Oleh : Ayu F. Izaki
Banyak pendapat mengatakan bahwa
penduduk Indonesia itu ramah-ramah. Namun, pendapat tersebut sangatlah
berlawanan di dunia nyata. Penduduk Indonesia terutama di kota tidaklah ramah
seperti yang dibayangkan dalam benak banyak orang. Aku bisa berkata begitu
karena aku telah menjadi korban ketidakramahan itu.
Sudah dua minggu,
sejak kepindahanku ke kota metropolitan ini, tak ada seorang pun yang mau
menjadi temanku di sekolah. Walaupun sekolahku ini merupakan sekolah elite nan
megah dengan berbagai fasilitas yang ada dibandingkan dengan sekolahku dulu di
desa, tetap saja hati kecilku merasa tak nyaman dan enggan bersekolah.
“Hei,
anak ndeso, ngapain elo di situ?! Udah deh, nggak usah nimbrung obrolan kita. Elo
tuh nggak bakalan nyambung dengan kita-kita. Tau nggak?!” Maki segerombolan
kaum borjuis yang dipelopori oleh Friska.
Begitulah...secuil bingkisan hinaan yang pedas
yang selalu aku terima acapkali aku ingin bergabung dengan mereka, penduduk
kota yang merupakan kaum borjuis. Mereka selalu men-capku sebagai anak desa
yang tidak akan pernah bisa memahami alur pembicaraan mereka.
Ketika mendengar hinaan itu, hatiku serasa
tercambuk hingga membuatku lumpuh tak berdaya. Sejujurnya, aku merasa kesepian
di kota yang ramai ini. Karena itu,
selalu terlintas di benakku untuk pulang ke kampung halamanku di Bantul,
Yogyakarta. Andai saja, ibuku tidak nikah lagi dengan seorang pengusaha kaya
Jakarta, pastilah saat ini aku masih mempunyai banyak teman. Dan andaikan saja
Friska, teman sekolah yang sekaligus merangkap menjadi tetanggaku itu tidak
membeberkan asal-usulku pastilah semua penghuni sekolah mau menjadi temanku.
Seperti
biasa, hari ini juga merupakan hari yang menjenuhkan bagiku. Betapa tidak,
ketika guru Biologiku di sekolah yang terkenal killer itu memberi tugas
kelompok dan kita dibebaskan untuk memilih anggota kelompok masing-masing, aku
yang seperti biasa harus menelan ludah karena tidak kebagian jatah kelompok.
Wajar saja karena di kelasku jumlah muridnya ganjil. Dikarenakan aku yang
kebingungan karena tidak ada yang mau memasukkan aku ke dalam kelompok mereka,
akhirnya Pak Santoso, guru Biologiku itu memasukkan aku ke dalam kelompoknya
Friska.
“Dian,
kamu tidak dapat kelompok lagi ya?” tanya Pak Santoso dengan nada sinis. Terang
saja karena aku sudah berkali-kali tidak kebagian jatah kelompok.
“I-iya
Pak. Tidak ada yang mau memasukkan aku ke dalam kelompoknya, Pak. Katanya,
kelompoknya sudah pas enam orang.” Aku menjawab dengan suara memelas.
“Kalau
begitu, kamu masuk ke dalam kelompok Friska saja ya. Kamu dan Friska kan
rumahnya berdekatan. “
“Jangan
Pak, anak ndeso itu nggak pantas masuk ke kelompok saya! Lagian, kelompoknya udah
pas enam orang!!” Friska angkat suara, menyatakan keberatan.
“Sudah,
pokoknya Dian masuk ke kelompokmu titik!” Akhirnya debat itu dimenangkan oleh
Pak Santoso. Dan mau atau tidak, aku dan Friska harus satu kelompok.
Sebenarnya
aku enggan masuk ke kelompok Friska. Tapi, mau bagaimana lagi, aku jelas-jelas
tidak mendapatkan kelompok. Tugas biologi itu adalah tugas rumah. Setiap
kelompok harus mencari dan membuat makalah mengenai penyakit yang disebabkan
oleh virus. Dan seperti yang sudah kuduga, Friska dan teman-temannya menyuruhku
untuk mengerjakan tugas itu sendirian.
“Hei
anak ndeso, elo aja deh yang ngerjain tugasnya, oke?” suruh Friska layaknya
seorang majikan dan aku seorang babu.
“Tapi, ini kan
tugas kelompok. Jadi, harus dikerjakan bersama-sama,” ucapku tidak senang.
“Gue itu udah
masukin elo ke kelompok gue. Seharusnya elo berterima kasih ke gue. Kalo saja
bukan Pak guru yang minta, gue nggak akan sudi ngebantuin anak ndeso macam elo.
Mengerti?! Awas kalo elo aduin ke Pak Santoso!”
Begitulah,
dengan hati yang berat, aku harus melaksanakan titah Friska.Yah, aku memang
tidak berani berhadapan dengan orang-orang semacam Friska. Walaupun sejujurnya aku
benar-benar tak mau dianggap seperti seorang babu.
~~~
Aku
merasakan hawa segar yang membelai parasku. Sang mentari dengan senang hati mau
menjadi sahabatku di pagi ini. Aku berlari-lari mengitari komplek perumahanku sambil
melihat-lihat sekeliling. Pernyataanku tentang tidak ramahnya penduduk kota
memanglah benar adanaya. Tadi saja sewaktu aku menyapa seorang ibu tambun di
tepi taman dekat komplek perumahanku, dia nampak melengos, memalingkan mukanya.
Apa lantaran kita tidak saling mengenal? Tapi di desa kenal atau tidak, kalau
bertemu ya harus saling menyapa.
Ketika
aku sedang asyik-asyiknya berpikir, tiba-tiba sebuah motor berwarna merah
dengan kelajuan yang di ambang batas, menyerempet seorang gadis. Gadis itu lantas
terjatuh dan memaki-maki si pembalap kelas amatir itu. Aku pun dengan spontan
berlari-lari menuju gadis itu untuk membantunya berdiri.
“Mbak,
tidak ada yang terluka kan? Sini mbak, biar aku bantu berdiri.” Aku menwarkan
bantuan dan mengulurkan tanganku. Si gadis itu masih sibuk membersihkan bajunya
yang kotor. Ketika gadis itu menengadahkan kepalanya, betapa terkejutnya
diriku. Ternyata gadis itu adalah Friska.
“Elo?
Ngapain elo disitu? Udah deh nggak usah bantuin gue berdiri. Jangan sok jadi
pahlawan deh. Gue itu nggak butuh bantuan elo. Mulai sekarang elo nggak usah
sok bantuin gue. Karena gue nggak mau dibantuin sama elo!” maki Friska sambil
berusaha berdiri dan dengan seketika ia pergi menghilang dari hadapanku,
meninggalkan tatapan sinisnya dalam ruang hatiku.
Aku
benar-benar terpaku, tidak percaya. Sebegitu jijikkah ia pada orang desa?
Padahal nasi yang ia makan setiap hari adalah hasil jerih payah penduduk desa.
Aku benar-benar tidak habis pikir. Kenapa aku yang niatnya baik ini harus
mendapat caci maki seperti tadi?
Sejak
kejadian itu, aku selalu mendapat serpihan hinaan dari Friska. Dia selalu
berkata dihadapan banyak orang, kalau aku itu ingin berlagak seperti super
hero. Aku pun harus berusaha melapangkan dadaku. Aku tak ingin membalas. Buat apa
meladeninya. Buang-buang waktu saja.
Hari
demi hari kulalui dengan keterasingan. Aku benar-benar ingin terbebas dalam
perangkap keterasingan ini. Ternyata tidak enak hidup di kota. Tidak seperti
yang diceritakan kebanyakan orang.
~~~
Api
melahap dengan rakusnya sebuah rumah mewah. Berbondong-bondong orang bersatu
dan bergotong-royong membunuh api tersebut. Baru kali ini aku melihat penduduk
kota yang bahu membahu berusaha memadamkan api yang sedang murka itu. Pikiran
negatif yang akhirnya muncul dalam kepalaku. Pastilah karena tidak mau api itu
merembet membakar rumahnya, penduduk kota akhirnya berusaha memadamkan api
tersebut.
Selenting
jeritan minta tolong dan tangisan kembali terdengar di telingaku. Itu adalah
suara tangis Friska yang dahulu aku dengar sebagai suara hinaan kepadaku. Ya,
rumah mewah yang sedang menjadi korban santapan api ialah rumah Friska. Hatiku
benar-benar iba melihat Friska dan keluarganya menangis dan menjerit pilu.
Tapi, aku hanya bisa berdiri mematung tanpa bisa berbuat apa-apa. Yang bisa aku
perbuat adalah menyaksikan rumah yang hampir habis dimakan api. Aku ingin
berusaha memadamkan api tersebut namun aku tak mempunyai keberanian. Aku juga
ingin menghibur hati Friska yang sedang merintih pedih. Namun, bila mengingat
ucapan Friska yang tidak mau ditolong olehku dulu, aku pun mengurungkan niatku.
Bukannya
aku sekarang menjadi egois. Bukan. Aku bukanlah orang egois yang tak mau
menolong sesama. Tapi, bukankah dia sendiri yang memintaku untuk tidak
menolongnya? Bukankah ia tidak sudi bila aku berlagak menjadi super hero? Malam
ini aku benar-benar hanya bisa terpaku menyaksikan skenario drama dunia ini.
Api masih saja dengan rakusnya memakan serpihan sisa-sisa bangunan rumah mewah
itu hingga rumah itu menjadi abu. Dan pendapatku yang berlawanan dari
kebanyakan orang mengenai keramahan penduduk Indonesia selamanya akan terus
berlaku.
~~~
Ditulis tiga tahun yang lalu~~

0 komentar:
Posting Komentar