Oleh: Ayu Fitri Izaki
A. Potret Kemiskinan di
Indonesia
Direktorat Bantuan dan Jaminan Sosial,
Departemen Sosial, menyebutkan angka 35,1 juta atau sekitar 15,97 persen
rata-rata jumlah penduduk miskin Indonesia tahun 2005. Angka itu menigkat
menjadi 17,75 persen atau sekitar 39,05 juta penduduk miskin tahun 2006 dengan
pendapatan 1,55 dollar AS per hari, berdasarkan Laporan Badan Pusat Statistik
(BPS) bulan September 2006. Mengutip data Bank Dunia menyebutkan bahwa jumlah
penduduk miskin di Indonesia tahun 2006 sebanyak 108,78 juta orang atau 49
persen dari jumlah total penduduk 210 juta orang, dengan pendapatan kurang dari
2 dollar per hari atau sekitar Rp 19.000 per hari. Sementara itu, per Maret
2007, BPS menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 39,30 juta
orang. Pada Juli 2007, berkurang menjadi 37,17 juta orang. Menurut Laporan BPS,
kategori penduduk miskin adalah mereka yang pendapatannya di bawah Rp166.697
per bulan. (Kompas, Senin, 23 Juli
2007).
Selain itu, dari 70.611 desa di Indonesia ,
32.379 dinyatakan tertinggal. Provinsi Papua menempati peringkat pertama desa
tertinggal. Di Papua, 82,38 persen desa di sana tertinggal. Dari 2.179 desa di Papua,
1.795 desa dinyatakan tertinggal. Jika dilihat dari segi kuantitas maka daerah
yang paling banyak memiliki desa tertinggal yaitu Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Provinsi Jatim adalah di urutan teratas sebagai daerah yang memiliki desa
tertinggal yaitu terdapat 3.668 desa tertingggal dari 8.447 desa. Jadi
persentase desa tertinggal Jatim yaitu 43,3 persen. Di Jawa Tengah, dari 8.564
desa, 3.467 di antaranya tertinggal. Secara persentase, desa tertinggal di
Jateng lebih kecil dibanding Jatim, yakni 40-48 persen (Suara Merdeka, Kamis, 24 Mei 2007).
Potret desa tertinggal tidak hanya
terjadi di daerah yang tersebut di atas. Di Jakarta juga terdapat desa
tertinggal. Di Provinsi DKI Jakarta, ada 9 desa tertinggal, 6 di antaranya di
Pulau Seribu dan 3 lainnya berada di Kecamatan Tebet (desa Manggarai dan
Manggarai Selatan, Jakarta Selatan), dan Jakarta Timur berada di desa Setu,
Kecamatan Cipayung (Suara Merdeka,
Kamis, 24 Mei 2007).
Dari angka penduduk miskin dan desa
tertinggal di stas, jelaslah terlihat bahwa Indonesia memiliki potret ekonomi
yang buruk. Kemiskinan sudah merajalela. Bak syndrome yang akut, kemiskinan juga sangat susah untuk disembuhkan.
Pemerintah juga seakan tidak berdaya dengan situasi ini. Kejadian pahit masa
silam mungkin dapat terulang kembali bila pemerintah tidak serius menangani
masalah kemiskinan ini.
B. Faktor-faktor Penyebab
Kemiskinan di Indonesia
Sebenarnya, ada banyak alasan mengapa
kemiskinan cepat sekali tumbuh dan berkembang di Indonesia . Antara lain sebagai
berikut :
1.
Ledakan penduduk.
2.
Membludaknya harga kebutuhan
pokok.
Harga minyak mentah (crude oil) dunia saat
ini di atas 100 dollar AS per barel. Kenaikan tersebut menyebabkan harga
pangan, utamanya beras, di pasar internasional naik menjadi 700 dollar AS per
ton. Bahkan di pasar Asia menembus 745 dollar
AS per ton. Harga komoditi lain seperti minyak nabati, kacang-kacangan, dan
gula ikut terdongkrak (Suara Merdeka, Selasa, 8 April 2008). Kenaikan harga
kebutuhan pokok di pasar internasional, menyebabkan harga kebutuhan pokok dalam
negeri juga ikutan naik. Masyarakat pun seakan pasrah dengan kenyataan ini.
3.
Sempitnya lapangan kerja,
sehingga menyebabkan banyaknya pengangguran, pengemis, dan gelandangan.
4.
Rendahnya SDM sehingga mengakibatkan
manusia tidak dapat memberdayakan SDA yang ada.
5.
Rendahnya upah para pekerja
disebabkan rendahnya tingkat pendidikan.
6.
Meningkatnya laju urbanisasi
(khususnya ke kota Jakarta )
Urbanisasi kaum lelaki ke kota tidak memberikan jaminan pengiriman uang
secara teratur kepada istri mereka di desa.
7.
Akibat dari krisis
financial-moneter yang terjadi pada tahun 1997 yang merambah menjadi krisis
multidimensional, sehingga Indonesia
sampai saat ini masih mengalami kemiskinan.
8.
Banyaknya kasus KKN yang
dilakukan para pejabat negara yang merugikan rakyat kecil. Juga adanya kelembekan (leniency) dan sikap serba memudahkan (easy going) dalam pengelolaan pemerintahan negara.
Louis Kraar, seorang pengamat
negara-negara industri baru di Asia Timur, pada tahun 1988 sudah meramalkan
bahwa Indonesia dalam 20 tahun akan menjadi halaman belakang (back yard) Asia Timur, ditinggalkan oleh
negara-negara tetangganya yag berkembang menjadi negara maju, disebabkan etos
kerja yang lembek dan korupsi yang gawat (Lousy
work ethics and serious corruption).
C. Dampak Kemiskinan di
Indonesia
Berikut ini akan diuraikan akibat
dari kemiskinan. Antara lain sebagai berikut:
1.
Memicu berbagai tindak kriminal
seperti pencurian, perampokan, penculikan anak, penipuan dan sebagainya.
2.
Kasus gizi buruk dan busung
lapar pada anak-anak dan balita.
3.
Banyaknya pengangguran,
pengemis, pengamen, gelandangan, pelacur, dsb, yang membuat kota menjadi tidak tertib.
4.
Banyaknya anak-anak yang putus
sekolah sehingga, menambah angka kebodohan.
5.
Adanya kasus bunuh diri
dikarenakan tidak dapat membiayai keperluan hidup.
6.
Angka kematian meningkat akibat
sulitnya berobat dan kasus bunuh diri.
7.
Masyarakat berlomba-lomba
menjadi TKI dan TKW.
Kemiskinan mendorong mereka berangkat
ke luar negeri menjadi TKI/TKW untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Dewasa
ini, banyak sekali kasus penganiayaan, pembunuhan, dan pemerkosaan yang
dilakukan majikan kepada TKW, karena TKW dianggap tidak becus dalam menjalankan
tugas.
8.
Masyarakat menempati daerah
yang tidak layak huni (kumuh) sehingga mengakibatkan mudahnya terkena penyakit.
D. Solusi Mengatasi
Kemiskinan di Indonesia
Budaya
kemiskinan di Indonesia
dapat diberantas dengan cara menghindari apa yang menjadi faktor penyebabnya,
antara lain :
1.
Menekan laju pertumbuhan
penduduk dengan menggalakkan program KB untuk membatasi jumlah anak dalam suatu
keluarga secara umum dan massal, serta menunda masa perkawinan agar dapat
mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi (Suara Merdeka, Selasa, 4 Maret 2008).
2.
Mengadakan transmigrasi.
Pemerintah telah menawarkan program
transmigrasi khusus kepada masyarakat miskin yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya. Peserta program
transmigrasi akan diberikan rumah ukuran 36 meter persegi berhalaman seluas 500
meter persegi, lahan pertanian 2 hektar, dan biaya hidup selama dua tahun.
Pemerintah berencana membangun tujuh kota
terpadu mandiri (KTM) berbasis agroindustri, sehingga peserta transmigrasi
harus merupakan orang yang benar-benar mampu bertani. (Kompas, Rabu, 2 Oktober 2007)
3.
Mengurangi laju urbanisasi
(khususnya ke kota Jakarta ).
Salah satu alternatif untuk mengurangi
laju urbanisai adalah menggalakkan Gerakan Bangga Suka Desa.
Untuk mendukung Gerakan Bangga Suka
Desa, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.
Pengembangan kegiatan ekonomi
produktif:
·
Latihan Keterampilan.
·
Bimbingan Kewirausahaan.
·
Bantuan Permodalan.
·
Bimbingan Pemasaran
b.
Penggalangan tabungan dan
sumbangan masyarakat untuk membangun desa melalui Takesra (Tabungan Keluarga Sejahtera) dan Kukesra (Kredit Usaha Keluarga Sejahtera):
·
Kampanye gerakan cinta desa
dengan melibatkan paguyuban masyarakat daerah yang tinggal di kota .
·
Kampanye penggunaan jasa bank
untuk pengiriman uang ke desa dan pengembangan kegiatan ekonomi produktif.
·
Penyelenggaraan lelang
kepedulian untuk mendukung pembangunan keluarga di desa.
c.
Pengembangan fasilitas ekonomi
pedesaan:
·
Penyelenggaraan pasar minggon.
·
Pengembangan kios telepon.
·
Pengembangan salon kecantikan
desa.
·
Pengembangankegiatan pelayanan
jasa.
d.
Dukungan dan pengembangan
peluang pasar:
·
Pameran potensi desa.
·
Temu pengusaha.
·
Pengembangan kerjasama
kemitraan pengusaha yang mampu dengan keluarga di desa.
4.
Memperluas peluang kesempatan
kerja.
5.
Meningkatkan produksi pangan
dengan membangun produktivitas pertanian.
Seluruh elemen moneter dan finansial
sangat terkait dengan pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian harus
berorientasikan komoditi ekspor sebab
negara akan diuntungkan dengan nilai tukar mata uang asing yang tinggi.
6.
Meningkatkan sumber daya
manusia dengan cara memberikan atau mengajarkan keterampilan kepada masyarakat,
meningkatkan mutu pendidikan, memberikan beasiswa bagi mereka yang tidak mampu,
dll.
Meningkatkan SDM merupakan solusi
mengurangi kemiskinan yang tepat. Sebab dengan tingginya tingkat SDM, penduduk
miskin akan mampu menguasai faktor-faktor produksi yang diperlukannya dalam
meningkatkan taraf hidupnya.
7.
Memberdayakan sumber daya alam
dengan baik. Jangan serahkan
pemberdayaan sumber daya alam kita kepada negara luar!
8.
Memberikan bantuan modal bagi
industri kecil dan menengah.
9.
Meningkatkan sektor pariwisata
dan kebudayaan agar dapat menambah valuta asing dan devisa negara.
10.
Melaksanakan program yang
memacu pembangunan pedesaan yaitu Program Pembangunan Desa Tertinggal (P3DT)
yang merupakan salah satu penjabaran program penanggulangan kemiskinan (Inpres
No.4 Th 1993) dan Pembangunan Keluarga Sejahtera Di Desa Tidak Teringgal. Gerakan
Bangga Suka Desa juga merupakan upaya membangun desa.
11.
Pemberantasan korupsi serta
wujudkan good governance. (pengelolaan
negara yang baik).
Untuk
memberantas korupsi yang merajalela, pemerintah telah membentuk Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Diharapkan dengan adanya KPK ini, pemerintah dapat
mewujudkan keadilan di negara ini.
Mengatasi ledakan penduduk
adalah solusi mengatasi kemiskinan yang paling utama yang harus dilakukan
pemerintah. Memang, bagi pemerintah, mengatasi ledakan penduduk bukanlah
persoalan baru. Pemerintah pernah berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk
dengan hasil sangat memuaskan (zaman Orde Baru). Pada saat yang sama, swasembada pangan pun
pernah berhasil dicapai, sehingga tercapailah keseimbangan antara tingkat pertumbuhan
populasi dan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan.
Pemerintahan saat ini tidak
perlu ragu dan malu untuk belajar dan mengulang kisah sukses pemerintahan
sebelumnya. Bila perlu, lakukan saja cara yang sama, dengan progaram yang
sesuai dengan kondisi saat ini. Pemerintah daerah dan masyarakat harus
mempunyai kesadaran untuk mendukung program pemerintah pusat. Pemerintah yang
tidak becus mengendalikan ledakan penduduk adalah cermin tiadanya visi
membangun masa depan bangsa.
Berbicara
tentang penduduk, Thomas Robert Malthus (1766-1834), seorang ahli
ekonomi-sosial berkebangsaan Inggris mengemukakan teori masalah kependudukan.
Teorinya adalah bahwa bertambahnya jumlah penduduk itu seperti deret ukur (1,2,4,8,16,…),
sedangkan bertambahnya jumlah produksi makanan itu seperti deret hitung
(1,2,3,4,5,6,…). Teori Malthus tersebut tentu akan sangat mengkhawatirkan di
masa depan, sebab kita akan kekurangan stok makanan. Oleh karena itu, perlu ada
upaya-upaya untuk mengurangi jumlah penduduk atau meningkatkan produksi pangan.
(Suara Merdeka, Kamis, 24 Mei 2007).
Beralih
kepada kemiskinan. Kemiskinan merupakan kerusakan akibat dari krisis
finansial-moneter yang merambah menjadi krisis multidimensional.
Menurut
Nurcholish Madjid (2004:113), menyebutkan :
Kerusakan yang dimulai dengan krisis
finansial-moneter, seperti pada banyak negara yang juga mengalaminya,
seharusnya dapat dibatasi hanya sebagai krisis pada suatu bagian tertentu dari
ekonomi nasional. Tetapi sumbernya tidak hanya dalam bidang finansial-moneter
semata, melainkan dalam pengelolaan yang buruk (weak governance) dalam urusan pemerintahan dan kekuasaan, sehingga
krisis tersebut merambah dan meliputi semua segi kehidupan bangsa.
Melihat situasi krisis
multidimensional saat ini, maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk
mendewasakan diri, sehingga mampu mengakhiri krisis-krisis yang terjadi dengan
mulai membangun kembali negara dengan mempergunakan aset-aset yang telah
tersedia. Dengan latar belakang keadaan yang kita alami saat ini, untuk memulai
pembangunan kembali bangsa dan negara diperlukan beberapa agenda dasar atau
platform yang sifatnya mendesak.
Menurut Nurcholish Madjid,
dalam bukunya Indonesia Kita,
platform membangun kembali bangsa Indonesia adalah sebagai berikut:
1.
Mewujudkan good governance pada semua lapisan pengelolaan negara.
2.
Menegakkan supremasi hukum
dengan konsisten dan konsekuen.
3.
Melaksanakan Rekonsiliasi
Nasional:
a.
Menarik pelajaran pahit masa lalu dengan tekad
tidak mengulanginya.
b. Menatap masa depan
dengan pendamaian dan
penyatuan seluruh
kekuatan bangsa.
c.
Menegaskan garis pemisah antara masa lalu dan
masa mendatang.
4.
Merintis Reformasi Ekonomi
dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah
5.
Mengembangkan dan memperkuat
pranata-pranata demokrasi: kebebasan sipil (khususnya kebebasan pers dan
akademik), pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintahan,
perwakilan, dan pengadilan.
6.
Meningkatkan ketahanan dan
keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat personel pranata TNI dan
Polri dalam bingkai demokrasi.
7.
Memelihara keutuhan wilayah
negara melalui pendekatan budaya, peneguhan, ke-Bhineka-an dan ke-Eka-an, serta
pembangunan otonomisasi.
8.
Meratakan dan meningkatkan mutu
pendidikan di seluruh Nusantara.
9.
Mewujudkan Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia
sebagai tujuan bernegara.
10.
Mengambil peran aktif dalam
usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.
Solusi-solusi mengatasi kemiskinan di atas merupakan sedikit dari
banyaknya solusi yang ada. Tergantung bagaimana kebijakan pemerintah mengatasi
kemiskinan. Kemiskinan akan terhapus apabila pemerintah bersikap bijak dan
tegas dalam mengupayakan penghapusan kemiskinan. Oleh karena itu, diperlukan
keseriusan pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan ini.
Selain itu, mengatasi kemiskinan
diperlukan adanya kerjasama antara enam Kementerian atau Departemen yaitu
Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan,
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pembangunan Desa
Tertinggal, dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Juga
diperlukan kesadaran masyarakat untuk mendukung program pemerintah. Niat yang
ikhlas juga diperlukan untuk membangun kembali negara agar dapat terbebas dari belenggu
keterpurukan.
<Nb: Tulisan ini merupakan tulisan saya sewaktu SMA>

0 komentar:
Posting Komentar