Rabu, 25 Desember 2024

Curahan hati tanpa judul

Sepenggal kisah

Kadang aku tak mengerti

Tingkah mu selalu berubah-ubah

Sedetik kamu sepertinya menyukaiku

Namun detik berikutnya kamu sepertinya tidak menyukaiku

Apa yang ada dibenakmu?

Aku tak pernah paham

Kau membuatku bingung

Kau gengsi dan aku pun begitu

Kalau kau suka katakanlah

Pun sama halnya jikalau sebaliknya

Jangan membuatku ragu dan bimbang

Perbedaan ini sangat menyakiti perasaanku

Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk menghilangkan perasaan ini

Tapi kenapa perasaan ini makin tumbuh?

Kenapa Tuhan tidak mengabulkan doaku?

Aku mencoba berpikir logika dengan akal sehatku

Dan membangun tembok yang sangat tinggi

Dengan alasan untuk melindungi hatiku

Agar tidak merasakan sakit ke sekian kalinya

Kala itu

Mencoba hubungan yang serius, tapi

Sakit karena impianku tidak didukung

Sakit karena tidak diterima dengan alasan perbedaan suku

Sudah cukup

Sudah lelah

Semoga aku bertemu dengan seseorang yang benar-benar mencintaiku seorang

Dan tulus menjalani hari

Bersamaku…

Memperjuangkanku….

Siapakah yang akan aku izinkan untuk aku beri kuci membuka tembok ini?


Rabu, 03 Maret 2021

Moment To Remeber: Trip For Attending International Congress in Malaysia 2014

Kegiatan ini dilakukan dengan mengikuti 15th Asia-Pacific Congress of Clinical Microbiology and Infection (15th APCCMI) sebagai listener di Sunway Pyramid Convention Centre, Kuala Lumpur-Malaysia.
Hari pertama (26/11/2014) kami (Ayu Fitri Izaki, Nilam Puspa Ruspatti dan Nadia Fitriana) berangkat pukul 21.00 WIB dari bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta dengan menggunakan pesawat dengan maskapai Lion Air. Kami tiba di bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pukul 23.55 waktu Malaysia. Kami makan malam terlebih dahulu di restoran di dalam bandara (Uncle-K). setelah itu, kami menunggu waktu subuh di bandara.
Setelah menunaikan shalat subuh di hari kedua (27/11), kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi konferensi di daerah Sunway Lagoon menggunakan taksi seharga 63,8 RM. Kami pun memesan kamar hotel murah (City View Hotel) di sekitar daerah konferensi tersebut dengan harga 130 RM. Pukul 09.00 waktu Malaysia kami menuju Sunway Convention Centre untuk mengikuti konferensi (One Day Pass 27/11/2014)  dan melihat poster yang ada di tempat tersebut. Kami makan siang dan sholat dzuhur pukul 12.30-14.00 waktu Malaysia. Setelah konferensi selesai, sorenya (pukul 16.00), kami melanjutkan perjalanan wisata ke Kotaraya dan pulang sampai ke hotel pukul 19.30. Kami pun beristirahat dan bermalam di hotel.
Hari ketiga (28/11) setelah sarapan pagi, kami langsung berangkat menuju bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) untuk pulang ke tanah air (pukul 08.30) dengan menggunakan taksi. Penerbangan kami dengan menggunakan maskapai Malindo Air. Kami take off pada pukul 11.25 waktu Malaysia dan tiba di bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta pukul 12.30 waktu Indonesia.
Perjalanan kami ke Kuala Lumpur dan mengikuti konferensi sangat luar biasa. Berikut ilmu yang kami dapat dari mengikuti konferensi tersebut:
Global efforts in antibiotic stewardship - the BIG picture
Oleh : Victor Lim, Malaysia
            Pengelolaan antibiotic (antibiotic stewardship) merupakan upaya multidisiplin untuk mengurangi resistensi antimikroba dalam patogen manusia, ketika pengembangan obat masa depan berkurang. Strategi ini mendorong staf kesehatan untuk menggunakan antimikroba secara hati-hati dan, bila diperlukan, untuk durasi pendek dan dengan spektrum sesempit mungkin. Penemuan antibiotik adalah salah satu peristiwa yang paling signifikan dalam sejarah medis. Antibiotik, antivirus dan antijamur benar-benar berubah obat dalam Abad ke-20. Obat ini memungkinkan obat modern untuk berkembang, dan mengurangi morbiditas dan mortalitas manusia dari infeksi secara signifikan.
            Pengelolaan antimikroba sering dianggap sebagai konsep baru, akibat dari meningkatnya resistensi dan kekhawatiran atas -kesehatan terkait infeksi (HAI), tapi tanggal asalnya adalah di  tahun 1970-an. Bahkan, unsur-unsur tertentu telah hadir sejak awal. Pada tahun 1946, Alexander Fleming menulis bahwa penisilin seharusnya hanya digunakan dalam kasus di mana suatu organisme rentan, dan harus diberikan oleh rute yang tepat, dalam dosis yang memadai, untuk jangka waktu yang tepat.
            Penyakit tidak lagi tantangan besar. Optimisme ini segera terlihat tidak berdasar
karena berbagai alasan termasuk munculnya resistensi antibiotic. Resistensi antibiotik merupakan tantangan di seluruh dunia besar. Hal ini terjadi dalam organisme gram positif gram dan  juga negatif dan dalam perawatan kesehatan terkait serta infeksi didapat di masyarakat. Resistensi antibiotik dan ketidakmampuan untuk mengobati infeksi sekarang dianggap sebagai krisis global. Perlawanan bukanlah hal baru. Perlawanan mendahului penggunaan klinis dari antibiotics.
            Tantangan penelitian di masa depan: tidak perlu ada penemuan baru mengenai sumberdaya untuk pembuatan antibiotic (discovery new antibiotics). Penelitian di masa depan diharapkan dapat mengontrol pembuatan antibiotic agar efektif dan efisien bekerja dalam tubuh manusia.
What is new in clinical microbiology?
Oleh: Patrick Murray, USA
Sangat jarang bahwa teknologi fundamental dapat menetapkan dengan baik metode pengujian diagnostik, tapi itu justru penggunaan matriks-dibantu laser yang desorpsi / ionisasi waktu-of-flight (MALDI-TOF) spektrometri massa (MS) telah dilakukan di Eropa, di mana ia banyak digunakan untuk identifikasi bakteri, mikobakteri, dan jamur. Selama > 100 tahun, mikroba yang ditandai dengan properti biokimia  yaitu, kemampuan organisme untuk menggunakan berbagai substrat untuk pertumbuhan dan aktivitas metabolik.
Dalam 20 tahun terakhir penggunaan sequencing gen teknik yang ditargetkan gen RNA ribosom dan berbagai gen housekeeping diizinkan identifikasi organisme yang lebih tepat tetapi pada teknis yang signifikan dan biaya keuangan. Teknik-teknik ini tidak praktis untuk identifikasi rutin organism. Namun, mereka berguna untuk identifikasi bakteri terisolasi luar biasa dan jamur. Memang, kombinasi gen sequencing
dan tes biokimia telah terbukti berharga bagi identifikasi organisme yang tepat, digunakan untuk membangun database untuk MALDI-TOF MS.
Pada tahun 1975, Anhalt dan Fenselau menjelaskan penggunaan biomarker
terdeteksi dengan spektrometri massa untuk identifikasi bakteri. Meskipun janji pekerjaan ini dan pengembangan kemajuan signifikan dalam spesimen bioinformatika selama 25 tahun ke depan, penerapan teknologi ini oleh laboratorium klinis terjadi perlahan-lahan. Awal studi ditargetkan analisis asam lemak polar yang terdiri 5% sampai 8% dari berat sel kering bakteri, sedangkan penelitian yang lebih baru difokuskan pada analisis dasar protein, terutama di kisaran 2.000 sampai 20.000 Da
(60% sampai 70% dari berat sel kering bakteri). Pada tahun 1994, Kain et al  melaporkan bahwa MALDI-TOF MS dapat digunakan untuk membedakan bakteri dipilih oleh analisis profil protein dari sel terganggu. Dua tahun kemudian, Claydon et al, Holland et al,  dan Krishnamurthy et al. menunjukkan kelayakan pengolahan sel bakteri utuh. Kerja ini diperpanjang untuk sel eukariotik pada tahun 2000 dan 2001, ketika peneliti melaporkan bahwa seluruh sel-sel jamur bisa juga diidentifikasi menggunakan MALDI-TOF MS.


Kamis, 23 Juli 2020

"Titik.
Dapat mengakhiri kalimat.
Dapat mengakhiri pembicaraan.
Dapat mengakhiri persahabatan.
Dapat mengakhiri percintaan.
Namun
Keluarga tak dapat berakhir.
Keluarga adalah keluarga. .......
Dan titik."

"Dot (.)
Can end the statement
Can end the conversation
Can end the friendship
Can end the love life
But
Can't end the family
Family is family
And dot"

Love my family~♥♥

Jumat, 12 Agustus 2016

Kamis, 11 Agustus 2016

NASI KECAP DI TAHUN 1999: Catatan Kecil Perenungan Kerusuhan Ambon

Oleh: Ayu F Izaki
Sarapan pagi selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan. Betapa tidak, selain disinyalir bermanfaat untuk kesehatan, juga momen yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga, walaupun hanya dengan makanan yang sederhana. Seperti sarapan saya kali ini yakni nasi telur kecap. Bicara soal nasi kecap, saya teringat suatu momen bersejarah yang pernah saya alami sewaktu kecil. Sewaktu saya masih mengenakan seragam merah putih. Kala itu saya berada di Masjid Al Fatah, tempat para pengungsi. Ya, di sanalah saya makan nasi kecap tanpa lauk dan sayur bersama para pengungsi lainnya, ditemani suara hiruk pikuk tembakan dan bom yang saling bersahutan. Kejadian bersejarah dalam hidup saya itu adalah Kerusuhan Ambon di tahun 1999. Mungkin saat ini lagi marak isu yang membahas kudeta militer di Turki, namun saya tetap ingin mengenang sekaligus merenung momen paling luar biasa dalam hidup saya ini.
Tanggal 19 Januari 1999, bertepatan dengan hari raya idul fitri, meletuslah awal mula kerusuhan Ambon, yang sering disebut dengan Tragedi Idul Fitri Berdarah1. Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum peristiwa Idul Fitri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 19951. Apalagi situasi Indonesia kala itu memang lagi puncaknya memanas, ditandai dengan adanya kerusuhan Mei 1998, yang membuat ekonomi kian terpuruk dan harga melambung tinggi. Ketika harga semangkuk bakso yang bermula hanya Rp 500 saja, kemudian naik 10 kali lipat menjadi Rp 5.000. Sungguh kondisi Indonesia saat itu sangat memprihatinkan. Situasi kerusuhan 1998 ini, menurut saya, ikut andil memicu kerusuhan Ambon 1999. Dimana akibat kondisi yang kacau, orang-orang gampang terbawa emosi.
Kembali pada kerusuhan Ambon, saya yang kala itu masih sangat kecil, tidak tahu menahu apa yang menyebabkan tragedi ini menguak. Ada yang menduga awal mula kerusuhan ini hanya karena masalah kecil, bentrok warga. Pada tanggal 19 Januari 1999 terjadi suatu pertikaian antara seorang supir angkot dengan seorang preman di terminal bis Batumerah2.  Selain itu, sebagian besar orang berpendapat bahwa agama sebagai penyebab timbulnya konflik ini, bahkan dengan dibumbui isu politik. Pada era kolonial Belanda, kaum Kristen Maluku memiliki banyak keistimewaan dalam birokrat dan militer, namun keadaan ini menjadi terbalik ketika bangsa Indonesia telah merdeka. Kaum Islam kemudian bisa menguasai birokrasi yang dulu dikuasai oleh kaum Kristen2. Hal inilah yang dianggap sebagian besar orang memicu konflik disana-sini. Kerena sebagaian orang berpendapat bahwa agama sebagai penyebab timbulnya konflik ini, maka para ahli berlomba-lomba untuk mengkaji dan menguak kebenaran asal muasal konflik ini.
Entah yang mana kebenarannya, belum bisa dipastikan. Apalagi ini sangat erat kaitannya dengan SARA. Saya tidak akan berpanjang lebar menduga apa yang menjadi penyebab konflik ini. Karena yang ingin saya tulis adalah sebuah perenungan akan apa hikmah yang bisa diambil menurut saya sebagai mantan pengungsi ini. Mungkin berikut ini catatan kecil akan hikmah kerusuhan Ambon 1999 yang bisa saya rasakan:
1. Selalu mengingat Allah berdzikir dan berdoa
Walau saya kala itu masih berumur kurang dari 7 tahun, tetapi suara tembakan dan ledakan bom yang melanda, menumbuhkan rasa ketakutan. Ibu tidak henti-hentinya menyuruh kami (anak-anaknya) untuk senantiasa berdoa. Mengharap  agar kerusuhan ini berakhir dengan damai.
2. Selalu bersyukur
Mencari tempat yang nyaman kala itu susah sekali. Banyak bangunan runtuh dan pecah. Bangunan runtuh itu bisa disebabkan lemparan batu, tembakan pistol, terbakar, bahkan ledakan bom. Rumah kontrakan kami dilempari batu dan dibakar sehingga kaca jendela pecah, dan bangunan pun hangus oleh api yang menjalar. Masih terasa dalam ingatan bahwa berpindah-pindah untuk mencari tempat yang nyaman pun menjadi suatu keharusan yang mutlak. Dari  mengungsi di suatu pabrik hingga di suatu masjid paling besar di kota Ambon, Masjid Raya Al Fatah. Ibu yang bersusah payah membawa baju dan barang berharga selalu tak pernah mau melepaskan pegangan tangannya ke kami, anak-anaknya. Karena situasi tidak menentu, rasa syukur langsung terpatri di hati kami. Bersyukur karena bisa tidur ditempat yang nyaman dari rasa takut walaupun harus berdesakan dengan yang lain, bersyukur masih bisa makan walau hanya dengan nasi kecap (catat: tanpa lauk dan sayur), bersyukur bisa kembali ke tanah Jawa dengan menumpangi kapal yang susah sekali didapat, bahkan setelah akhirnya bisa terbebas dari tragedi ini, bersyukur karena ada sekolah yang mau menerima padahal kami tidak memiliki rapot karena gedung sekolah kami terbakar.
Masih melekat dalam ingatan, dulu ayah memelihara burung kakaktua, sewaktu kami mengungsi kami tidak terpikirkan membawa burung itu bersama kami. Ketika mendengar bahwa rumah kontrakan terbakar, kami pun langsung sedih karena burung kakaktua itu masih di dalam rumah. Namun, beberapa hari kemudian, ketika ayah melihat keadaan rumah, sambil berharap masih ada barang yang bisa dibawa, ternyata dengan kekuasaan Allah burung itu masih hidup, padahal rumah kontrakan itu hangus terbakar. Subhanallah.
3. Menumbuhkan sikap saling berbagi
Karena masjid Al Fatah, yang menjadi tempat kami meneduhkan diri dari rasa tidak aman, itu sangatlah luas namun pengungsi yang mendiami juga tak kalah banyaknya, kami harus selalu siap untuk berbagi tempat tidur dengan yang lain, berbagi makanan, dan berbagi kamar mandi. Yah kami tidak boleh berlama-lama mandi, karena pasti ada antrian di depan pintu. Kami juga harus menghemat air. Oleh karena itu, kalau keramas atau buang air besar kami selalu khawatir, bagaimana kalau airnya mati di tengah jalan? Hehe.
4. Bersabar
Kami dituntut agar selalu bersabar. Bersabar karena tidur kami pasti tidak akan nyenyak. Bersabar untuk mendapat jatah hajat dan pangan. Bersabar agar malapetaka ketakutan ini segera berakhir. Bahkan setelah kami tiba di Jawa, bersabar untuk menghadapi puluhan pertanyaan saudara-saudara kami yang khawatir. Pernah suatu ketika, saudaraku menunjukkan sebuah koran kepada ibukku. Koran itu berisi berita tentang kerusuhan Ambon. Bukan koran itu yang menarik, tapi foto besar yang terpampang di bawah judul headline artikel tersebut. Ya, di foto itu ada gambar ibu, saya, kakak dan adikku. Kami diliput media massa. Entah harus  senang ataupun sedih.
Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu [QS. AL Baqarah (2): 153]
Akhirnya dengan seluruh kesabaran dan harapan, di tahun 1999 itu juga kami bisa terbebas dari kerusuhan ini dan kembali ke kampung halaman di Jawa. Ada rasa haru dan penuh syukur yang menyeruak di dada. Kami masih mendengar kabar di berbagai media massa kerusuhan masih berlanjut hingga di tahun 2002, hingga berdamai ditandai dengan pertemuan perdamaian yang menghasilkan Perjanjian Malino II sebagai konsensus kesepakatan perdamaian di Maluku.
Note:
1Kronologi Tragedi Ambon-Maluku Berdarah. www.adriandw.com/peristiwa_ambon.htm
2Konflik Maluku Tahun 1999-2002. wiwikpramudya.blogspot.co.id/2014/06/konflik-maluku-tahun-1999-2002.html