itu dan mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya kepada Ricco).
Ibu                      :        Ini. (MENYERAHKAN SECARIK KERTAS KEPADA RICCO). Cobalah kamu baca dengan keras. Ini surat yang ditulisnya, sehari sebelum kematiaannya.
Ricco                  :        Baiklah. (DENGAN RASA TERHERAN-HERAN MENERIMA DAN MEMBUKA KERTAS, MULAI MEMBACA).
                                 Buat Ibu dan adik-adikku. Ibu maafkan aku. Aku benar-benar anak yang tidak berbudi.   Aku  sudah  mengecewakan  Ibu  dan membuat Ibu malu. Aku sudah menyalahkan arti kebebasan yang Ibu berikan kepadaku. Aku juga tidak bisa menjadi kakak yang baik. Maafkan aku ya adik-adikku. Aku benar-benar sudah terjerembab ke dalam lembah kenistaan. Jangan meniruku ya.
(Ibu menangis, Ricco berhenti membaca).
Ibu                      :        Tidak apa-apa. Teruskanlah…
Ricco                  :        (MULAI MEMBACA KEMBALI).
                                 Ibu, aku mau jujur. Sebenarnya  yang  selama  ini  mengambil uang Ibu adalah aku. Aku mengambilnya untuk membeli barang haram yang merusak tubuhku itu. Aku benar-benar menyedihkan. Aku seharusnya mengerti kesusahan Ibu dan membantu Ibu bukannya malah membuat Ibu kesusahan dengan mencuri uang Ibu. Aku benar-benar minta maaf. Waktu itu, aku tidak memikirkannya. Yang aku pikirkan hanyalah kesenangan sesaat yang berujung kepahitan. Karena aku pikir Ibu sudah tidak menyayangiku lagi seperti dahulu. Aku salah. Sekarang aku mengerti arti penyesalan. Dan ternyata benar kata pepatah kalau penyesalan akan datang terlambat. Namun aku sudah berusaha untuk tidak menyesali perbuatanku.
                                 Ibu sekarang aku hanya menjadi beban buat Ibu. Menjadi sampah masyarakat. Menjadi orang yang terikat. Menjadi orang yang terbuang dan tidak berguna. Hmm.. Tapi itu memang karena kesalahanku sendiri. Iya kan, Bu? Jadi, aku tidak perlu menyalahkan keadaan. Aku juga tidak perlu menyesali semua ini. Karena ini yang aku mau. Aku akan tersenyum, tersenyum buat Ibu.
                                 Ibu, sekarang aku akan mengakhiri semua ini. Supaya tidak menjadi beban buat Ibu. Supaya tidak lagi membuat Ibu malu. Maafkan aku, Ibu. Maafkan aku adik-adikku. Aku sayang kalian semua. Selamat tinggal. Terima kasih karena kalian semua mau menyayangiku. Biarkan aku pergi. Dan aku benar-benar tidak menyesali semua ini. Karena inilah yang aku mau. Beginilah nasibku.
                                 Sekali lagi maafkan aku, Ibu. Terima kasih karena engkau mau membesarkanku dan merawatku.
                                    Dari anakmu yang selalu menyusahkanmu, Bulan. Tiga Maret dua ribe delapan.
Ricco                  :        (TERKEJUT, MENGULANGI MEMBACA BAGIAN AKHIR). Tiga Maret dua ribe delapan. Jadi… Dia sudah meninggal lima bulan yang lalu?
Ibu                      :        Iya, benar, dia meninggal lima bulan yang lalu. Maka dari itu saya bingung waktu kamu menyebutkan bahwa kamu bertemu dengannya dua bulan yang lalu. Mana mungkin dia bertemu denganmu, sedangkan dia sudah tiada.
Ricco                  :        Tapi, saya benar-benar bertemu dengannya. Kalau orang yang aku temui bukan dia, lalu siapakah dia… Atau mungkin itu adalah…
Ibu                      :        Arwahnya.  Entahlah… Itu mungkin.  Namun, aku tidak  benar-benar mempercayainya.
(suasana sepi, sunyi seketika. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Mereka lelah memikirkannya. Hal yang sangat sulit diterima oleh akal. Panggung menjadi gelap tirai menutup seketika).

ADEGAN 3 :
(Tirai panggung terbuka namun panggung masih gelap. Lampu tiba-tiba menyala dan menyorot sedikit seorang gadis yang memakai baju putih berambut panjang terurai. Di belakang gadis itu tampaklah bulan purnama yang tampak jelas sinarnya. Si gadis hanya tersenyum, senyum kepahitan. Lampu panggung tiba-tiba meredup, makin meredup hingga yang nampak hanyalah kegelapan. Tirai panggung menutup).


~Ditulis tahun 2008 waktu saya masih memakai seragam putih abu-abu ^^

0 komentar:

Posting Komentar