Minggu, 22 Februari 2015

SAKSI BISU

SAKSI BISU
Oleh: Ayu F. Izaki

            Ibu Surti. Begitulah ia biasa dipanggil. Hidup dalam kesendirian di sebuah rumah kecil yang rapuh. Entahlah. Semua anak-anak Ia setelah sukses di negeri orang, dengan tega menelantarkannya. Membiarkan dirinya hidup bertemankan sepi.
            Ibu Surti. Tuanku yang satu ini memiliki tangan yang terampil. Ia bisa menyatukan semua bahan yang ada menjadi sesuatu yang memiliki citra rasa tinggi. Dengan keahliannya itulah Ia dapat menghidupi dirinya dan ketiga anak-anaknya.
            Ibu Surti. Selalu bangun sebelum subuh. Menyiapkan semua bahan, mencampurkannya, dan memasaknya menjadi makanan yang lezat. Setelah makanan itu jadi, Ia dengan siap pula melangkahkan kakinya, melewati tiap-tiap rumah untuk menjajakan makanan yang telah Ia buat. Uang yang Ia dapat dari hasil jerih payahnya tidaklah menentu. Kadang berlebih, kadang berkurang. Namun, itu cukup untuk menghidupi dirinya dan buah hatinya. Maklumlah setelah ia resmi menjanda, Ialah yang menjadi tumpuan hidup keluarga.
            Namun sekarang, di manakah ketiga orang anaknya berada? Mengapa mereka begitu tega melihat Ibunda tercinta bermain dengan rasa sepi? Apakah mereka tidak tahu sekeras apa Ibu Surti bekerja? Itu senua hanyalah demi mereka. Ketika raga ini mulai menampakkan kekisutan, ketika jiwa mulai kembali ke jiwa anak-anak, sebenarnya hanyalah kasih sayang anak-anaknya yang sangat diperlukan oleh wanita setengah abad ini. Sebagai perwujuda rasa bakti dan balas budi.
            Namun sayangnya, aku tidaklah bisa berbuat apa-apa demi tuanku ini. Aku tidak mempunyai daya. Yang bisa aku lakukan hanya menemaninya ketika sedang bekerja di dapur dan menjadi saksi bisu dalam berbagai kisahnya….


*****
            Sore ini, sehabis ashar di awal bulan ramadhan, Ibu Surti dengan cekatan menyiapkan semua bahan-bahan yang diperlukan untuk pekerjaanya. Kemudian bahan itu ia cuci, dikupas, dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Mencampurkan semua bahan, memberinya sedikit racikan bumbu, dan dengan ketulusan hati dan kesabaran, memasaknya hingga menjadi sebuah makanan yang membangkitkan selera. Tak lupa Ia menghiasnya agar terlihat semenarik mungkin. Ia kembali menyiapkan bahan-bahan lagi. Kali ini Ia akan membuat makanan manis untuk berbuka yang orang-orang biasa sebut dengan ta’jil.
            Aku tahu tujuan Ibu Surti membuat semua itu. Ya untuk anak-anak yang sangat ia cintai. Ia sangat berharap kalau ketiga anak-anaknya akan pulang dan menemaninya. Ketika itu terjadi, ia akan dengan suka cita menghidangkan makanan yang telah ia buat untuk dapat dimakan oleh anak-anaknya. Padahal ia tahu bahwa sangatlah mustahil mengharapkan kehadiran buah hatinya itu di sisinya. Tapi, harapan itu tidak pernah terhapus dari hati sanubarinya. Aku jadi sering membayangkan betapa bahagia raut wajahnya kala itu benar-benar terjadi. Seorang Ibu yang sabar dalam penantian panjangnya, yang lebaran nanti genap sudah lima tahun ia menanti.
            Tidak hanya bulan ramadhan ini saja ia giat menyiapkan makanan dan sabar menunggu di meja makan. Bulan-bulan lain selama hampir lima tahun ini ia selalu berbuat demikian. Memasak makanan dalam jumlah yang banyak dan berharap makanan itu akan dimakan.
            Pernah suatu ketika ia ditanya oleh salah satu tetangganya, mengapa ia membuat makanan sebanyak itu padahal ia hanya tinggal sendirian. Dengan ringannya, ia menjawab, “Untuk ketiga anak-anakku.” Meski dengan terheran-heran tetangga tersebut tidak lagi mempertanyakannya. Bahkan sebagian dari tetangganya ada yang menganggap ia sudah gila. Namun, begitulah ia dengan segala sifatnya. Ia tidak pernah menghiraukan apa kata orang.
            Ta’jil yang Ibu Surti buat telah selesai. Dari raut wajahnya terlihat begitu sangat bahagia walaupun belun tentu semua makanannya akan dimakan. Ia pun duduk-duduk di meja makan sembari tersenyum dan membayangkan kala ketiga anaknya datang, berkumpul di meja makan sambil berbincag-bincang. Namun lamunanya pun harus terhenti karena terdengar pintu rumah sedang diketuk. Bergegas Ibu Suri menuju ruang tamu dan membukakan pintu rumahnya. Terlihat seorang anak kecil berdiri di depan pintu. Intan, nama anak itu. Ia adalah keponakan ibu Surti yang sering ke runah Ibu Surti. Intan lah yang menggantikan kedudukan anak-anaknya, yang mengobati ketika ia rindu. Intan selalu ingin minta diajari memasak oleh Ibu Surti. Intan lah yang mengusir kesepiannya.
            “Assalamu’alaikum Budhe.” Intan memberi salam sambil tersenyum. Senyumnya sangat manis.
            “Wa’alaikumsalam.” Jawab Ibu Surti. “Ayo masuk! Ono opo tho nduk?”
            “Begini Budhe, Budhe hari ini buat ta’jil lagi tidak? Kalau iya, Intan mau minta. Boleh kan?” kata Intan tanpa malu-malu.
            “Intan tahu saja kalau Budhe buat ta’jil. Boleh kok Intan minta. Ayo ke dapur, kita ambil ta’jilnya.”
            Intan mengangguk lalu membuntuti Ibu Surti di belakang.
            Di dapur Ibu Surti membungkuskan makanan kolak pisang itu ke dalam kantong plastik. Tak lupa ia menyisakan kolak pisang itu.
            “Budhe, masih suka menyisakan makanan buat Mas Adi, Mbak Wilda, dan Mas Doni ya. Budhe, kan tahu kalau mereka mustahil pulang. Mereka itu durhaka, lupa sama orang yang membesarkannya. Mereka tidak sayang sama Budhe.” Intan berkata dengan mimik wajah yang polos tanpa dosa.
            “Iya, Intan. Budhe masih berharap kalau suatu saat mereka akan pulang. Intan kalau pergi juga pasti akan balik ke rumah kan?”
Intan mengangguk lucu.
            “Kalau begitu, Intan harus janji ke Budhe bahwa Intan akan berbakti kepada orangtua terutama kepada Ibu Intan.” Ibu Surti menasihati.
            “Iya Budhe,Intan janji.” Yakin Intan mantap.
            “Ya sudah sekarang Intan pulang. Sudah mau berbuka. Ini kolaknya buat Intan dan keluarga.” Ibu Surti menyodorkan bungkusan kantong plastik bewarna hitam itu.
            “Iya Budhe, Intan balik dulu. Terima kasih atas kolaknya. Assalamua’alaikum.”
            “Wa’alaikumsalam” Ibu Surti mengantarkan sang gadis kecil ke pintu. Gadis kecil itu berlarian pulang. Lucu. Ia jadi teringat kembali ketika anak-anaknya masih kecil. Kenangan yang tak bisa ia lupakan.setelah kepergian Intan, rumah Ibu Surti kembali sepi.
*****
            Akhir ramadhan. H-1 menjelang lebaran. Ibu Surti sedang sibuk dan asyiknya membuat makanan untuk menyanbut hari suci nan mulia untuk umat Islam ini. Ia dengan cekatan meracik bumbu, memotong ayam menjadi kecil-kecil, membuat santan, dan menjadikannya sebuah makanan yang disebut opor ayam. Ia pun tak lupa menengok ketupat yang sedang ia rebus di dalan panci. Dan seperti biasanya aku menemani dan membantu pekerjaan yang tengah ia lakukan ini. Tiba-tiba keasyikkannya memasak terganggu oleh suara vas bunga pecah. Praang…. Dengan cepat, Ibu Surti mematikan  kompor dan mencari sumber suara. Ia lupa menaruh pisau. Pisau masih ada dalam genggamannya.
            Dilihatnya seorang pemuda tengah membuka laci meja di ruang tengah. Seperti sedang mencari-cari sesuatu. Lemari di sebelah televisi pun terbuka dan isinya berantakan.
            “Siapa Anda?! Sedang apa Anda di rumah saya?!” Teriak Ibu Surti lantang. Pemuda itu membalikkan badannya. Ketika pemuda itu berbalik, betapa terkejutnya Ibu Surti karena yang ia lihat adalah Doni, anak bungsunya, anak yang selalu ia harapkan kedatangannya, yang selalu ia rindukan.
            “Doni, itu kamu kan nak? Ya Allah, sudah lama Ibu menantikan kepulanganmu nak. Alhamdulillah kamu akhirnya pulang dengan selamat. Peluk Ibu nak.” Ibu surti Berteriak sambil menangis. Kemudian ia menghambur ke pelukan pemuda itu. Tapi, dengan cepat pula pemuda itu menangkisnya.
            “Ada apa nak? Mengapa kamu tidak mau memeluk Ibu? Apakah kamu tidak rindu pada Ibu?” Ibu Surti masih berkata sambil terisak.
            “Ibu, kepulanganku kali ini untuk meminta sertifikat sawah milik Ayah. Ibu masih menyimpannya bukan?” Pemuda itu tanpa dosa meminta sertifikat sawah kepada Ibunya.
            “Untuk apa nak? Ibu sudah menjual sawah itu untuk kuliah kalian bertiga.”
            “Ah Ibu ini cerewet sekali, perusahaanku di Malaysia bangkrut kena tipu. Aku terjerat utang. Aku minta ibu menyiapkan uang 7,6 Milyar.”
            “Masya Allah, nak. Dari mana Ibu punya uang sebesar itu. Itu sangat mustahil nak. Lagian mengapa kamu bisa berhutang sebanyak itu?”
            “Ibu pasti berbohong. Sawah ayah kan banyak. Cepet kemarikan uang itu.”
            “Mana mungkin Ibu berbohong nak. Ibu sudah tidak punya uang lagi.”
            “Yah sudahlah.” Pemuda itu hendak pergi namun dicegat oleh Ibu Surti.
            “Mau kemana lagi nak. Tinggal lah di sini bersama Ibu.”
            “Untuk apa? Ibu sudah tidak punya uang lagi kan?”
            “Tapi nak, Ibu rindu kamu. Ibu sangat ingin ditemani oleh anak Ibu.”
            “Ah Ibu nggak tahu apa kalau aku lagi pusing, minggir sana!!”
            “Tapi nak, Ibu…” Pemuda itu mengambil pisau dari genggaman Ibu Surti dan menancapkannya ke perut Ibu Surti. Kemudian pergi seakan tanpa dosa.
            “Aaahh…” setelah mengucapkan syahadat Ibu Surti terkapar di lantai. Darah mengalir deras dari perutnya. Tak ada yang mengetahui hal ini. Kecuali aku dan Ibu Surti. Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa sebab aku adalah saksi bisu. Aku adalah benda mati. Aku turut andil dalam kematian Ibu Surti. Akulah yang membunuh tuanku sendiri. MATA PISAU!!!
*****
            Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaha illallahu wallahu akbar.. allahu akbar walillahi ilham.. Lebaran tiba. Rumah Ibu Surti sepi. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang membuka pintu rumahnya. Dan betapa terkejutnya ia sebab orang yang dicarinya terbujur kaku di lantai. Bersama aku yang tertancap di perut Ibu Surti…
            “Inalillahi… Budhe, bangun… Budhe kenapa? Masya Allah siapa yang tega melakukan semua ini.” Intan menangis sesenggukkan. Ia memeluk erat mayat itu. Ibu surti tak bernyawa lagi. Rohnya sudah melayang, berangkat menuju tenpat peristirahatan yang damai. Tak ada yang mengetahui bahwa yang membunuh Ibu Surti adalah Doni, anak bungsunya dan juga… AKU.
            Intan berlari, bergegas menuju rumahnya untuk memberitahukan kabar kematian ini kepada keluarganya.
*****

            Aku terhempas ke dalam wadah yang dipenuhi bau-bau busuk yang menyengat. Ya semenjak aku dipakai untuk berbuat jahat, aku lalu dibuang oleh pihak rumah sakit setelah dicabut dari tubuh wanita renta itu. Setelah mayatnya diotopsi, setelah aku diperiksa dan diambil sidik jari yang menempel di tubuhku. Beginilah akhir cerita tragis ini. Kematian Ibu Surti, tuanku yang pandai memasak dan selalu memanfaatkanku dalam kebaikan. Tuanku yang selalu mengharapkan kedatangan ketiga anaknya, memasak makanan yang lezat, dan menunggu di meja makan.
            Setelah kejadian itu, beberapa minggu kemudian kedua anak-anaknya sadar dan kemudian menjadikan rumah Ibu Surti sebagai tempat pelatihan memasak. Sedangkan anak bungsu yang telah membunuhnya, akhirnyaa menyerahkan diri ke hadapan polisi. Ia pun lalu di kurung di sebuah ruangan penuh nista, penjara. Ia di sel tahanan tersebut lantas menjadi gila karena mengingat perbuatan yang telah ia lakukan kepada ibunya. Ia merasa berdosa sekali.
Dan aku pun juga sangatlah merasa berdosa karena telah membunuh tuanku. Tuan yang sangat aku sayangi. Namun aku sangat tak berdaya melakukan apa-apa. Karena aku ini benda mati, saksi bisu kisahnya ….
*****
SEKIAN

#Dengan edit
Cerpen ini menjadi juara 2 Lomba Cerpen Islami dalam rangkaian lomba Romadhon at Dormitory A-1 (RoDA-1) Asrama Putri TPB IPB Tahun 2009.

Dengan judul awal : AKULAH SANG PENENTU. Namun dengan saran dari dewan juri, penulis mengubah judul cerpen menjadi SAKSI BISU.

0 komentar:

Posting Komentar