Kamis, 29 Agustus 2013

Di Kota Paradoksal


Oleh : Ayu F. Izaki
 
      Banyak pendapat mengatakan bahwa penduduk Indonesia itu ramah-ramah. Namun, pendapat tersebut sangatlah berlawanan di dunia nyata. Penduduk Indonesia terutama di kota tidaklah ramah seperti yang dibayangkan dalam benak banyak orang. Aku bisa berkata begitu karena aku telah menjadi korban ketidakramahan itu.      
Sudah dua minggu, sejak kepindahanku ke kota metropolitan ini, tak ada seorang pun yang mau menjadi temanku di sekolah. Walaupun sekolahku ini merupakan sekolah elite nan megah dengan berbagai fasilitas yang ada dibandingkan dengan sekolahku dulu di desa, tetap saja hati kecilku merasa tak nyaman dan enggan bersekolah.
            “Hei, anak ndeso, ngapain elo di situ?! Udah deh, nggak usah nimbrung obrolan kita. Elo tuh nggak bakalan nyambung dengan kita-kita. Tau nggak?!” Maki segerombolan kaum borjuis yang dipelopori oleh Friska.
             Begitulah...secuil bingkisan hinaan yang pedas yang selalu aku terima acapkali aku ingin bergabung dengan mereka, penduduk kota yang merupakan kaum borjuis. Mereka selalu men-capku sebagai anak desa yang tidak akan pernah bisa memahami alur pembicaraan mereka.
 Ketika mendengar hinaan itu, hatiku serasa tercambuk hingga membuatku lumpuh tak berdaya. Sejujurnya, aku merasa kesepian di kota yang ramai ini.  Karena itu, selalu terlintas di benakku untuk pulang ke kampung halamanku di Bantul, Yogyakarta. Andai saja, ibuku tidak nikah lagi dengan seorang pengusaha kaya Jakarta, pastilah saat ini aku masih mempunyai banyak teman. Dan andaikan saja Friska, teman sekolah yang sekaligus merangkap menjadi tetanggaku itu tidak membeberkan asal-usulku pastilah semua penghuni sekolah mau menjadi temanku.
            Seperti biasa, hari ini juga merupakan hari yang menjenuhkan bagiku. Betapa tidak, ketika guru Biologiku di sekolah yang terkenal killer itu memberi tugas kelompok dan kita dibebaskan untuk memilih anggota kelompok masing-masing, aku yang seperti biasa harus menelan ludah karena tidak kebagian jatah kelompok. Wajar saja karena di kelasku jumlah muridnya ganjil. Dikarenakan aku yang kebingungan karena tidak ada yang mau memasukkan aku ke dalam kelompok mereka, akhirnya Pak Santoso, guru Biologiku itu memasukkan aku ke dalam kelompoknya Friska.
            “Dian, kamu tidak dapat kelompok lagi ya?” tanya Pak Santoso dengan nada sinis. Terang saja karena aku sudah berkali-kali tidak kebagian jatah kelompok.
            “I-iya Pak. Tidak ada yang mau memasukkan aku ke dalam kelompoknya, Pak. Katanya, kelompoknya sudah pas enam orang.” Aku menjawab dengan suara memelas.
            “Kalau begitu, kamu masuk ke dalam kelompok Friska saja ya. Kamu dan Friska kan rumahnya berdekatan. “
            “Jangan Pak, anak ndeso itu nggak pantas masuk ke kelompok saya! Lagian, kelompoknya udah pas enam orang!!” Friska angkat suara, menyatakan keberatan.
            “Sudah, pokoknya Dian masuk ke kelompokmu titik!” Akhirnya debat itu dimenangkan oleh Pak Santoso. Dan mau atau tidak, aku dan Friska harus satu kelompok.
            Sebenarnya aku enggan masuk ke kelompok Friska. Tapi, mau bagaimana lagi, aku jelas-jelas tidak mendapatkan kelompok. Tugas biologi itu adalah tugas rumah. Setiap kelompok harus mencari dan membuat makalah mengenai penyakit yang disebabkan oleh virus. Dan seperti yang sudah kuduga, Friska dan teman-temannya menyuruhku untuk mengerjakan tugas itu sendirian.
            “Hei anak ndeso, elo aja deh yang ngerjain tugasnya, oke?” suruh Friska layaknya seorang majikan dan aku seorang babu.
“Tapi, ini kan tugas kelompok. Jadi, harus dikerjakan bersama-sama,” ucapku tidak senang.
“Gue itu udah masukin elo ke kelompok gue. Seharusnya elo berterima kasih ke gue. Kalo saja bukan Pak guru yang minta, gue nggak akan sudi ngebantuin anak ndeso macam elo. Mengerti?! Awas kalo elo aduin ke Pak Santoso!”
            Begitulah, dengan hati yang berat, aku harus melaksanakan titah Friska.Yah, aku memang tidak berani berhadapan dengan orang-orang semacam Friska. Walaupun sejujurnya aku benar-benar tak mau dianggap seperti seorang babu.

~~~

            Aku merasakan hawa segar yang membelai parasku. Sang mentari dengan senang hati mau menjadi sahabatku di pagi ini. Aku berlari-lari mengitari komplek perumahanku sambil melihat-lihat sekeliling. Pernyataanku tentang tidak ramahnya penduduk kota memanglah benar adanaya. Tadi saja sewaktu aku menyapa seorang ibu tambun di tepi taman dekat komplek perumahanku, dia nampak melengos, memalingkan mukanya. Apa lantaran kita tidak saling mengenal? Tapi di desa kenal atau tidak, kalau bertemu ya harus saling menyapa.
            Ketika aku sedang asyik-asyiknya berpikir, tiba-tiba sebuah motor berwarna merah dengan kelajuan yang di ambang batas, menyerempet seorang gadis. Gadis itu lantas terjatuh dan memaki-maki si pembalap kelas amatir itu. Aku pun dengan spontan berlari-lari menuju gadis itu untuk membantunya berdiri.
            “Mbak, tidak ada yang terluka kan? Sini mbak, biar aku bantu berdiri.” Aku menwarkan bantuan dan mengulurkan tanganku. Si gadis itu masih sibuk membersihkan bajunya yang kotor. Ketika gadis itu menengadahkan kepalanya, betapa terkejutnya diriku. Ternyata gadis itu adalah Friska.
            “Elo? Ngapain elo disitu? Udah deh nggak usah bantuin gue berdiri. Jangan sok jadi pahlawan deh. Gue itu nggak butuh bantuan elo. Mulai sekarang elo nggak usah sok bantuin gue. Karena gue nggak mau dibantuin sama elo!” maki Friska sambil berusaha berdiri dan dengan seketika ia pergi menghilang dari hadapanku, meninggalkan tatapan sinisnya dalam ruang hatiku.
            Aku benar-benar terpaku, tidak percaya. Sebegitu jijikkah ia pada orang desa? Padahal nasi yang ia makan setiap hari adalah hasil jerih payah penduduk desa. Aku benar-benar tidak habis pikir. Kenapa aku yang niatnya baik ini harus mendapat caci maki seperti tadi?
            Sejak kejadian itu, aku selalu mendapat serpihan hinaan dari Friska. Dia selalu berkata dihadapan banyak orang, kalau aku itu ingin berlagak seperti super hero. Aku pun harus berusaha melapangkan dadaku. Aku tak ingin membalas. Buat apa meladeninya. Buang-buang waktu saja.
            Hari demi hari kulalui dengan keterasingan. Aku benar-benar ingin terbebas dalam perangkap keterasingan ini. Ternyata tidak enak hidup di kota. Tidak seperti yang diceritakan kebanyakan orang.

~~~

            Api melahap dengan rakusnya sebuah rumah mewah. Berbondong-bondong orang bersatu dan bergotong-royong membunuh api tersebut. Baru kali ini aku melihat penduduk kota yang bahu membahu berusaha memadamkan api yang sedang murka itu. Pikiran negatif yang akhirnya muncul dalam kepalaku. Pastilah karena tidak mau api itu merembet membakar rumahnya, penduduk kota akhirnya berusaha memadamkan api tersebut.
            Selenting jeritan minta tolong dan tangisan kembali terdengar di telingaku. Itu adalah suara tangis Friska yang dahulu aku dengar sebagai suara hinaan kepadaku. Ya, rumah mewah yang sedang menjadi korban santapan api ialah rumah Friska. Hatiku benar-benar iba melihat Friska dan keluarganya menangis dan menjerit pilu. Tapi, aku hanya bisa berdiri mematung tanpa bisa berbuat apa-apa. Yang bisa aku perbuat adalah menyaksikan rumah yang hampir habis dimakan api. Aku ingin berusaha memadamkan api tersebut namun aku tak mempunyai keberanian. Aku juga ingin menghibur hati Friska yang sedang merintih pedih. Namun, bila mengingat ucapan Friska yang tidak mau ditolong olehku dulu, aku pun mengurungkan niatku.
            Bukannya aku sekarang menjadi egois. Bukan. Aku bukanlah orang egois yang tak mau menolong sesama. Tapi, bukankah dia sendiri yang memintaku untuk tidak menolongnya? Bukankah ia tidak sudi bila aku berlagak menjadi super hero? Malam ini aku benar-benar hanya bisa terpaku menyaksikan skenario drama dunia ini. Api masih saja dengan rakusnya memakan serpihan sisa-sisa bangunan rumah mewah itu hingga rumah itu menjadi abu. Dan pendapatku yang berlawanan dari kebanyakan orang mengenai keramahan penduduk Indonesia selamanya akan terus berlaku.

~~~
Ditulis tiga tahun yang lalu~~

0 komentar:

Posting Komentar