SAKSI BISU
Oleh: Ayu F. Izaki
Ibu Surti. Begitulah ia biasa
dipanggil. Hidup dalam kesendirian di sebuah rumah kecil yang rapuh. Entahlah.
Semua anak-anak Ia setelah sukses di negeri orang, dengan tega
menelantarkannya. Membiarkan dirinya hidup bertemankan sepi.
Ibu Surti. Tuanku yang satu ini
memiliki tangan yang terampil. Ia bisa menyatukan semua bahan yang ada menjadi
sesuatu yang memiliki citra rasa tinggi. Dengan keahliannya itulah Ia dapat
menghidupi dirinya dan ketiga anak-anaknya.
Ibu Surti. Selalu bangun sebelum
subuh. Menyiapkan semua bahan, mencampurkannya, dan memasaknya menjadi makanan
yang lezat. Setelah makanan itu jadi, Ia dengan siap pula melangkahkan kakinya,
melewati tiap-tiap rumah untuk menjajakan makanan yang telah Ia buat. Uang yang
Ia dapat dari hasil jerih payahnya tidaklah menentu. Kadang berlebih, kadang
berkurang. Namun, itu cukup untuk menghidupi dirinya dan buah hatinya.
Maklumlah setelah ia resmi menjanda, Ialah yang menjadi tumpuan hidup keluarga.
Namun sekarang, di manakah ketiga orang
anaknya berada? Mengapa mereka begitu tega melihat Ibunda tercinta bermain
dengan rasa sepi? Apakah mereka tidak tahu sekeras apa Ibu Surti bekerja? Itu
senua hanyalah demi mereka. Ketika raga ini mulai menampakkan kekisutan, ketika
jiwa mulai kembali ke jiwa anak-anak, sebenarnya hanyalah kasih sayang
anak-anaknya yang sangat diperlukan oleh wanita setengah abad ini. Sebagai
perwujuda rasa bakti dan balas budi.
Namun sayangnya, aku tidaklah bisa berbuat
apa-apa demi tuanku ini. Aku tidak mempunyai daya. Yang bisa aku lakukan hanya
menemaninya ketika sedang bekerja di dapur dan menjadi saksi bisu dalam
berbagai kisahnya….
*****
Sore ini, sehabis ashar di awal
bulan ramadhan, Ibu Surti dengan cekatan menyiapkan semua bahan-bahan yang
diperlukan untuk pekerjaanya. Kemudian bahan itu ia cuci, dikupas,
dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Mencampurkan semua bahan, memberinya
sedikit racikan bumbu, dan dengan ketulusan hati dan kesabaran, memasaknya
hingga menjadi sebuah makanan yang membangkitkan selera. Tak lupa Ia
menghiasnya agar terlihat semenarik mungkin. Ia kembali menyiapkan bahan-bahan
lagi. Kali ini Ia akan membuat makanan manis untuk berbuka yang orang-orang
biasa sebut dengan ta’jil.
Aku tahu tujuan Ibu Surti membuat
semua itu. Ya untuk anak-anak yang sangat ia cintai. Ia sangat berharap kalau
ketiga anak-anaknya akan pulang dan menemaninya. Ketika itu terjadi, ia akan
dengan suka cita menghidangkan makanan yang telah ia buat untuk dapat dimakan
oleh anak-anaknya. Padahal ia tahu bahwa sangatlah mustahil mengharapkan
kehadiran buah hatinya itu di sisinya. Tapi, harapan itu tidak pernah terhapus
dari hati sanubarinya. Aku jadi sering membayangkan betapa bahagia raut
wajahnya kala itu benar-benar terjadi. Seorang Ibu yang sabar dalam penantian panjangnya,
yang lebaran nanti genap sudah lima
tahun ia menanti.
Tidak hanya bulan ramadhan ini saja
ia giat menyiapkan makanan dan sabar menunggu di meja makan. Bulan-bulan lain
selama hampir lima
tahun ini ia selalu berbuat demikian. Memasak makanan dalam jumlah yang banyak
dan berharap makanan itu akan dimakan.
Pernah suatu ketika ia ditanya oleh
salah satu tetangganya, mengapa ia membuat makanan sebanyak itu padahal ia
hanya tinggal sendirian. Dengan ringannya, ia menjawab, “Untuk ketiga
anak-anakku.” Meski dengan terheran-heran tetangga tersebut tidak lagi
mempertanyakannya. Bahkan sebagian dari tetangganya ada yang menganggap ia
sudah gila. Namun, begitulah ia dengan segala sifatnya. Ia tidak pernah
menghiraukan apa kata orang.
Ta’jil yang Ibu Surti buat telah
selesai. Dari raut wajahnya terlihat begitu sangat bahagia walaupun belun tentu
semua makanannya akan dimakan. Ia pun duduk-duduk di meja makan sembari
tersenyum dan membayangkan kala ketiga anaknya datang, berkumpul di meja makan
sambil berbincag-bincang. Namun lamunanya pun harus terhenti karena terdengar
pintu rumah sedang diketuk. Bergegas Ibu Suri menuju ruang tamu dan membukakan
pintu rumahnya. Terlihat seorang anak kecil berdiri di depan pintu. Intan, nama
anak itu. Ia adalah keponakan ibu Surti yang sering ke runah Ibu Surti. Intan
lah yang menggantikan kedudukan anak-anaknya, yang mengobati ketika ia rindu.
Intan selalu ingin minta diajari memasak oleh Ibu Surti. Intan lah yang
mengusir kesepiannya.
“Assalamu’alaikum Budhe.” Intan memberi salam sambil
tersenyum. Senyumnya sangat manis.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Ibu Surti.
“Ayo masuk! Ono opo tho nduk?”
“Begini Budhe, Budhe hari ini
buat ta’jil lagi tidak? Kalau iya, Intan mau minta. Boleh kan?” kata Intan
tanpa malu-malu.
“Intan tahu saja kalau Budhe buat ta’jil. Boleh kok Intan
minta. Ayo ke dapur, kita ambil ta’jilnya.”
Intan mengangguk lalu membuntuti Ibu
Surti di belakang.
Di dapur Ibu Surti membungkuskan
makanan kolak pisang itu ke dalam kantong plastik. Tak lupa ia menyisakan kolak
pisang itu.
“Budhe,
masih suka menyisakan makanan buat Mas Adi, Mbak Wilda, dan Mas Doni ya. Budhe, kan tahu kalau mereka mustahil
pulang. Mereka itu durhaka, lupa sama orang yang membesarkannya. Mereka tidak
sayang sama Budhe.” Intan berkata
dengan mimik wajah yang polos tanpa dosa.
“Iya, Intan. Budhe masih berharap
kalau suatu saat mereka akan pulang. Intan kalau pergi juga pasti akan balik ke
rumah kan?”
Intan
mengangguk lucu.
“Kalau begitu, Intan harus janji ke Budhe bahwa Intan akan berbakti kepada
orangtua terutama kepada Ibu Intan.” Ibu Surti menasihati.
“Iya Budhe,Intan janji.” Yakin Intan mantap.
“Ya sudah sekarang Intan pulang.
Sudah mau berbuka. Ini kolaknya buat Intan dan keluarga.” Ibu Surti menyodorkan
bungkusan kantong plastik bewarna hitam itu.
“Iya Budhe, Intan balik dulu. Terima kasih atas kolaknya.
Assalamua’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam” Ibu Surti
mengantarkan sang gadis kecil ke pintu. Gadis kecil itu berlarian pulang. Lucu.
Ia jadi teringat kembali ketika anak-anaknya masih kecil. Kenangan yang tak
bisa ia lupakan.setelah kepergian Intan, rumah Ibu Surti kembali sepi.
*****
Akhir ramadhan. H-1 menjelang
lebaran. Ibu Surti sedang sibuk dan asyiknya membuat makanan untuk menyanbut
hari suci nan mulia untuk umat Islam ini. Ia dengan cekatan meracik bumbu,
memotong ayam menjadi kecil-kecil, membuat santan, dan menjadikannya sebuah
makanan yang disebut opor ayam. Ia pun tak lupa menengok ketupat yang sedang ia
rebus di dalan panci. Dan seperti biasanya aku menemani dan membantu pekerjaan
yang tengah ia lakukan ini. Tiba-tiba keasyikkannya memasak terganggu oleh
suara vas bunga pecah. Praang…. Dengan cepat, Ibu Surti mematikan kompor dan mencari sumber suara. Ia lupa
menaruh pisau. Pisau masih ada dalam genggamannya.
Dilihatnya seorang pemuda tengah
membuka laci meja di ruang tengah. Seperti sedang mencari-cari sesuatu. Lemari
di sebelah televisi pun terbuka dan isinya berantakan.
“Siapa Anda?! Sedang apa Anda di
rumah saya?!” Teriak Ibu Surti lantang. Pemuda itu membalikkan badannya. Ketika
pemuda itu berbalik, betapa terkejutnya Ibu Surti karena yang ia lihat adalah
Doni, anak bungsunya, anak yang selalu ia harapkan kedatangannya, yang selalu
ia rindukan.
“Doni, itu kamu kan nak? Ya Allah,
sudah lama Ibu menantikan kepulanganmu nak. Alhamdulillah kamu akhirnya pulang
dengan selamat. Peluk Ibu nak.” Ibu surti Berteriak sambil menangis. Kemudian
ia menghambur ke pelukan pemuda itu. Tapi, dengan cepat pula pemuda itu
menangkisnya.
“Ada apa nak? Mengapa kamu tidak mau
memeluk Ibu? Apakah kamu tidak rindu pada Ibu?” Ibu Surti masih berkata sambil
terisak.
“Ibu, kepulanganku kali ini untuk
meminta sertifikat sawah milik Ayah. Ibu masih menyimpannya bukan?” Pemuda itu tanpa
dosa meminta sertifikat sawah kepada Ibunya.
“Untuk apa nak? Ibu sudah menjual
sawah itu untuk kuliah kalian bertiga.”
“Ah Ibu ini cerewet sekali,
perusahaanku di Malaysia bangkrut kena tipu. Aku terjerat utang. Aku minta ibu
menyiapkan uang 7,6 Milyar.”
“Masya Allah, nak. Dari mana Ibu
punya uang sebesar itu. Itu sangat mustahil nak. Lagian mengapa kamu bisa
berhutang
sebanyak itu?”
“Ibu pasti berbohong. Sawah ayah kan
banyak. Cepet kemarikan uang itu.”
“Mana mungkin Ibu berbohong nak. Ibu
sudah tidak punya uang lagi.”
“Yah sudahlah.” Pemuda itu hendak
pergi namun dicegat oleh Ibu Surti.
“Mau kemana lagi nak. Tinggal lah di
sini bersama Ibu.”
“Untuk apa? Ibu sudah tidak punya
uang lagi kan?”
“Tapi nak, Ibu rindu kamu. Ibu
sangat ingin ditemani oleh anak Ibu.”
“Ah Ibu nggak tahu apa kalau aku
lagi pusing, minggir sana!!”
“Tapi nak, Ibu…” Pemuda itu
mengambil pisau dari genggaman Ibu Surti dan menancapkannya ke perut Ibu Surti.
Kemudian pergi seakan tanpa dosa.
“Aaahh…” setelah mengucapkan
syahadat Ibu Surti terkapar di lantai. Darah mengalir deras dari perutnya. Tak
ada yang mengetahui hal ini. Kecuali aku dan Ibu Surti. Namun, aku tak bisa
berbuat apa-apa sebab aku adalah saksi bisu. Aku adalah benda mati. Aku turut
andil dalam kematian Ibu Surti. Akulah yang membunuh tuanku sendiri. MATA
PISAU!!!
*****
Allahu akbar… Allahu akbar… Laa
ilaha illallahu wallahu akbar.. allahu akbar walillahi ilham.. Lebaran tiba.
Rumah Ibu Surti sepi. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang membuka pintu
rumahnya. Dan betapa terkejutnya ia sebab orang yang dicarinya terbujur kaku di
lantai. Bersama aku yang tertancap di perut Ibu Surti…
“Inalillahi… Budhe, bangun… Budhe
kenapa? Masya Allah siapa yang tega melakukan semua ini.” Intan menangis
sesenggukkan. Ia memeluk erat mayat itu. Ibu surti tak bernyawa lagi. Rohnya
sudah melayang, berangkat menuju tenpat peristirahatan yang damai. Tak ada yang
mengetahui bahwa yang membunuh Ibu Surti adalah Doni, anak bungsunya dan juga…
AKU.
Intan berlari, bergegas menuju
rumahnya untuk memberitahukan kabar kematian ini kepada keluarganya.
*****
Aku terhempas ke dalam wadah yang
dipenuhi bau-bau busuk yang menyengat. Ya semenjak aku dipakai untuk berbuat
jahat, aku lalu dibuang oleh pihak rumah sakit setelah dicabut dari tubuh
wanita renta itu. Setelah mayatnya diotopsi, setelah aku diperiksa dan diambil
sidik jari yang menempel di tubuhku. Beginilah akhir cerita tragis ini.
Kematian Ibu Surti, tuanku yang pandai memasak dan selalu memanfaatkanku dalam
kebaikan. Tuanku yang selalu mengharapkan kedatangan ketiga anaknya, memasak
makanan yang lezat, dan menunggu di meja makan.
Setelah kejadian itu, beberapa
minggu kemudian kedua anak-anaknya sadar dan kemudian menjadikan rumah Ibu
Surti sebagai tempat pelatihan memasak. Sedangkan anak bungsu yang telah membunuhnya,
akhirnyaa menyerahkan diri ke hadapan polisi. Ia pun lalu di kurung di sebuah
ruangan penuh nista, penjara. Ia di sel tahanan tersebut lantas menjadi gila
karena mengingat perbuatan yang telah ia lakukan kepada ibunya. Ia merasa
berdosa sekali.
Dan
aku pun juga sangatlah merasa berdosa karena telah membunuh tuanku. Tuan yang
sangat aku sayangi. Namun aku sangat tak berdaya melakukan apa-apa. Karena aku
ini benda mati, saksi bisu kisahnya ….
*****
SEKIAN
#Dengan edit
Cerpen ini menjadi juara 2 Lomba Cerpen
Islami dalam rangkaian lomba Romadhon at Dormitory A-1 (RoDA-1) Asrama Putri TPB
IPB Tahun 2009.
Dengan judul awal :
AKULAH SANG PENENTU. Namun dengan saran dari dewan juri, penulis mengubah judul
cerpen menjadi SAKSI BISU.

0 komentar:
Posting Komentar