Kamis, 11 Agustus 2016

Biarkan Cantingku Menari

Oleh: Ayu F Izaki

/1/

Mereka tertawa lalu mencemoohku, seolah-olah yang paling sempurna tanpa keterbatasan. Aku juga tidak mau dilahirkan seperti ini, disabilitas, penuh keterbatasan penuh tatapan sinis mengejek orang lalu aku harus bagaimana? Haruskah memaki Tuhan? Karena semua ini takdir Tuhan? Lalu aku dilaknat oleh-Nya, karena tak mensyukuri nikmat-Nya

Tapi sepertinya semua orang di negeri ini hanya sedikit yang berpihak kepadaku kepada kami para tuna. Padahal peraturan negeri ini bersuara “Setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan”

/2/

Mereka tertawa lalu mencemoohku. Menertawakanaku yang tunadaksa “Hooo ora biso mlaku..Melas temen.. hahaha.” Disabilitas ini membuatku jengah. Aku tak pernah meramalkan bahwa keadaanku akan seperti sekarang ini. Ini bermula ketika aku kecil Aku terjangkit virus itu yang melumpuhkan salah satu anggota tubuhku melumpuhkan kakiku, sehingga tak dapat lagi digerakkan, tak dapat lagi diriku melangkah, tak dapat lagi diriku berjalan. Waktu itu suhu tubuhku meninggi kepalaku terasa berpendar punggung dan leher mulai terasa nyut-nyutan. ototku seakan mau memberontak. Aku pun dibawa ibu kepuskesmas dekat rumah. Lalu apa kata tenaga medis disana? Aku hanya demam biasa. Aku diberi obat demam biasa. tapi tak kunjung aku sembuh malah menjadi-jadi rasa sakitnya. Ibuku hanya khawatir, dia tidak dapat membawaku ke dokter apalagi ke rumah sakit. Tak ada uang untuk orang yang tak berpunya seperti kami. Tak ada layanan kesehatan juga untuk orang seperti kami. Kami hana menelan ludah bila kesakitan.Lantas tiba-tiba salah satu anggota tubuh ini mati rasa. Kaku dan tak dapat lagi digerakkan, malah mulai mengecil, akhirnya aku menjadi sang disabilitas, cacat, penuh keterbatasan. Menjadi tuna daksa

Orang menyebut penyakit terkutuk ini dengan nama polio atau kependekan dari Poliomielitis. Terkutuklah PV yang telah membawa penyakit ini, masuk ke tubuh melalui mulut, lalu usus dikoyak olehnya. Atau kealiran darah terus mengalir ke sistem saraf pusat, ototmu pun melemah jatuh lemah tak berdaya. Virus itu, terkutuklah kau, tapi mikro organisme itu ciptaan Tuhan. Haruskah aku mengutuk Tuhan? Lalu aku pun jua dilaknat oleh-Nya. Terkutuklah aku kata-Nya karena tak mensyukuri nikmat-Nya.

/3/

Mereka tertawa lalu mencemoohku, menertawakanku yang cacat. Aku yang tak punya pendidikan, yang putus sekolah, karena tak ada sekolah yang mau menerimaku. Sekolah luar biasa itu sangat tidak terjangkau olehku, baik segi materi maupun lokasi. Padahal aku ingin menikmati memakai seragam itu, duduk dibangku kayu itu, mendengarkan guru yang berdiri di depan papantulis. Bercelotehria, berdiskusi, tertawa bersama teman-teman tanpa ada tatapan mengejek, tatapan sinis. Aku pun hanya harus puas belajar baca-tulis dengan ibukku. Dalam lubuk hati, aku ingin seperti Marni, teman mainku, yang pulang sehabis menimba ilmu dengan wajah sumringah. Sungguh sepertinya menyenangkan sekali.

/4/

Mereka tertawa lalu mencemoohku. Ternyata tidak hanya mereka yang seperti itu.  Ternyata keluargaku juga menertawakanku, ayahku tidak mau menerimaku. Ibu selalu dipukulnya karena membelaku dan mendukungku, katanya karena dialah aku terlahir cacat, aku tak tahu maksudnya. Tapi tak lama kemudian mereka memutuskan ikatan bercerai tanpa dosa, tanpa memikirkan perasaan kami anak-anaknya. aku seringkali menyalahkan diri sebab akulah penyebab perceraian itu. Tapi ibuku menepis perasaanku, katanya mereka memang tidak cocok dan memang sudah saatnya berpisah.

/5/

Sekarang aku sudah tidak muda lagi. Mereka masih mencemoohku, menertawakanku. Tapi biarlah ibukku dari kecil selalu mengajarkanku walau aku tidak bisa menggunakan kedua kakiku aku masih bisa menggunakan kedua tanganku untuk melukis. Melukis di atas kain, Memainkan canting berisi lilin malam walau panas tetap kutorehkan ide yang melintas di kepalaku. Di atas sebuah kain putih, kain polos itu aku sulap menjadi kain bercorak yang memiliki nilai dan harga yang bisa dijual agar aku dan ibukku terus hidup.

Cantingku terus menari hingga aku dewasa.

/6/

Cantingku terus menari. Dengan canting itu aku masih hidup. aku dan ibu bisa makan bahkan membuka usaha batik yang dikenal masyarakat. Dulu aku ditertawakan, sekarang aku balik menertawakan mereka. Aku membuktikan bahwa sang disabilitas sepertiku masih mempunyai nilai untuk hidup, bahkan melebihi orang normal sekalipun.

Setelah sukses pun aku membuka sekolah batik untuk anak-anak. Sehingga tidak hanya cantingku yang terus menari, tapi canting anak-anak itu pun ikut menari. Hingga jiwa dan ragaku tidak ada di dunia ini.

Cantingku pun terus menari dan terus menari

Membuat karya-karya indah

~~~~

**inspired true story with modification

Dipublish di blog Guru Menulis Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar