Dia benci sekali dengan bola
besar itu. Entahlah, mengapa dia sangat membenci
bila melihat benda itu. Dia udah bosan memainkannya. Ya…dia memang udah nggak mau
memainkannya lagi. Tapi, ayahnya selalu memaksa dia. Dia nggak bisa menolak
keinginan ayahnya karena dia nggak mau dibilang anak durhaka.
Sebenarnya dia
nggak suka bermain basket. Dia lebih suka bermain drum. Ngeband bareng teman-temannya. Namun, ayahnya nggak suka bila ia
pergi ngeband bareng teman-temannya.
Ayahnya lebih suka bila dia bermain basket. Bahkan dia dipaksa berlatih bola
basket sejak ia berumur tujuh tahun.
Waktu ia berumur
tujuh tahun, seharusnya adalah masa bersenang-senang, bermain-main dengan
teman-teman. Tapi, lain halnya dengan dia. Waktu ia masih kecil, dia menghabiskan
waktunya untuk berlatih basket karena ayahnya memaksanya untuk bersahabat
dengan bola besar dengan keranjangnya itu.
Waktu kecil dulu,
ayahnya selalu memaksa ia untuk berlatih teknik-teknik bermain basket. Bila ia
nggak bisa menguasai salah satu dari teknik-teknik tersebut ia nggak akan
diberi makan sampai ia bisa menguasainya.
Ayahnya sangat
disiplin. Jam lima
pagi ia harus bangun untuk berlari-lari kecil mengelilingi halaman rumahnya.
Setelah itu, dia langsung disuruh berlatih. Bila ia malas berlatih, ayahnya nggak
segan-segan untuk mencambuknya dengan sebatang rotan. Begitu ketat ayahnya
memaksanya untuk berlatih. Padahal ia sama sekali nggak suka dengan yang
namanya basket
Tidakkah
ayahnya tau susahnya berlompat-lompat, hanya untuk sekedar memasukkan bola ke
dalam keranjang. Atau, memukul-mukul bola besar itu. Dia berpikir, untuk apa
sih sebenarnya latihan memukul-mukul bola dan memasukkannya ke dalam keranjang
yang mirip tempat sampah.
vvvvv
Sekarang
dia sudah duduk di kelas dua SMA. Ia sudah mulai malas
untuk mengikuti keinginan ayahnya. Ia lebih suka ngeband bareng teman-temannya. Tapi, ia nggak bisa menolak
permintaan ayahnya untuk berlatih basket karena ayahnya adalah seorang pelatih
basket di sekolahnya. Namun,
hari ini ia ingin merasakan bagaimana rasanya terbebas dari berlatih basket.
Maka ia pun bolos dari latihan basket dan pergi ngeband dengan teman-temannya.
“Dari
mana saja kamu Niko?” tanya ibunya begitu ia pulang.
“Niko habis ngeband bareng
temen-temen, Bu.” Jawab Niko.
“Berarti kamu tidak
latihan basket, nak. Ya
ampun, kalau ayahmu tahu bagaimana?”
“Oh, jadi begitu. Kamu mulai malas ikut latihan ya?” tiba-tiba ayahnya sudah berada di
belakangnya.
Niko
hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia nggak bisa berkata-kata di depan ayahnya.
“Niko ayah hanya ingin kamu berhasil. Siapa tau kamu bisa menjadi
pemain basket profesional yang bisa go internasinal. Pokoknya besok kamu harus berlatih lagi. Sebentar lagi kan kamu ikut perlombaan
basket. Ayah ingin
kamu bisa mempersembahkan sebuah piala emas untuk ayah.”
Ternyata
selama ini Niko disuruh berlatih, hanya untuk mendapatkan piala emas. Begitu kejamnya ayah. Niko hanya ingin berrmain gitar bukan bermain
basket.
Niko duduk sendirian di halaman
belakang rumahnya. Ia merenung memikirkan perkataan ayahnya. Apakah ayah tidak
tahu, Niko hanya ingin menjadi gitaris terkenal bukan menjadi pemain basket.
Mengapa ayah memaksakan keinginannya ke Niko? Sebetulnya,
yang ingin menjadi pemain basket profesional kan ayah bukan Niko.
Namun, Niko pun melerai
perasaannya. Ia pun mulai rajin lagi berlatih. Itu ia lakukan untuk
mempersembahkan sebuah piala emas kepada ayahnya.
vvvvv
“Niko
hari ini lo mau ngeband dengan kita lagi nggak?” tanya Andika, teman ngebandnya
di kelas.
“Kayaknya
hari ini gue nggak bisa.”
“Lho
kenapa?”
“Gue
harus berlatih basket. Ayah gue maksa gue untuk berlatih.”
“Yaah..
nggak asyik nih nggak ada lo.” sambung Yoga, sang vokalis.
“Ya
udah deh nggak pa-pa. Eh by the way, lo jadi nggak nembak si Alia? Lo kan naksir berat ama dia.” Andika
mengalihkan pembicaraan.
“Jadi
dong. Gue kan cinta mati sama dia. Lo mau kan bantu gue?”
“Yee
gue kan teman elo. Masak nggak ngebantuin sih. Oya kita
ke kantin yuk.”
“Oke. Yuk cabut!”
vvvvv
Di suatu tempat yang beraromakan
kasih. Niko dan Alia sedang makan makanana yang disajikan.
“Sebenarnya,
untuk apa sih kamu ngajakin aku ke tempat ini? Buang-buang waktu tau!” tanya
Alia dengan nada ketus.
“Ih, cantik-cantik kok galak. Nyantai aja lagi.”
“Kalau ada yang mau
diomongin buruan deh.”
“Iya-iya. Sebenarnya, a…ku…aku…sayang banget sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku.”
“Apa?!
Maaf, aku menolak menjadi pacarmu! Aku nggak suka sama orang yang sok jagoan,
suka merendahkan orang lain, dan suka berbicara kasar kepada orang lain.” Kata
Alia sambil berdiri, lalu dia bergegas pergi.
“Alia,
tunggu! Kita kan belum selesai bicara!”
vvvvv
Di
kantin sekolah yang penuh dengan orang-orang yang perutnya berbunyi karena
lapar. Nikodan teman-temannya juga ada di situ membahas masalah Niko.
“Jadi
lo ditolak mentah-mentah sama Alia.” tanya Yoga.
“Iya. Sialan banget tuh cewek! Katanya gue ini cowok yang kasar. Gue nggak
ngerti apa maunya.”
“Nah
terus, lo masih mau ngejar tuh cewek.” Andika menyahut.
“Ah…nggak tau lah! Gue bingung.”
Tiba-tiba ada seseorang yang
terjatuh dan mengenai Niko. Es jeruk yang baru saja dipegang tumpah mengenai
celana Niko.
“Eh
sialan lo! Lo ngebuat celana gue basah tau! Dasar cupu! Lo mau gue hajar,
hah?!!” damprat Niko sambil menarik kerah orang itu.
“Ampun.
Aku tidak sengaja menumpahkan dan mengenai celana kamu.”
“Ah,
alasan aja lo!!”
“Udah
deh, Nik. Si Alia ngeliatin lo tuh. Lo nggak mau kan dibilang cowok kasar.”
Irfan berusaha menceraikan.
“Kali
ini lo gue bebasin. Tapi, lain kali gue nggak akan maafin lo. Mengerti!”
“Iya,
aku ngerti. Aku tidak akan ganggu kamu lagi.” Yang dikatakan cupu bergegas
pergi. Niko pun kembali duduk.
“Ah…
sialan! Gue diliatin ama Alia. Dia pasti bakal tambah benci ama gue.”
“Ya
elo sih. Harusnya lo ngerubah kelakuan lo. Bukannya
malah seperti tadi.” Andika menanggapi.
“Ah… bodo amat! Sialan lo!”
umpat Niko kesal. Ia lantas beranjak pergi.
“Dasar
tuh anak. Diomongin baik-baik malah marah.” Aldo membatin dan menggelengkan
kepalanya.
vvvvv
Di
sudut lain dari sebuah kantin nampak dua buah pasang mata melihat kelakuan
Niko.
“Kamu lihat sendiri kan ,
Niko itu orangnya kasar sama orang lain. Makannya aku nolak dia”
“Tapi Al, aku yakin kamu itu
suka sama dia. Soalnya, kamu suka sekali ngelihat dia
main basket, ya kan ?”
“Apaan sih kamu, Bell ? Udahlah, nggak usah
ngebahas itu lagi. Kita ngebahas yang lain aja. Tau nggak aku nyalonin diri
jadi calon ketua OSIS lho.”
“Yang bener, kamu
kok nggak pernah cerita sebelumnya sih ke aku.”
“Emang, penting ya
nyeritain ke kamu.”
“Yee… aku kan sahabatmu.”
vvvvv
Di lapangan basket
seusai pelajaran sekolah berakhir.
“Kenapa kalian
tidak serius latihannya. Tim basket kita akan mengikuti pertan- dingan basket
antar sekolah. Niko, kamu kan
ketua tim basket harusnya kamu lebih serius latihannya supaya anak-anak yang
lain serius.”ucap ayahnya yang pelatih basket.
“Iya ayah. Aku akan
lebih serius.” Jawab Niko.
“Sekarang, kita
mulai lagi latihannya. Kalian harus serius.”
“Baik pelatih.”
Jawab anak-anak basket serempak.
vvvvv
“Aliaaaaa!!” Bella berlari menghampiri
Alia.
“Ada
apaan sih, Bell? Baru datang udah teriak-teriak gitu. Nanti pita suaramu nggak
berfungsi lagi lho.”
“Gini
lho, Al. Tadi aku lihat Niko rapiiii banget hari ini. Bajunya dimasukkan,
biasanya kan bajunya dikeluarkan. Terus, aku lihat sepuluh daftar calon ketua
OSIS, ternyata namanya Niko terpampang di situ. Berarti dia nyalonin diri jadi
ketua OSIS.”
“Apa
hubungannya sama aku? Eh, aku masuk ke daftar itu juga nggak?”
“Yee…
mungkin saja si Niko berubah drastis gitu karena kamu Al. Oh ya, kamu masuk ke
daftar itu kok.”
“Makasih
ya udah ngeliatin. Kamu ini ada-ada aja deh, mana mungkin dia berubah karena
aku. Dia itu berubah karena kemauannya sendiri.”
vvvvv
Seleksi
menjadi tiga besar calon ketua OSIS hari ini akan dimulai. Kesepuluh calon akan
diwawancarai oleh beberapa orang guru di ruang OSIS. Semua calon sudah berada
di dalam ruang OSIS sambil menampakkan wajah tegang mereka.
“Yang
pertama akan kami wawancarai adalah Niko. Harap Niko maju ke depan.” Seorang
guru mempersilahkan Niko maju.
Niko
maju dengan pedenya. Ia berusaha kelihatan setenang mungkin.
“Udah
siap Niko? Kita mulai dengan pertanyaan pertama. Anda kan adalah seorang ketua
tim basket, apakah bila anda terpilih, anda akan tetap eksis di tim basket? Dan
apakah anda akan merangkap menjadi ketua?”
“Terima
kasih atas pertanyaanya. Saya akan tetap eksis di tim
basket. Bila saya terpilih saya akan merangkap menjadi ketua. Saya yakin saya bisa
melakukannya karena saya tidak bekerja sendirian. Saya bekerja dengan begitu
banyak orang yang bisa saya ajak untuk bekerja sama.”
“Jawaban yang cukup bagus Niko.”
Alia terkesima. Ternyata orang
kasar seperti Niko bisa berubah dan bisa berkata sebagus itu. Sungguh Alia
tidak pernah menyangka.
Akhirnya,
setelah melewatkan seleksi, terpilihlah tiga kandidat yaitu Dimas Anggara Putra
dari kelas XI IPS 4 yang menjabat sebagai ketua Pramuka, Alia Devinta Sari dari
kelas XI IPA1 yang menjabat sebagai sekretaris KIR, dan Niko Dirgantara dari
kelas XI IPA 3 yang menjabat sebagai ketua Basket.
vvvvv
Di
dalam kamarnya di rumahnya yang mewah Niko sedang bermain game di laptopnya. Seketika
ayahnya masuk ke dalam kamarnya.
“Niko,
apakah kita bisa bicara sebentar?” ayahnya menulai pembicaraan. Niko lalu
mematikan laptopnya dan menghadap penuh hormat kepada ayahnya. Tumben, pikirnya.
“Mau
bicara apa, yah?”
“Ayah denger kamu masuk tiga besar kandidat calon ketua OSIS. Ayah
sangat bangga kepadamu. Tapi, ayah minta kamu mengundurkan diri, bisa kan ?”
“Kenapa? Katanya ayah bangga
kepada Niko. Namun, kenapa ayah memyuruh Niko untuk mengundurkan diri?”
“Niko,
ayah nggak ingin nantinya kamu nggak latihan basket lagi karena kamu sibuk di
OSIS. Lagipula, sebentar lagi kamu ada pertandingan. Ayah nggak mau kamu
melupakan itu karena kamu sibuk memikirkan OSIS. Ayah ingin kamu
mempersembahkan piala emas untuk ayah.”
“Ayah
egois! Ayah hanya memaksakan kehendak ayah ke Niko!
Ayah nggak pernah mengerti Niko! Baiklah ayah, Niko akan ngundurin diri.
Puas?!” Niko sewot bukan main. Emosinya meledak begitu hebatnya sehebat
meledaknya bom nuklir. Niko mengambil
jaket dan kunci motor lalu pergi dari rumah.
“Niko kamu mau
kemana?” teriak ayahnya kencang. Namun, sudah terlanjur karena Niko sudah pergi.
vvvvv
“Niko, tumben banget lo ngajakin
kita ngeband. Biasanya kan kita yang
ngajakin lo. Emangnya, lo diijinin apa sama bokap?” Yoga menyindir.
Niko
menggeleng pelan. “ Gue ada masalah sama ayah. Ayah nyuruh gue ngundurin diri
dari kandidat calon ketos.”
“Dan
lo mau?” tanya Andika.
Niko
mengangguk.
“Niko-Niko,
kenapa lo nggak ngelawan bokap lo sih?”
“Iya, Nik.” Irfan menyambung bak kabel listrik.
vvvvv
“Kamu
mau ngundurin diri? Kenapa?” tanya Ardian, mantan ketos.
“Ayah
saya menyuruh saya mengundurkan diri, mas. Dia nggak ingin aku melupakan basket
dan pelajaranku.”
“Ayahmu
baik sekali ya, Nik. Masih mau memikirkan kamu.”
Baik apanya. Dia itu egois
dan suka memaksakan kehendak. Lain hati, lain
ucapan.
“Iya, mungkin ayah
sangat perhatian kepadaku. Padahal aku ingin sekali bisa menambah pengalaman berorganisasi. Tidak
hanya latihan basket terus-menerus.”
Ternyata
di luar ruang OSIS ada cewek yang menguping pembicaraan mereka.
“Al,
kalau kamu suka sama Niko, kamu bilang terus terang aja ke dia.”
“Eh, kamu Bell .
Kamu ngagetin aku aja. Mungkin… benar apa katamu. Aku mulai menyukainya setelah
ia berubah 180 derajat. Tapi… apa dia mau menerimaku.”
“Dia pasti mau
menerimamu. Kamu mau kubantuin nggak ngomong sama dia.”
“Ng…”
Tiba-tiba orang yang dibicarakan
keluar.
“Eh,
Alia, Bella. Sedang apa kalian di sini?”
“Oh,
tadi aku nggak sengaja bertemu Bella di sini.” Alia berbohong.
“Ooooh
gitu. Ya udah aku kembali ke kelas dulu ya.” Niko berbalik memutar.
“Niko,
tunggu! Aku mau bicara sesuatu sama kamu.”
“Bicara
masalah apa ya?”
“Mmm,
kamu mau nggak nanti malem aku ajak ke kafe yang waktu itu kamu ajak aku ke
sana?”
“Boleh.
Jam tujuh ya. Tapi kalau aku nggak ada acara ya. Udah ya…”
“Ciee…
yang mau kencan”
vvvvv
Di
kafe di mana tempat Niko nyatain cinta ke Alia.
“Alia,
maaf ya aku telat. Soalnya, tadi aku harus ngerjain tugas dulu.” Niko
berbohong. Sebetulnya, sebelum pergi dia berdebat dulu dengan ayahnya.
“Nggak
apa-apa kok. Aku juga baru nyampai.”
“Ini
dulu tempat kamu menolak cinta aku, ya kan?” Niko menyindir.
Alia
tersenyum. “Kalau tawaranmu dulu aku terima, gimana?”
“Aku nggak bakalan nolak.” jawab Niko.
Mereka berdua lalu tertawa geli.
Ah, cinta…
vvvvv
Dua
minggu setelah kejadian itu, pertandingan basket diadakan. Tim basket Niko
akhirnya bisa masuk final. Persaingan sengit memperebutkan piala pun dimulai.
Pada menit pertama Niko berhasil memasukkan bola ke keranjang lawan. Namun, ternyata tim lawan sangat kuat hingga akhirnya tim basket
Niko kalah. Ada
tersembul wajah yang sangat kecewa. Ayah Niko tidak dapat menerima kekalahan
Niko.
“Selamat ya, Nik.”
Alia memberikan ucapan selamat.
“Selamat apanya,
aku kan
kalah.”
“Setidaknya kan kamu dapat juara
dua.”
“Selamat
juga untukmu karena kamu udah menjabat menjadi sekretaris di OSIS. Eh, yang
kepilih jadi ketos Dimas, kan?”
“Terima
kasih. Iya, Dimas terpilih jadi ketos. Oh ya, ngomong-ngomong, sepertinya kita
harus menyudahi hubungan kita.”
“Apa?
Kamu mau kita putus?”
Alia
mengangguk. “Iya. Kita harus menyudahi hubungan kita. Ada seseorang yang nggak
menyukai hubungan kita yaitu ayah kamu. Jadi, aku minta putusin aku.” Alia
pergi dengan berlinang air mata.
Begitu tertusuk hati Niko. Ayahnya begitu kejam. Waktu ia ingin
ngeband dengan teman-temannya, ayahnya tidak membolehkannya. Waktu ia ingin
menjadi ketos, ayahnya juga tidak ijinkan. Sekarang, ia kehilangan cintanya
gara-gara ayahnya sendiri. Ayah yang sangat dikaguminya kenapa tega sekali
merusak semua keinginannya? Apa ayah tidak tau, Niko tidak ingin di bawah
ayahnya terus. Ia ingin menentukan pilihannya sendiri.
Sesampainya di
rumah Niko lalu dimarahi ayahnya.
“Dasar anak nggak tahu balas
budi. Ayah kan hanya minta kamu mempersembahkan sebuah piala emas kepada ayah. Kenapa
begitu saja kamu nggak bisa?” maki ayahnya.
“Maaf
ayah. Mungkin kemampuanku hanya sebatas itu.”
“Kamu
sebetulnya mampu. Hanya saja kamu malas latihan dan nggak serius dalam
bertanding. Padahal ayah sudah menyuruh Alia untuk meninggalkanmu. Sebenarnya,
apa sih keinginanmu?”
“Keinginan
saya cuma satu ayah, terbebas dari ayah. Dan berhenti bermain basket.”
“Dasar
anak muda!! Kalau kamu mau bebas, sana keluar dari rumah ini!”
“Jadi,
ayah mengusirku. Baik, aku akan pergi dari rumah ini!”
“Jangan, nak! Ibu nggak mau kehilangan kamu.”
“Ah biarkan sajalah, bu.”
Niko
merasa muak dengan perkataan ayahnya. Ia lalu menaiki motornya dan melesa
dengan kecepatan tinggi bagai pembalap motor kelas internasional. Niko
mengendarai motor sambil memikirkan perkataan ayahnya. Hingga akhirnya motor
dan tubuhnya dihajar oleh bus besar dari arah yang berlawanan.
vvvvv
Telepon di rumah Niko berdering, ayahnya mengangkat
gagang telepon di rumah itu.
“Halo. Ada yang bisa saya bantu.
Anda ingin berbicara dengan siapa?......Apa?! Niko kecelakaan! Sekarang ada di
rumah sakit Setya Budi. Baik saya akan segera kesana.”
“Ada
apa, yah?”
“Niko kecelakaan, bu. Sekarang ada di rumah sakit Setya Budi.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi
roji’un. Kita harus segera ke sana yah.”
Di
rumah sakit.
“Maaf pak mungkin hanya ini kemampuan saya. Saya tidak bisa berbuat
apa-apa.”
“Jadi…anak
saya dokter…” dokter mengangguk. “Nikoooo… maafkan ayah, nak ayah terlalu
memaksakan kehendak ayah ke kamu.ayah tidak mendukung keinginanmu ayah memang
bukan ayah yang baik, nak. Maafkan ayah, nak, maafkan.”ayahnya menagis di
pelukan Niko. Keluarga Niko sedang dilanda banjir air mata.
vvvvv
“Niko walaupun kamu nggak ada, tapi kenangan
terindahku denganmu yang cuma beberapa minggu nggak akan pernah aku lupakan.
Karena aku mencintaimu dengan tulus. Maaafin aku yang selalu berburuk sangka
kepadamu.
Niko kalau kamu tau,
ayahmu menjadi gila karena kepergianmu. Mungkin ia
sangat menyesal. Semoga kamu bisa diterima di sisi-Nya. Salam sayang
untukmu…Niko.” (Alia, dalam buku
hariannya)
vvvvv

0 komentar:
Posting Komentar