"Pasien ke 80 Ny. Fatma, dipersilahkan masuk,” ujar seorang perawat
mempersilahkan seorang nenek masuk ke ruang praktekku.
Nenek
itu adalah pasien ke 80 yang akan aku periksa. Kuusap keringat yang berlelehan
di dahiku. Yah…hari ini aku memang benar-benar sibuk. Sampai-sampai keringatku bercucuran membasahi
bajuku. Maklumlah,
kredibilitasku sebagai seorang dokter bedah sedang meningkat. Apalagi, baru-baru ini aku telah berhasil memisahkan
bayi kembar siam.
¯¯¯¯¯
“Hendri, kamu mau
masuk ekskul apa?!” suara Dito membangunkan tidurku yang nyenyak. Mungkin dia
baru saja dari papan pengumuman.
“Kamu ini
ngagetin aku aja! Entahlah, aku mau masuk
ekskul apa. Aku ini kan orangnya pemalas. Lha wong, disuruh belajar aja males. Apalagi, disuruh ikut kegiatan
ekskul. Emangnya, kamu sendiri udah mikir mau masuk ekskul apa?” aku berceloteh
panjang lebar.
“Mm…belom, sih.
Tapi, gimana kalau kita masuk ekskul PMR. Di PMR kita kan hanya datang,
dengerin ceramah, absen, trus pulang deh. Itu aja kan kegiatan di PMR?” usul
Dito.
“Apa
PMR?! PMR itu kan organisasi untuk cewek! Aku kan cowok!” kataku dengan nada tinggi.
“Jangan sewot
dulu, dong! Di PMR kan ada cowoknya juga. Buktinya Kak Romi dan Kak Ivan. Lagian, kalau kita nggak masuk ekskul
apapun kita nggak bisa ambil rapot. Nilai ekskul itu ditulis di rapot. Gimana?
Mau?” terang Dito kemudian.
JJJJJ
Matahari sedang garang-garangnya memanggang bumi.
Akibatnya, aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Tapi, aku nggak boleh pulang
dulu ke rumah. Aku harus ikut kegiatan PMR, karena akhirnya aku jadi masuk
oganisasi PMR. Soalnya ekskul ini kegiatannya nggak padat. Males kali kalau
ikut kegiatan yang padat. Setiap hari Selasa aku harus datang ke kelas XI IA 3,
dengerin ceramah, absent, terus pulang deh. Kalau boleh jujur sih, sebenarnya
aku nggak mau masuk PMR kalau bukan karena terpaksa. Habis yang ikut cewek semua.
Yang cowok hanya tiga orang saja, yaitu aku, Dito, dan si gendut, Ucup. Lagian
ceramahnya bosenin, suka diulang-ulang. Suka ngantuk aku kalau dengerin
ceramahnya Pak Bambang, pelatih PMR di sekolahku.
ZZZZZ
Saat
ini aku tengah menikmati asyiknya aktivitas ngepek
(He 3X ). Mau gimana lagi dong! Tadi malam aku kan nggak belajar (Emang
biasanya nggak pernah belajar.J). Ya, beginilah caraku untuk
mendapatkan nilai bagus. Aku udah ahli melakukan aktivitas ini. Jadi, aku nggak
pernah ketahuan saat melakukan aktivitas ini.
Oh, iya! Kalian belum
tahu ya apa itu aktivitas ngepek. Orang-orang malas
termasuk aku sering sekali melakukan aktivitas ini. Sebelum ulangan dimulai
biasanya orang-orang malas akan
merangkum materi yang akan diulangankan di selembar kertas. Kami (orang-orang
malas) akan menulisnya kecil-kecil agar muat di kertas tersebut. Lalu melipat kertas itu menjadi kecil-kecil. Pas
ulangan dimulai, kertas itu dibuka dan tulisan yang ada di kertas dipindahkan
ke lembar jawab. Kalau
mau berhasil dalam aktivitas ini, kalian harus lihat-lihat dulu penjaganya di
mana. Di depan, di belakang, di kanan kirimu atau mungkin aja di bawahmu (emang
mau main petak umpet!) Nah, itulah yang
dinamakan ngepek.
Alhasil, dengan cara itulah sekarang
ini aku berhasil masuk ke kelas IPA. Harus dong! Ayahku seorang dokter. Dia menyuruhku menjadi dokter juga.
Meniru jejaknya gitu. Kalau aku masuk kelas IPS, bisa habislah aku dihajar oleh
ayahku.
“Hendri, kamu sedang
apa?!” bentak Pak guru yang ternyata udah dari tadi berdiri di sampingku. Gawat
nih!
“Sa...sa…ya, Pak?”
wajahku udah mulai pucat.
“Iya, kamu! Memangnya
siapa lagi?! Sini kemarikan kertas kecil yang kamu pegang dan kemarikan lembar
jawabanmu!”
“Katanya jago
ngepek,” celetuk seorang temanku diikuti dengan sorakan teman-teman sekelasku,
“Huuuuu……..” Wajahku pun langsung memerah karena malu.
“Sudah-sudah jangan
berisik! Yang lain kerjakan lagi! Dan kamu Hendri, sana keluar!” perintah Pak
guru.
YYYYY
Kulihat lingkungan di sekitarku. Hm tidak ada orang, kok.
“Hendri,
cepetan dong naiknya! Ntar kita ketahuan loh!” seru Andi yang ada di
bawahku.
“Iya, iya,” jawabku sambil berusaha memanjat pagar
sekolahku yang tinggi. Sesudah jam istirahat ada pelajaran yang tak kusuka sih….
Jadi, waktu dapat tawaran bolos dari Andi, aku langsung mengiyakan.
“Hendri, Andi sedang apa kalian?! Kalian mau membolos
ya?!” Bu Endah, guru BP-ku ternyata sudah berdiri di belakang Andi. Aku pun bergegas turun dari pagar.
“Eh,
Bu guru. Ka…ka…mi tidak melakukan apa-apa kok. Iya kan Hendri?” kata Andi
gugup.
“Sudah
tidak usah banyak omong. Kalian berdua segera ke kantor saya.”
“Cepat!!”
QQQQQ
Kring…kring…kring.
Suara telepon di rumahku membuyarkanku pada ingatan masa-masa sekolahku.
Aku kemudian bergegas mengangkat gagang telepon.
“Halo,
apa benar ini kediaman dokter Hendri?” tanya sebuah suara di seberang.
“Iya
benar saya sendiri. Ada perlu apa ya?” jawabku.
“Saya
anak dari Ibu Fatma. Saya hanya mau bilang, Anda ini kan dokter yang sangat
ahli. Tapi, kenapa ibu saya meninggal setelah minum obat yang Anda
berikan?! Apakah Anda salah memberikan resep? Saya mauhon pertanggungjawaban
Anda!”
Klik! Telepon terputus. Apa benar yang dibilang oleh anak Ibu Fatma itu?
Kalau aku telah salah memberikan resep obat? Kalau begitu aku melakukan
malpraktek dong? Gimana ini? Tapi, kayaknya benar aku salah menghitung
dosisnya. Aduh, apa yang harus aku lakukan?
Kring…kring…kring. Suara
telepon di rumahku berbunyi lagi. Kubiarkan mesin penjawab telepon yang
menjawabnya.
“Di sini kediaman dokter Hendri. Tapi saya sedang tidak
ada di rumah. Bisa tinggalkan pesan?”
“Halo, saya petugas rumah sakit. Saya mendengar Ibu Fatma
meninggal setelah minum obat yang diberikan oleh Anda. Sekarang ini jenazah Almarhumah akan
segera diotopsi. Harap Anda segera ke rumah sakit!”
Klik!
Dan telepon pun terputus. Aduh, jadi benar kalau aku melakukan malpraktek?! Gimana
kalau hasil otopsi menunjukkan kalau aku yang salah? Aku bisa di penjara. Mau
ditaruh di mana mukaku ini?! Aku kan terkenal sebagai dokter yang sangat ahli?
Iya. Aku harus pergi…. Pergi dari kota ini sebelum semuanya tahu kalau aku yang
salah.
ÙÙÙÙÙ
~~ditulis 5 tahun yang lalu :))

0 komentar:
Posting Komentar