Selasa, 21 Februari 2012

Musnahkan Budaya Kemiskinan di Indonesia!

Oleh: Ayu Fitri Izaki

A.    Potret Kemiskinan di Indonesia
Indonesia merupakan negara kaya yang terjerat ke dalam perangkap kemiskinan. Pernyataan tersebut merupakan hal yang paradoks. Masih teringat pada tahun-tahun awal sesudah krisis moneter (1997), pejabat pemerintahan saat itu optimistis mencoba menghibur hati masyarakat dengan menjanjikan situasi akan segera membaik. Namun, dilihat dari kenyataan, situasi yang dijanjikan tidaklah terjadi. Situasi ekonomi Indonesia masih dalam situasi yang buruk. Bahkan terlihat sampai sekarang. Bak virus, kemiskinan dengan mudahnya tersebar ke seluruh Indonesia. Ini dibuktikan dengan jumlah penduduk miskin di Indonesia yang terus meningkat tiap tahunnya. Adapun menurun, angka penurunannya sangat kecil, tidak mencapai 5 persen sehingga bisa diabaikan.
Direktorat Bantuan dan Jaminan Sosial, Departemen Sosial, menyebutkan angka 35,1 juta atau sekitar 15,97 persen rata-rata jumlah penduduk miskin Indonesia tahun 2005. Angka itu menigkat menjadi 17,75 persen atau sekitar 39,05 juta penduduk miskin tahun 2006 dengan pendapatan 1,55 dollar AS per hari, berdasarkan Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bulan September 2006. Mengutip data Bank Dunia menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2006 sebanyak 108,78 juta orang atau 49 persen dari jumlah total penduduk 210 juta orang, dengan pendapatan kurang dari 2 dollar per hari atau sekitar Rp 19.000 per hari. Sementara itu, per Maret 2007, BPS menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 39,30 juta orang. Pada Juli 2007, berkurang menjadi 37,17 juta orang. Menurut Laporan BPS, kategori penduduk miskin adalah mereka yang pendapatannya di bawah Rp166.697 per bulan. (Kompas, Senin, 23 Juli 2007).
Selain itu, dari 70.611 desa di Indonesia, 32.379 dinyatakan tertinggal. Provinsi Papua menempati peringkat pertama desa tertinggal. Di Papua, 82,38 persen desa di sana tertinggal. Dari 2.179 desa di Papua, 1.795 desa dinyatakan tertinggal. Jika dilihat dari segi kuantitas maka daerah yang paling banyak memiliki desa tertinggal yaitu Jawa Timur dan Jawa Tengah. Provinsi Jatim adalah di urutan teratas sebagai daerah yang memiliki desa tertinggal yaitu terdapat 3.668 desa tertingggal dari 8.447 desa. Jadi persentase desa tertinggal Jatim yaitu 43,3 persen. Di Jawa Tengah, dari 8.564 desa, 3.467 di antaranya tertinggal. Secara persentase, desa tertinggal di Jateng lebih kecil dibanding Jatim, yakni 40-48 persen (Suara Merdeka, Kamis, 24 Mei 2007).
Potret desa tertinggal tidak hanya terjadi di daerah yang tersebut di atas. Di Jakarta juga terdapat desa tertinggal. Di Provinsi DKI Jakarta, ada 9 desa tertinggal, 6 di antaranya di Pulau Seribu dan 3 lainnya berada di Kecamatan Tebet (desa Manggarai dan Manggarai Selatan, Jakarta Selatan), dan Jakarta Timur berada di desa Setu, Kecamatan Cipayung (Suara Merdeka, Kamis, 24 Mei 2007).
Dari angka penduduk miskin dan desa tertinggal di stas, jelaslah terlihat bahwa Indonesia memiliki potret ekonomi yang buruk. Kemiskinan sudah merajalela. Bak syndrome yang akut, kemiskinan juga sangat susah untuk disembuhkan. Pemerintah juga seakan tidak berdaya dengan situasi ini. Kejadian pahit masa silam mungkin dapat terulang kembali bila pemerintah tidak serius menangani masalah kemiskinan ini.


B.     Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan di Indonesia
Sebenarnya, ada banyak alasan mengapa kemiskinan cepat sekali tumbuh dan berkembang di Indonesia. Antara lain sebagai berikut :
1.      Ledakan penduduk.
Indonesia memiliki jumlah penduduk ± 236.355.303 jiwa, oleh karena itu Indonesia menduduki peringkat ke empat penduduk terbanyak sedunia, setelah Cina (± 1.326.526.463 jiwa), India (± 1.140.455.260 jiwa), dan Amerika Serikat (± 302.711.006 jiwa) (Suara Merdeka, Selasa, 4 Maret 2008). Ledakan penduduk tidak diimbangi dengan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan, sehingga mengakibatkan kemiskinan.

2.      Membludaknya harga kebutuhan pokok.
      Harga minyak mentah (crude oil) dunia saat ini di atas 100 dollar AS per barel. Kenaikan tersebut menyebabkan harga pangan, utamanya beras, di pasar internasional naik menjadi 700 dollar AS per ton. Bahkan di pasar Asia menembus 745 dollar AS per ton. Harga komoditi lain seperti minyak nabati, kacang-kacangan, dan gula ikut terdongkrak (Suara Merdeka, Selasa, 8 April 2008). Kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar internasional, menyebabkan harga kebutuhan pokok dalam negeri juga ikutan naik. Masyarakat pun seakan pasrah dengan kenyataan ini.
3.      Sempitnya lapangan kerja, sehingga menyebabkan banyaknya pengangguran, pengemis, dan gelandangan.
4.      Rendahnya SDM sehingga mengakibatkan manusia tidak dapat memberdayakan SDA yang ada.
5.      Rendahnya upah para pekerja disebabkan rendahnya tingkat pendidikan.
6.      Meningkatnya laju urbanisasi (khususnya ke kota Jakarta)
Urbanisasi  kaum lelaki ke kota tidak memberikan jaminan pengiriman uang secara teratur kepada istri mereka di desa.
7.      Akibat dari krisis financial-moneter yang terjadi pada tahun 1997 yang merambah menjadi krisis multidimensional, sehingga Indonesia sampai saat ini masih mengalami kemiskinan.
8.      Banyaknya kasus KKN yang dilakukan para pejabat negara yang merugikan rakyat kecil. Juga  adanya kelembekan (leniency) dan sikap serba memudahkan (easy going) dalam pengelolaan pemerintahan negara.
      Louis Kraar, seorang pengamat negara-negara industri baru di Asia Timur, pada tahun 1988 sudah meramalkan bahwa Indonesia dalam 20 tahun akan menjadi halaman belakang (back yard) Asia Timur, ditinggalkan oleh negara-negara tetangganya yag berkembang menjadi negara maju, disebabkan etos kerja yang lembek dan korupsi yang gawat (Lousy work ethics and serious corruption).


C.    Dampak Kemiskinan di Indonesia
               Berikut ini akan diuraikan akibat dari kemiskinan. Antara lain sebagai berikut:
1.      Memicu berbagai tindak kriminal seperti pencurian, perampokan, penculikan anak, penipuan dan sebagainya.
2.      Kasus gizi buruk dan busung lapar  pada anak-anak dan balita.
3.      Banyaknya pengangguran, pengemis, pengamen, gelandangan, pelacur, dsb, yang membuat kota menjadi tidak tertib.
4.      Banyaknya anak-anak yang putus sekolah sehingga, menambah angka kebodohan.
5.      Adanya kasus bunuh diri dikarenakan tidak dapat membiayai keperluan hidup.
6.      Angka kematian meningkat akibat sulitnya berobat dan kasus bunuh diri.
7.      Masyarakat berlomba-lomba menjadi TKI dan TKW.
Kemiskinan mendorong mereka berangkat ke luar negeri menjadi TKI/TKW untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Dewasa ini, banyak sekali kasus penganiayaan, pembunuhan, dan pemerkosaan yang dilakukan majikan kepada TKW, karena TKW dianggap tidak becus dalam menjalankan tugas.
8.      Masyarakat menempati daerah yang tidak layak huni (kumuh) sehingga mengakibatkan mudahnya terkena penyakit.

D.    Solusi Mengatasi Kemiskinan di Indonesia
                  Budaya kemiskinan di Indonesia dapat diberantas dengan cara menghindari apa yang menjadi faktor penyebabnya, antara lain :
1.      Menekan laju pertumbuhan penduduk dengan menggalakkan program KB untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan massal, serta menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi (Suara Merdeka, Selasa, 4 Maret 2008).
2.      Mengadakan transmigrasi.
Pemerintah telah menawarkan program transmigrasi khusus kepada masyarakat miskin yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya. Peserta program transmigrasi akan diberikan rumah ukuran 36 meter persegi berhalaman seluas 500 meter persegi, lahan pertanian 2 hektar, dan biaya hidup selama dua tahun. Pemerintah berencana membangun tujuh kota terpadu mandiri (KTM) berbasis agroindustri, sehingga peserta transmigrasi harus merupakan orang yang benar-benar mampu bertani. (Kompas, Rabu, 2 Oktober 2007)
3.      Mengurangi laju urbanisasi (khususnya ke kota Jakarta).
Salah satu alternatif untuk mengurangi laju urbanisai adalah menggalakkan Gerakan Bangga Suka Desa.
Untuk mendukung Gerakan Bangga Suka Desa, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.       Pengembangan kegiatan ekonomi produktif:
·   Latihan Keterampilan.
·   Bimbingan Kewirausahaan.
·   Bantuan Permodalan.
·   Bimbingan Pemasaran
b.      Penggalangan tabungan dan sumbangan masyarakat untuk membangun desa melalui Takesra (Tabungan Keluarga Sejahtera) dan Kukesra (Kredit Usaha Keluarga Sejahtera):
·   Kampanye gerakan cinta desa dengan melibatkan paguyuban masyarakat daerah yang tinggal di kota.
·   Kampanye penggunaan jasa bank untuk pengiriman uang ke desa dan pengembangan kegiatan ekonomi produktif.
·   Penyelenggaraan lelang kepedulian untuk mendukung pembangunan keluarga di desa.
c.       Pengembangan fasilitas ekonomi pedesaan:
·   Penyelenggaraan pasar minggon.
·   Pengembangan kios telepon.
·   Pengembangan salon kecantikan desa.
·   Pengembangankegiatan pelayanan jasa.
d.      Dukungan dan pengembangan peluang pasar:
·   Pameran potensi desa.
·   Temu pengusaha.
·   Pengembangan kerjasama kemitraan pengusaha yang mampu dengan keluarga di desa.
4.      Memperluas peluang kesempatan kerja.
5.      Meningkatkan produksi pangan dengan membangun produktivitas pertanian.
Seluruh elemen moneter dan finansial sangat terkait dengan pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian harus berorientasikan  komoditi ekspor sebab negara akan diuntungkan dengan nilai tukar mata uang asing yang tinggi.
6.      Meningkatkan sumber daya manusia dengan cara memberikan atau mengajarkan keterampilan kepada masyarakat, meningkatkan mutu pendidikan, memberikan beasiswa bagi mereka yang tidak mampu, dll.
            Meningkatkan SDM merupakan solusi mengurangi kemiskinan yang tepat. Sebab dengan tingginya tingkat SDM, penduduk miskin akan mampu menguasai faktor-faktor produksi yang diperlukannya dalam meningkatkan taraf hidupnya.
7.      Memberdayakan sumber daya alam dengan baik.  Jangan serahkan pemberdayaan sumber daya alam kita kepada negara luar!
8.      Memberikan bantuan modal bagi industri kecil dan menengah.
9.      Meningkatkan sektor pariwisata dan kebudayaan agar dapat menambah valuta asing dan devisa negara.
10.  Melaksanakan program yang memacu pembangunan pedesaan yaitu Program Pembangunan Desa Tertinggal (P3DT) yang merupakan salah satu penjabaran program penanggulangan kemiskinan (Inpres No.4 Th 1993) dan Pembangunan Keluarga Sejahtera Di Desa Tidak Teringgal. Gerakan Bangga Suka Desa juga merupakan upaya membangun desa.
11.  Pemberantasan korupsi serta wujudkan good governance. (pengelolaan negara yang baik).
Untuk memberantas korupsi yang merajalela, pemerintah telah membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Diharapkan dengan adanya KPK ini, pemerintah dapat mewujudkan keadilan di negara ini.
                    
                  Mengatasi ledakan penduduk adalah solusi mengatasi kemiskinan yang paling utama yang harus dilakukan pemerintah. Memang, bagi pemerintah, mengatasi ledakan penduduk bukanlah persoalan baru. Pemerintah pernah berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk dengan hasil sangat memuaskan (zaman Orde Baru).  Pada saat yang sama, swasembada pangan pun pernah berhasil dicapai, sehingga tercapailah keseimbangan antara tingkat pertumbuhan populasi dan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan.
                  Pemerintahan saat ini tidak perlu ragu dan malu untuk belajar dan mengulang kisah sukses pemerintahan sebelumnya. Bila perlu, lakukan saja cara yang sama, dengan progaram yang sesuai dengan kondisi saat ini. Pemerintah daerah dan masyarakat harus mempunyai kesadaran untuk mendukung program pemerintah pusat. Pemerintah yang tidak becus mengendalikan ledakan penduduk adalah cermin tiadanya visi membangun masa depan bangsa.
   Berbicara tentang penduduk, Thomas Robert Malthus (1766-1834), seorang ahli ekonomi-sosial berkebangsaan Inggris mengemukakan teori masalah kependudukan. Teorinya adalah bahwa bertambahnya jumlah penduduk itu seperti deret ukur (1,2,4,8,16,…), sedangkan bertambahnya jumlah produksi makanan itu seperti deret hitung (1,2,3,4,5,6,…). Teori Malthus tersebut tentu akan sangat mengkhawatirkan di masa depan, sebab kita akan kekurangan stok makanan. Oleh karena itu, perlu ada upaya-upaya untuk mengurangi jumlah penduduk atau meningkatkan produksi pangan. (Suara Merdeka, Kamis, 24 Mei 2007).

Beralih kepada kemiskinan. Kemiskinan merupakan kerusakan akibat dari krisis finansial-moneter yang merambah menjadi krisis multidimensional.
      Menurut Nurcholish Madjid (2004:113), menyebutkan :

                  Kerusakan yang dimulai dengan krisis finansial-moneter, seperti pada banyak negara yang juga mengalaminya, seharusnya dapat dibatasi hanya sebagai krisis pada suatu bagian tertentu dari ekonomi nasional. Tetapi sumbernya tidak hanya dalam bidang finansial-moneter semata, melainkan dalam pengelolaan yang buruk (weak governance) dalam urusan pemerintahan dan kekuasaan, sehingga krisis tersebut merambah dan meliputi semua segi kehidupan bangsa.

                  Melihat situasi krisis multidimensional saat ini, maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mendewasakan diri, sehingga mampu mengakhiri krisis-krisis yang terjadi dengan mulai membangun kembali negara dengan mempergunakan aset-aset yang telah tersedia. Dengan latar belakang keadaan yang kita alami saat ini, untuk memulai pembangunan kembali bangsa dan negara diperlukan beberapa agenda dasar atau platform yang sifatnya mendesak.
                  Menurut Nurcholish Madjid, dalam bukunya Indonesia Kita, platform membangun kembali bangsa Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Mewujudkan good governance pada semua lapisan pengelolaan negara.
2.      Menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen.
3.      Melaksanakan Rekonsiliasi Nasional:
a.  Menarik pelajaran pahit masa lalu dengan tekad tidak mengulanginya.
b. Menatap  masa  depan  dengan  pendamaian  dan   penyatuan   seluruh
    kekuatan bangsa.
c.  Menegaskan garis pemisah antara masa lalu dan masa mendatang.
4.      Merintis Reformasi Ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah
5.      Mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi: kebebasan sipil (khususnya kebebasan pers dan akademik), pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintahan, perwakilan, dan pengadilan.
6.      Meningkatkan ketahanan dan keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat personel pranata TNI dan Polri dalam bingkai demokrasi.
7.      Memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan, ke-Bhineka-an dan ke-Eka-an, serta pembangunan otonomisasi.
8.      Meratakan dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Nusantara.
9.      Mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia sebagai tujuan bernegara.
10.  Mengambil peran aktif dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.

                    Solusi-solusi mengatasi kemiskinan di atas merupakan sedikit dari banyaknya solusi yang ada. Tergantung bagaimana kebijakan pemerintah mengatasi kemiskinan. Kemiskinan akan terhapus apabila pemerintah bersikap bijak dan tegas dalam mengupayakan penghapusan kemiskinan. Oleh karena itu, diperlukan keseriusan pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan ini.
           Selain itu, mengatasi kemiskinan diperlukan adanya kerjasama antara enam Kementerian atau Departemen yaitu Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal, dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Juga diperlukan kesadaran masyarakat untuk mendukung program pemerintah. Niat yang ikhlas juga diperlukan untuk membangun kembali negara agar dapat terbebas dari belenggu keterpurukan.

<Nb: Tulisan ini merupakan tulisan saya sewaktu SMA>


0 komentar:

Posting Komentar