Kamis, 29 Agustus 2013

Malpraktek

Oleh : Ayu F. Izaki



           "Pasien ke 80 Ny. Fatma, dipersilahkan masuk,” ujar seorang perawat mempersilahkan seorang nenek masuk ke ruang praktekku.
            Nenek itu adalah pasien ke 80 yang akan aku periksa. Kuusap keringat yang berlelehan di dahiku. Yah…hari ini aku memang benar-benar sibuk. Sampai-sampai keringatku bercucuran membasahi bajuku. Maklumlah, kredibilitasku sebagai seorang dokter bedah sedang meningkat. Apalagi, baru-baru ini aku telah berhasil memisahkan bayi kembar siam.

¯¯¯¯¯

            “Hendri, kamu mau masuk ekskul apa?!” suara Dito membangunkan tidurku yang nyenyak. Mungkin dia baru saja dari papan pengumuman.
            “Kamu ini ngagetin aku aja! Entahlah, aku mau masuk ekskul apa. Aku ini kan orangnya pemalas. Lha wong, disuruh belajar aja males. Apalagi, disuruh ikut kegiatan ekskul. Emangnya, kamu sendiri udah mikir mau masuk ekskul apa?” aku berceloteh panjang lebar.
            “Mm…belom, sih. Tapi, gimana kalau kita masuk ekskul PMR. Di PMR kita kan hanya datang, dengerin ceramah, absen, trus pulang deh. Itu aja kan kegiatan di PMR?” usul Dito.
            “Apa PMR?! PMR itu kan organisasi untuk cewek! Aku kan cowok!” kataku dengan nada tinggi.
            “Jangan sewot dulu, dong! Di PMR kan ada cowoknya juga. Buktinya Kak Romi dan Kak Ivan. Lagian, kalau kita nggak masuk ekskul apapun kita nggak bisa ambil rapot. Nilai ekskul itu ditulis di rapot. Gimana? Mau?” terang Dito kemudian.

JJJJJ

Matahari sedang garang-garangnya memanggang bumi. Akibatnya, aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Tapi, aku nggak boleh pulang dulu ke rumah. Aku harus ikut kegiatan PMR, karena akhirnya aku jadi masuk oganisasi PMR. Soalnya ekskul ini kegiatannya nggak padat. Males kali kalau ikut kegiatan yang padat. Setiap hari Selasa aku harus datang ke kelas XI IA 3, dengerin ceramah, absent, terus pulang deh. Kalau boleh jujur sih, sebenarnya aku nggak mau masuk PMR kalau bukan karena terpaksa. Habis yang ikut cewek semua. Yang cowok hanya tiga orang saja, yaitu aku, Dito, dan si gendut, Ucup. Lagian ceramahnya bosenin, suka diulang-ulang. Suka ngantuk aku kalau dengerin ceramahnya Pak Bambang, pelatih PMR di sekolahku.

ZZZZZ

            Saat ini aku tengah menikmati asyiknya aktivitas ngepek (He 3X ). Mau gimana lagi dong! Tadi malam aku kan nggak belajar (Emang biasanya nggak pernah belajar.J). Ya, beginilah caraku untuk mendapatkan nilai bagus. Aku udah ahli melakukan aktivitas ini. Jadi, aku nggak pernah ketahuan saat melakukan aktivitas ini.
            Oh, iya! Kalian belum tahu ya apa itu aktivitas ngepek. Orang-orang malas termasuk aku sering sekali melakukan aktivitas ini. Sebelum ulangan dimulai biasanya  orang-orang malas akan merangkum materi yang akan diulangankan di selembar kertas. Kami (orang-orang malas) akan menulisnya kecil-kecil agar muat di kertas tersebut. Lalu melipat kertas itu menjadi kecil-kecil. Pas ulangan dimulai, kertas itu dibuka dan tulisan yang ada di kertas dipindahkan ke lembar jawab. Kalau mau berhasil dalam aktivitas ini, kalian harus lihat-lihat dulu penjaganya di mana. Di depan, di belakang, di kanan kirimu atau mungkin aja di bawahmu (emang mau main petak umpet!)  Nah, itulah yang dinamakan ngepek.
            Alhasil, dengan cara itulah sekarang ini aku berhasil masuk ke kelas IPA. Harus dong! Ayahku seorang dokter. Dia menyuruhku menjadi dokter juga. Meniru jejaknya gitu. Kalau aku masuk kelas IPS, bisa habislah aku dihajar oleh ayahku.
            “Hendri, kamu sedang apa?!” bentak Pak guru yang ternyata udah dari tadi berdiri di sampingku. Gawat nih!
            “Sa...sa…ya, Pak?” wajahku udah mulai pucat.
            “Iya, kamu! Memangnya siapa lagi?! Sini kemarikan kertas kecil yang kamu pegang dan kemarikan lembar jawabanmu!”
            “Katanya jago ngepek,” celetuk seorang temanku diikuti dengan sorakan teman-teman sekelasku, “Huuuuu……..” Wajahku pun langsung memerah karena malu.
            “Sudah-sudah jangan berisik! Yang lain kerjakan lagi! Dan kamu Hendri, sana keluar!” perintah Pak guru.


YYYYY


            Kulihat lingkungan di sekitarku. Hm tidak ada orang, kok.
            “Hendri, cepetan dong naiknya! Ntar kita ketahuan loh!” seru Andi yang ada di bawahku.
            “Iya, iya,” jawabku sambil berusaha memanjat pagar sekolahku yang tinggi. Sesudah jam istirahat ada pelajaran yang tak kusuka sih…. Jadi, waktu dapat tawaran bolos dari Andi, aku langsung mengiyakan.
            “Hendri, Andi sedang apa kalian?! Kalian mau membolos ya?!” Bu Endah, guru BP-ku ternyata sudah berdiri di belakang Andi. Aku pun bergegas turun dari pagar.
            “Eh, Bu guru. Ka…ka…mi tidak melakukan apa-apa kok. Iya kan Hendri?” kata Andi gugup.
            “Sudah tidak usah banyak omong. Kalian berdua segera ke kantor saya.”
“Cepat!!”

QQQQQ
            Kring…kring…kring.
            Suara telepon di rumahku membuyarkanku pada ingatan masa-masa sekolahku. Aku kemudian bergegas mengangkat gagang telepon.
            “Halo, apa benar ini kediaman dokter Hendri?” tanya sebuah suara di seberang.
            “Iya benar saya sendiri. Ada perlu apa ya?” jawabku.
            “Saya anak dari Ibu Fatma. Saya hanya mau bilang, Anda ini kan dokter yang sangat ahli. Tapi, kenapa ibu saya meninggal setelah minum obat yang Anda berikan?! Apakah Anda salah memberikan resep? Saya mauhon pertanggungjawaban Anda!”
            Klik! Telepon terputus. Apa benar yang dibilang oleh anak Ibu Fatma itu? Kalau aku telah salah memberikan resep obat? Kalau begitu aku melakukan malpraktek dong? Gimana ini? Tapi, kayaknya benar aku salah menghitung dosisnya. Aduh, apa yang harus aku lakukan?
             Kring…kring…kring. Suara telepon di rumahku berbunyi lagi. Kubiarkan mesin penjawab telepon yang menjawabnya.
            “Di sini kediaman dokter Hendri. Tapi saya sedang tidak ada di rumah. Bisa tinggalkan pesan?”
            “Halo, saya petugas rumah sakit. Saya mendengar Ibu Fatma meninggal setelah minum obat yang diberikan oleh Anda. Sekarang ini jenazah Almarhumah akan segera diotopsi. Harap Anda segera ke rumah sakit!”
            Klik! Dan telepon pun terputus. Aduh, jadi benar kalau aku melakukan malpraktek?! Gimana kalau hasil otopsi menunjukkan kalau aku yang salah? Aku bisa di penjara. Mau ditaruh di mana mukaku ini?! Aku kan terkenal sebagai dokter yang sangat ahli? Iya. Aku harus pergi…. Pergi dari kota ini sebelum semuanya tahu kalau aku yang salah.

ÙÙÙÙÙ

~~ditulis 5 tahun yang lalu :))

0 komentar:

Posting Komentar