Minggu, 10 Maret 2013

MATINYA CITA-CITA

           
            Dia benci sekali dengan bola besar itu. Entahlah, mengapa dia sangat membenci
bila melihat benda itu. Dia udah bosan memainkannya. Ya…dia memang udah nggak mau memainkannya lagi. Tapi, ayahnya selalu memaksa dia. Dia nggak bisa menolak keinginan ayahnya karena dia nggak mau dibilang anak durhaka.
            Sebenarnya dia nggak suka bermain basket. Dia lebih suka bermain drum. Ngeband bareng teman-temannya. Namun, ayahnya nggak suka bila ia pergi ngeband bareng teman-temannya. Ayahnya lebih suka bila dia bermain basket. Bahkan dia dipaksa berlatih bola basket sejak ia berumur tujuh tahun.
            Waktu ia berumur tujuh tahun, seharusnya adalah masa bersenang-senang, bermain-main dengan teman-teman. Tapi, lain halnya dengan dia. Waktu ia masih kecil, dia menghabiskan waktunya untuk berlatih basket karena ayahnya memaksanya untuk bersahabat dengan bola besar dengan keranjangnya itu.
            Waktu kecil dulu, ayahnya selalu memaksa ia untuk berlatih teknik-teknik bermain basket. Bila ia nggak bisa menguasai salah satu dari teknik-teknik tersebut ia nggak akan diberi makan sampai ia bisa menguasainya.
            Ayahnya sangat disiplin. Jam lima pagi ia harus bangun untuk berlari-lari kecil mengelilingi halaman rumahnya. Setelah itu, dia langsung disuruh berlatih. Bila ia malas berlatih, ayahnya nggak segan-segan untuk mencambuknya dengan sebatang rotan. Begitu ketat ayahnya memaksanya untuk berlatih. Padahal ia sama sekali nggak suka dengan yang namanya basket
            Tidakkah ayahnya tau susahnya berlompat-lompat, hanya untuk sekedar memasukkan bola ke dalam keranjang. Atau, memukul-mukul bola besar itu. Dia berpikir, untuk apa sih sebenarnya latihan memukul-mukul bola dan memasukkannya ke dalam keranjang yang mirip tempat sampah.

vvvvv

           Sekarang dia sudah duduk di kelas dua SMA. Ia sudah mulai malas untuk mengikuti keinginan ayahnya. Ia lebih suka ngeband bareng teman-temannya. Tapi, ia nggak bisa menolak permintaan ayahnya untuk berlatih basket karena ayahnya adalah seorang pelatih basket di sekolahnya. Namun, hari ini ia ingin merasakan bagaimana rasanya terbebas dari berlatih basket. Maka ia pun bolos dari latihan basket dan pergi ngeband dengan teman-temannya.
            “Dari mana saja kamu Niko?” tanya ibunya begitu ia pulang.
            “Niko habis ngeband bareng temen-temen, Bu.” Jawab Niko.
            “Berarti kamu tidak latihan basket, nak. Ya ampun, kalau ayahmu tahu bagaimana?”
            “Oh, jadi begitu. Kamu mulai malas ikut latihan ya?” tiba-tiba ayahnya sudah berada di belakangnya.
            Niko hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia nggak bisa berkata-kata di depan ayahnya.
            “Niko ayah hanya ingin kamu berhasil. Siapa tau kamu bisa menjadi pemain basket profesional yang bisa go internasinal. Pokoknya  besok kamu harus berlatih lagi. Sebentar lagi kan kamu ikut perlombaan basket. Ayah ingin kamu bisa mempersembahkan sebuah piala emas untuk ayah.”
            Ternyata selama ini Niko disuruh berlatih, hanya untuk mendapatkan piala emas. Begitu kejamnya ayah. Niko hanya ingin berrmain gitar bukan bermain basket.
            Niko duduk sendirian di halaman belakang rumahnya. Ia merenung memikirkan perkataan ayahnya. Apakah ayah tidak tahu, Niko hanya ingin menjadi gitaris terkenal bukan menjadi pemain basket. Mengapa ayah memaksakan keinginannya ke Niko? Sebetulnya, yang ingin menjadi pemain basket profesional kan ayah bukan Niko.
            Namun, Niko pun melerai perasaannya. Ia pun mulai rajin lagi berlatih. Itu ia lakukan untuk mempersembahkan sebuah piala emas kepada ayahnya.

vvvvv

            “Niko hari ini lo mau ngeband dengan kita lagi nggak?” tanya Andika, teman ngebandnya di kelas.
            “Kayaknya hari ini gue nggak bisa.”
            “Lho kenapa?”
            “Gue harus berlatih basket. Ayah gue maksa gue untuk berlatih.”
            “Yaah.. nggak asyik nih nggak ada lo.” sambung Yoga, sang vokalis.
            “Ya udah deh nggak pa-pa. Eh by the way, lo jadi nggak nembak si Alia? Lo kan naksir berat ama dia.” Andika mengalihkan pembicaraan.
            “Jadi dong. Gue kan cinta mati sama dia. Lo mau kan bantu gue?”
            “Yee gue kan teman elo. Masak nggak ngebantuin sih. Oya kita ke kantin yuk.”
            “Oke. Yuk cabut!”

vvvvv

            Di suatu tempat yang beraromakan kasih. Niko dan Alia sedang makan makanana yang disajikan.
            “Sebenarnya, untuk apa sih kamu ngajakin aku ke tempat ini? Buang-buang waktu tau!” tanya Alia dengan nada ketus.
            “Ih, cantik-cantik kok galak. Nyantai aja lagi.”
            “Kalau ada yang mau diomongin buruan deh.”
            “Iya-iya. Sebenarnya, a…ku…aku…sayang banget sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku.”
            “Apa?! Maaf, aku menolak menjadi pacarmu! Aku nggak suka sama orang yang sok jagoan, suka merendahkan orang lain, dan suka berbicara kasar kepada orang lain.” Kata Alia sambil berdiri, lalu dia bergegas pergi.
            “Alia, tunggu! Kita kan belum selesai bicara!”

vvvvv

            Di kantin sekolah yang penuh dengan orang-orang yang perutnya berbunyi karena lapar. Nikodan teman-temannya juga ada di situ membahas masalah Niko.
            “Jadi lo ditolak mentah-mentah sama Alia.” tanya Yoga.
            “Iya. Sialan banget tuh cewek! Katanya gue ini cowok yang kasar. Gue nggak ngerti apa maunya.”
            “Nah terus, lo masih mau ngejar tuh cewek.” Andika menyahut.
            “Ah…nggak tau lah! Gue bingung.”
            Tiba-tiba ada seseorang yang terjatuh dan mengenai Niko. Es jeruk yang baru saja dipegang tumpah mengenai celana Niko.
            “Eh sialan lo! Lo ngebuat celana gue basah tau! Dasar cupu! Lo mau gue hajar, hah?!!” damprat Niko sambil menarik kerah orang itu.
            “Ampun. Aku tidak sengaja menumpahkan dan mengenai celana kamu.”
            “Ah, alasan aja lo!!”
            “Udah deh, Nik. Si Alia ngeliatin lo tuh. Lo nggak mau kan dibilang cowok kasar.” Irfan berusaha menceraikan.
            “Kali ini lo gue bebasin. Tapi, lain kali gue nggak akan maafin lo. Mengerti!”
            “Iya, aku ngerti. Aku tidak akan ganggu kamu lagi.” Yang dikatakan cupu bergegas pergi. Niko pun kembali duduk.
            “Ah… sialan! Gue diliatin ama Alia. Dia pasti bakal tambah benci ama gue.”
            “Ya elo sih. Harusnya lo ngerubah kelakuan lo. Bukannya malah seperti tadi.” Andika menanggapi.
            “Ah… bodo amat! Sialan lo!” umpat Niko kesal. Ia lantas beranjak pergi.
            “Dasar tuh anak. Diomongin baik-baik malah marah.” Aldo membatin dan menggelengkan kepalanya.

vvvvv

            Di sudut lain dari sebuah kantin nampak dua buah pasang mata melihat kelakuan Niko.
            “Kamu lihat sendiri kan, Niko itu orangnya kasar sama orang lain. Makannya aku nolak dia”
            “Tapi Al, aku yakin kamu itu suka sama dia. Soalnya, kamu suka sekali ngelihat dia main basket, ya kan?”
            “Apaan sih kamu, Bell? Udahlah, nggak usah ngebahas itu lagi. Kita ngebahas yang lain aja. Tau nggak aku nyalonin diri jadi calon ketua OSIS lho.”
            “Yang bener, kamu kok nggak pernah cerita sebelumnya sih ke aku.”
            “Emang, penting ya nyeritain ke kamu.”
            “Yee… aku kan sahabatmu.”

vvvvv

            Di lapangan basket seusai pelajaran sekolah berakhir.
            “Kenapa kalian tidak serius latihannya. Tim basket kita akan mengikuti pertan- dingan basket antar sekolah. Niko, kamu kan ketua tim basket harusnya kamu lebih serius latihannya supaya anak-anak yang lain serius.”ucap ayahnya yang pelatih basket.
            “Iya ayah. Aku akan lebih serius.” Jawab Niko.
            “Sekarang, kita mulai lagi latihannya. Kalian harus serius.”
            “Baik pelatih.” Jawab anak-anak basket serempak.

vvvvv

            “Aliaaaaa!!” Bella berlari menghampiri Alia.
            “Ada apaan sih, Bell? Baru datang udah teriak-teriak gitu. Nanti pita suaramu nggak berfungsi lagi lho.”
            “Gini lho, Al. Tadi aku lihat Niko rapiiii banget hari ini. Bajunya dimasukkan, biasanya kan bajunya dikeluarkan. Terus, aku lihat sepuluh daftar calon ketua OSIS, ternyata namanya Niko terpampang di situ. Berarti dia nyalonin diri jadi ketua OSIS.”
            “Apa hubungannya sama aku? Eh, aku masuk ke daftar itu juga nggak?”
            “Yee… mungkin saja si Niko berubah drastis gitu karena kamu Al. Oh ya, kamu masuk ke daftar itu kok.”
            “Makasih ya udah ngeliatin. Kamu ini ada-ada aja deh, mana mungkin dia berubah karena aku. Dia itu berubah karena kemauannya sendiri.”

vvvvv

            Seleksi menjadi tiga besar calon ketua OSIS hari ini akan dimulai. Kesepuluh calon akan diwawancarai oleh beberapa orang guru di ruang OSIS. Semua calon sudah berada di dalam ruang OSIS sambil menampakkan wajah tegang mereka.
            “Yang pertama akan kami wawancarai adalah Niko. Harap Niko maju ke depan.” Seorang guru mempersilahkan Niko maju.
            Niko maju dengan pedenya. Ia berusaha kelihatan setenang mungkin.
            “Udah siap Niko? Kita mulai dengan pertanyaan pertama. Anda kan adalah seorang ketua tim basket, apakah bila anda terpilih, anda akan tetap eksis di tim basket? Dan apakah anda akan merangkap menjadi ketua?”
            “Terima kasih atas pertanyaanya. Saya akan tetap eksis di tim basket. Bila saya terpilih saya akan merangkap menjadi ketua. Saya yakin saya bisa melakukannya karena saya tidak bekerja sendirian. Saya bekerja dengan begitu banyak orang yang bisa saya ajak untuk bekerja sama.”
            “Jawaban yang cukup bagus Niko.”
            Alia terkesima. Ternyata orang kasar seperti Niko bisa berubah dan bisa berkata sebagus itu. Sungguh Alia tidak pernah menyangka.
            Akhirnya, setelah melewatkan seleksi, terpilihlah tiga kandidat yaitu Dimas Anggara Putra dari kelas XI IPS 4 yang menjabat sebagai ketua Pramuka, Alia Devinta Sari dari kelas XI IPA1 yang menjabat sebagai sekretaris KIR, dan Niko Dirgantara dari kelas XI IPA 3 yang menjabat sebagai ketua Basket.

vvvvv

            Di dalam kamarnya di rumahnya yang mewah Niko sedang bermain game di laptopnya. Seketika ayahnya  masuk ke dalam kamarnya.
            “Niko, apakah kita bisa bicara sebentar?” ayahnya menulai pembicaraan. Niko lalu mematikan laptopnya dan menghadap penuh hormat kepada ayahnya. Tumben, pikirnya.
            “Mau bicara apa, yah?”
            “Ayah denger kamu masuk tiga besar kandidat calon ketua OSIS. Ayah sangat bangga kepadamu. Tapi, ayah minta kamu mengundurkan diri, bisa kan?”
            “Kenapa? Katanya ayah bangga kepada Niko. Namun, kenapa ayah memyuruh Niko untuk mengundurkan diri?”
            “Niko, ayah nggak ingin nantinya kamu nggak latihan basket lagi karena kamu sibuk di OSIS. Lagipula, sebentar lagi kamu ada pertandingan. Ayah nggak mau kamu melupakan itu karena kamu sibuk memikirkan OSIS. Ayah ingin kamu mempersembahkan piala emas untuk ayah.”
            “Ayah egois! Ayah hanya memaksakan kehendak ayah ke Niko! Ayah nggak pernah mengerti Niko! Baiklah ayah, Niko akan ngundurin diri. Puas?!” Niko sewot bukan main. Emosinya meledak begitu hebatnya sehebat meledaknya bom nuklir. Niko  mengambil jaket dan kunci motor lalu pergi dari rumah.
            “Niko kamu mau kemana?” teriak ayahnya kencang. Namun, sudah terlanjur karena Niko sudah pergi.

vvvvv

            “Niko, tumben banget lo ngajakin kita ngeband. Biasanya kan kita yang ngajakin lo. Emangnya, lo diijinin apa sama bokap?” Yoga menyindir.
            Niko menggeleng pelan. “ Gue ada masalah sama ayah. Ayah nyuruh gue ngundurin diri dari kandidat calon ketos.”
            “Dan lo mau?” tanya Andika.
            Niko mengangguk.
            “Niko-Niko, kenapa lo nggak ngelawan bokap lo sih?”
            “Iya, Nik.” Irfan menyambung bak kabel listrik.

vvvvv

            “Kamu mau ngundurin diri? Kenapa?” tanya Ardian, mantan ketos.
            “Ayah saya menyuruh saya mengundurkan diri, mas. Dia nggak ingin aku melupakan basket dan pelajaranku.”
            “Ayahmu baik sekali ya, Nik. Masih mau memikirkan kamu.”
            Baik apanya. Dia itu egois dan suka memaksakan kehendak. Lain hati, lain ucapan.
            “Iya, mungkin ayah sangat perhatian kepadaku. Padahal aku ingin sekali bisa menambah pengalaman berorganisasi. Tidak hanya latihan basket terus-menerus.”
            Ternyata di luar ruang OSIS ada cewek yang menguping pembicaraan mereka.
            “Al, kalau kamu suka sama Niko, kamu bilang terus terang aja ke dia.”
            “Eh, kamu Bell. Kamu ngagetin aku aja. Mungkin… benar apa katamu. Aku mulai menyukainya setelah ia berubah 180 derajat. Tapi… apa dia mau menerimaku.”
            “Dia pasti mau menerimamu. Kamu mau kubantuin nggak ngomong sama dia.”
            “Ng…”
            Tiba-tiba orang yang dibicarakan keluar.
            “Eh, Alia, Bella. Sedang apa kalian di sini?”
            “Oh, tadi aku nggak sengaja bertemu Bella di sini.” Alia berbohong.
            “Ooooh gitu. Ya udah aku kembali ke kelas dulu ya.” Niko berbalik memutar.
            “Niko, tunggu! Aku mau bicara sesuatu sama kamu.”
            “Bicara masalah apa ya?”
            “Mmm, kamu mau nggak nanti malem aku ajak ke kafe yang waktu itu kamu ajak aku ke sana?”
            “Boleh. Jam tujuh ya. Tapi kalau aku nggak ada acara ya. Udah ya…”
            “Ciee… yang mau kencan”

vvvvv

            Di kafe di mana tempat Niko nyatain cinta ke Alia.
            “Alia, maaf ya aku telat. Soalnya, tadi aku harus ngerjain tugas dulu.” Niko berbohong. Sebetulnya, sebelum pergi dia berdebat dulu dengan ayahnya.
            “Nggak apa-apa kok. Aku juga baru nyampai.”
            “Ini dulu tempat kamu menolak cinta aku, ya kan?” Niko menyindir.
            Alia tersenyum. “Kalau tawaranmu dulu aku terima, gimana?”
            “Aku nggak bakalan nolak.” jawab Niko.
            Mereka berdua lalu tertawa geli. Ah, cinta…

vvvvv

            Dua minggu setelah kejadian itu, pertandingan basket diadakan. Tim basket Niko akhirnya bisa masuk final. Persaingan sengit memperebutkan piala pun dimulai. Pada menit pertama Niko berhasil memasukkan bola ke keranjang lawan. Namun, ternyata tim lawan sangat kuat hingga akhirnya tim basket Niko kalah. Ada tersembul wajah yang sangat kecewa. Ayah Niko tidak dapat menerima kekalahan Niko.
            “Selamat ya, Nik.” Alia memberikan ucapan selamat.
            “Selamat apanya, aku kan kalah.”
            “Setidaknya kan kamu dapat juara dua.”
            “Selamat juga untukmu karena kamu udah menjabat menjadi sekretaris di OSIS. Eh, yang kepilih jadi ketos Dimas, kan?”
            “Terima kasih. Iya, Dimas terpilih jadi ketos. Oh ya, ngomong-ngomong, sepertinya kita harus menyudahi hubungan kita.”
            “Apa? Kamu mau kita putus?”
            Alia mengangguk. “Iya. Kita harus menyudahi hubungan kita. Ada seseorang yang nggak menyukai hubungan kita yaitu ayah kamu. Jadi, aku minta putusin aku.” Alia pergi dengan berlinang air mata.
            Begitu tertusuk hati Niko. Ayahnya begitu kejam. Waktu ia ingin ngeband dengan teman-temannya, ayahnya tidak membolehkannya. Waktu ia ingin menjadi ketos, ayahnya juga tidak ijinkan. Sekarang, ia kehilangan cintanya gara-gara ayahnya sendiri. Ayah yang sangat dikaguminya kenapa tega sekali merusak semua keinginannya? Apa ayah tidak tau, Niko tidak ingin di bawah ayahnya terus. Ia ingin menentukan pilihannya sendiri.
            Sesampainya di rumah Niko lalu dimarahi ayahnya.
            “Dasar anak nggak tahu balas budi. Ayah kan hanya minta kamu mempersembahkan sebuah piala emas kepada ayah. Kenapa begitu saja kamu nggak bisa?” maki ayahnya.
            “Maaf ayah. Mungkin kemampuanku hanya sebatas itu.”
           “Kamu sebetulnya mampu. Hanya saja kamu malas latihan dan nggak serius dalam bertanding. Padahal ayah sudah menyuruh Alia untuk meninggalkanmu. Sebenarnya, apa sih keinginanmu?”
            “Keinginan saya cuma satu ayah, terbebas dari ayah. Dan berhenti bermain basket.”
            “Dasar anak muda!! Kalau kamu mau bebas, sana keluar dari rumah ini!”
            “Jadi, ayah mengusirku. Baik, aku akan pergi dari rumah ini!”
            “Jangan, nak! Ibu nggak mau kehilangan kamu.”
            “Ah biarkan sajalah, bu.”
            Niko merasa muak dengan perkataan ayahnya. Ia lalu menaiki motornya dan melesa dengan kecepatan tinggi bagai pembalap motor kelas internasional. Niko mengendarai motor sambil memikirkan perkataan ayahnya. Hingga akhirnya motor dan tubuhnya dihajar oleh bus besar dari arah yang berlawanan.

vvvvv

            Telepon di rumah Niko berdering, ayahnya mengangkat gagang  telepon di rumah itu.
            “Halo. Ada yang bisa saya bantu. Anda ingin berbicara dengan siapa?......Apa?! Niko kecelakaan! Sekarang ada di rumah sakit Setya Budi. Baik saya akan segera kesana.”
            “Ada apa, yah?”
            “Niko kecelakaan, bu. Sekarang ada di rumah sakit Setya Budi.”
            “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Kita harus segera ke sana yah.”

            Di rumah sakit.
            “Maaf pak mungkin hanya ini kemampuan saya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa.”
            “Jadi…anak saya dokter…” dokter mengangguk. “Nikoooo… maafkan ayah, nak ayah terlalu memaksakan kehendak ayah ke kamu.ayah tidak mendukung keinginanmu ayah memang bukan ayah yang baik, nak. Maafkan ayah, nak, maafkan.”ayahnya menagis di pelukan Niko. Keluarga Niko sedang dilanda banjir air mata.

vvvvv

            “Niko walaupun kamu nggak ada, tapi kenangan terindahku denganmu yang cuma beberapa minggu nggak akan pernah aku lupakan. Karena aku mencintaimu dengan tulus. Maaafin aku yang selalu berburuk sangka kepadamu.
           Niko kalau kamu tau, ayahmu menjadi gila karena kepergianmu. Mungkin ia sangat menyesal. Semoga kamu bisa diterima di sisi-Nya. Salam sayang untukmu…Niko.” (Alia,  dalam buku hariannya)

vvvvv

0 komentar:

Posting Komentar