Oleh: Ayu F Izaki
Sarapan pagi selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan. Betapa tidak, selain disinyalir bermanfaat untuk kesehatan, juga momen yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga, walaupun hanya dengan makanan yang sederhana. Seperti sarapan saya kali ini yakni nasi telur kecap. Bicara soal nasi kecap, saya teringat suatu momen bersejarah yang pernah saya alami sewaktu kecil. Sewaktu saya masih mengenakan seragam merah putih. Kala itu saya berada di Masjid Al Fatah, tempat para pengungsi. Ya, di sanalah saya makan nasi kecap tanpa lauk dan sayur bersama para pengungsi lainnya, ditemani suara hiruk pikuk tembakan dan bom yang saling bersahutan. Kejadian bersejarah dalam hidup saya itu adalah Kerusuhan Ambon di tahun 1999. Mungkin saat ini lagi marak isu yang membahas kudeta militer di Turki, namun saya tetap ingin mengenang sekaligus merenung momen paling luar biasa dalam hidup saya ini.
Tanggal 19 Januari 1999, bertepatan dengan hari raya idul fitri, meletuslah awal mula kerusuhan Ambon, yang sering disebut dengan Tragedi Idul Fitri Berdarah1. Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum peristiwa Idul Fitri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 19951. Apalagi situasi Indonesia kala itu memang lagi puncaknya memanas, ditandai dengan adanya kerusuhan Mei 1998, yang membuat ekonomi kian terpuruk dan harga melambung tinggi. Ketika harga semangkuk bakso yang bermula hanya Rp 500 saja, kemudian naik 10 kali lipat menjadi Rp 5.000. Sungguh kondisi Indonesia saat itu sangat memprihatinkan. Situasi kerusuhan 1998 ini, menurut saya, ikut andil memicu kerusuhan Ambon 1999. Dimana akibat kondisi yang kacau, orang-orang gampang terbawa emosi.
Kembali pada kerusuhan Ambon, saya yang kala itu masih sangat kecil, tidak tahu menahu apa yang menyebabkan tragedi ini menguak. Ada yang menduga awal mula kerusuhan ini hanya karena masalah kecil, bentrok warga. Pada tanggal 19 Januari 1999 terjadi suatu pertikaian antara seorang supir angkot dengan seorang preman di terminal bis Batumerah2. Selain itu, sebagian besar orang berpendapat bahwa agama sebagai penyebab timbulnya konflik ini, bahkan dengan dibumbui isu politik. Pada era kolonial Belanda, kaum Kristen Maluku memiliki banyak keistimewaan dalam birokrat dan militer, namun keadaan ini menjadi terbalik ketika bangsa Indonesia telah merdeka. Kaum Islam kemudian bisa menguasai birokrasi yang dulu dikuasai oleh kaum Kristen2. Hal inilah yang dianggap sebagian besar orang memicu konflik disana-sini. Kerena sebagaian orang berpendapat bahwa agama sebagai penyebab timbulnya konflik ini, maka para ahli berlomba-lomba untuk mengkaji dan menguak kebenaran asal muasal konflik ini.
Entah yang mana kebenarannya, belum bisa dipastikan. Apalagi ini sangat erat kaitannya dengan SARA. Saya tidak akan berpanjang lebar menduga apa yang menjadi penyebab konflik ini. Karena yang ingin saya tulis adalah sebuah perenungan akan apa hikmah yang bisa diambil menurut saya sebagai mantan pengungsi ini. Mungkin berikut ini catatan kecil akan hikmah kerusuhan Ambon 1999 yang bisa saya rasakan:
1. Selalu mengingat Allah berdzikir dan berdoa
Walau saya kala itu masih berumur kurang dari 7 tahun, tetapi suara tembakan dan ledakan bom yang melanda, menumbuhkan rasa ketakutan. Ibu tidak henti-hentinya menyuruh kami (anak-anaknya) untuk senantiasa berdoa. Mengharap agar kerusuhan ini berakhir dengan damai.
2. Selalu bersyukur
Mencari tempat yang nyaman kala itu susah sekali. Banyak bangunan runtuh dan pecah. Bangunan runtuh itu bisa disebabkan lemparan batu, tembakan pistol, terbakar, bahkan ledakan bom. Rumah kontrakan kami dilempari batu dan dibakar sehingga kaca jendela pecah, dan bangunan pun hangus oleh api yang menjalar. Masih terasa dalam ingatan bahwa berpindah-pindah untuk mencari tempat yang nyaman pun menjadi suatu keharusan yang mutlak. Dari mengungsi di suatu pabrik hingga di suatu masjid paling besar di kota Ambon, Masjid Raya Al Fatah. Ibu yang bersusah payah membawa baju dan barang berharga selalu tak pernah mau melepaskan pegangan tangannya ke kami, anak-anaknya. Karena situasi tidak menentu, rasa syukur langsung terpatri di hati kami. Bersyukur karena bisa tidur ditempat yang nyaman dari rasa takut walaupun harus berdesakan dengan yang lain, bersyukur masih bisa makan walau hanya dengan nasi kecap (catat: tanpa lauk dan sayur), bersyukur bisa kembali ke tanah Jawa dengan menumpangi kapal yang susah sekali didapat, bahkan setelah akhirnya bisa terbebas dari tragedi ini, bersyukur karena ada sekolah yang mau menerima padahal kami tidak memiliki rapot karena gedung sekolah kami terbakar.
Masih melekat dalam ingatan, dulu ayah memelihara burung kakaktua, sewaktu kami mengungsi kami tidak terpikirkan membawa burung itu bersama kami. Ketika mendengar bahwa rumah kontrakan terbakar, kami pun langsung sedih karena burung kakaktua itu masih di dalam rumah. Namun, beberapa hari kemudian, ketika ayah melihat keadaan rumah, sambil berharap masih ada barang yang bisa dibawa, ternyata dengan kekuasaan Allah burung itu masih hidup, padahal rumah kontrakan itu hangus terbakar. Subhanallah.
3. Menumbuhkan sikap saling berbagi
Karena masjid Al Fatah, yang menjadi tempat kami meneduhkan diri dari rasa tidak aman, itu sangatlah luas namun pengungsi yang mendiami juga tak kalah banyaknya, kami harus selalu siap untuk berbagi tempat tidur dengan yang lain, berbagi makanan, dan berbagi kamar mandi. Yah kami tidak boleh berlama-lama mandi, karena pasti ada antrian di depan pintu. Kami juga harus menghemat air. Oleh karena itu, kalau keramas atau buang air besar kami selalu khawatir, bagaimana kalau airnya mati di tengah jalan? Hehe.
4. Bersabar
Kami dituntut agar selalu bersabar. Bersabar karena tidur kami pasti tidak akan nyenyak. Bersabar untuk mendapat jatah hajat dan pangan. Bersabar agar malapetaka ketakutan ini segera berakhir. Bahkan setelah kami tiba di Jawa, bersabar untuk menghadapi puluhan pertanyaan saudara-saudara kami yang khawatir. Pernah suatu ketika, saudaraku menunjukkan sebuah koran kepada ibukku. Koran itu berisi berita tentang kerusuhan Ambon. Bukan koran itu yang menarik, tapi foto besar yang terpampang di bawah judul headline artikel tersebut. Ya, di foto itu ada gambar ibu, saya, kakak dan adikku. Kami diliput media massa. Entah harus senang ataupun sedih.
Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu [QS. AL Baqarah (2): 153]
Akhirnya dengan seluruh kesabaran dan harapan, di tahun 1999 itu juga kami bisa terbebas dari kerusuhan ini dan kembali ke kampung halaman di Jawa. Ada rasa haru dan penuh syukur yang menyeruak di dada. Kami masih mendengar kabar di berbagai media massa kerusuhan masih berlanjut hingga di tahun 2002, hingga berdamai ditandai dengan pertemuan perdamaian yang menghasilkan Perjanjian Malino II sebagai konsensus kesepakatan perdamaian di Maluku.
Tanggal 19 Januari 1999, bertepatan dengan hari raya idul fitri, meletuslah awal mula kerusuhan Ambon, yang sering disebut dengan Tragedi Idul Fitri Berdarah1. Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebelum peristiwa Idul Fitri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 19951. Apalagi situasi Indonesia kala itu memang lagi puncaknya memanas, ditandai dengan adanya kerusuhan Mei 1998, yang membuat ekonomi kian terpuruk dan harga melambung tinggi. Ketika harga semangkuk bakso yang bermula hanya Rp 500 saja, kemudian naik 10 kali lipat menjadi Rp 5.000. Sungguh kondisi Indonesia saat itu sangat memprihatinkan. Situasi kerusuhan 1998 ini, menurut saya, ikut andil memicu kerusuhan Ambon 1999. Dimana akibat kondisi yang kacau, orang-orang gampang terbawa emosi.
Kembali pada kerusuhan Ambon, saya yang kala itu masih sangat kecil, tidak tahu menahu apa yang menyebabkan tragedi ini menguak. Ada yang menduga awal mula kerusuhan ini hanya karena masalah kecil, bentrok warga. Pada tanggal 19 Januari 1999 terjadi suatu pertikaian antara seorang supir angkot dengan seorang preman di terminal bis Batumerah2. Selain itu, sebagian besar orang berpendapat bahwa agama sebagai penyebab timbulnya konflik ini, bahkan dengan dibumbui isu politik. Pada era kolonial Belanda, kaum Kristen Maluku memiliki banyak keistimewaan dalam birokrat dan militer, namun keadaan ini menjadi terbalik ketika bangsa Indonesia telah merdeka. Kaum Islam kemudian bisa menguasai birokrasi yang dulu dikuasai oleh kaum Kristen2. Hal inilah yang dianggap sebagian besar orang memicu konflik disana-sini. Kerena sebagaian orang berpendapat bahwa agama sebagai penyebab timbulnya konflik ini, maka para ahli berlomba-lomba untuk mengkaji dan menguak kebenaran asal muasal konflik ini.
Entah yang mana kebenarannya, belum bisa dipastikan. Apalagi ini sangat erat kaitannya dengan SARA. Saya tidak akan berpanjang lebar menduga apa yang menjadi penyebab konflik ini. Karena yang ingin saya tulis adalah sebuah perenungan akan apa hikmah yang bisa diambil menurut saya sebagai mantan pengungsi ini. Mungkin berikut ini catatan kecil akan hikmah kerusuhan Ambon 1999 yang bisa saya rasakan:
1. Selalu mengingat Allah berdzikir dan berdoa
Walau saya kala itu masih berumur kurang dari 7 tahun, tetapi suara tembakan dan ledakan bom yang melanda, menumbuhkan rasa ketakutan. Ibu tidak henti-hentinya menyuruh kami (anak-anaknya) untuk senantiasa berdoa. Mengharap agar kerusuhan ini berakhir dengan damai.
2. Selalu bersyukur
Mencari tempat yang nyaman kala itu susah sekali. Banyak bangunan runtuh dan pecah. Bangunan runtuh itu bisa disebabkan lemparan batu, tembakan pistol, terbakar, bahkan ledakan bom. Rumah kontrakan kami dilempari batu dan dibakar sehingga kaca jendela pecah, dan bangunan pun hangus oleh api yang menjalar. Masih terasa dalam ingatan bahwa berpindah-pindah untuk mencari tempat yang nyaman pun menjadi suatu keharusan yang mutlak. Dari mengungsi di suatu pabrik hingga di suatu masjid paling besar di kota Ambon, Masjid Raya Al Fatah. Ibu yang bersusah payah membawa baju dan barang berharga selalu tak pernah mau melepaskan pegangan tangannya ke kami, anak-anaknya. Karena situasi tidak menentu, rasa syukur langsung terpatri di hati kami. Bersyukur karena bisa tidur ditempat yang nyaman dari rasa takut walaupun harus berdesakan dengan yang lain, bersyukur masih bisa makan walau hanya dengan nasi kecap (catat: tanpa lauk dan sayur), bersyukur bisa kembali ke tanah Jawa dengan menumpangi kapal yang susah sekali didapat, bahkan setelah akhirnya bisa terbebas dari tragedi ini, bersyukur karena ada sekolah yang mau menerima padahal kami tidak memiliki rapot karena gedung sekolah kami terbakar.
Masih melekat dalam ingatan, dulu ayah memelihara burung kakaktua, sewaktu kami mengungsi kami tidak terpikirkan membawa burung itu bersama kami. Ketika mendengar bahwa rumah kontrakan terbakar, kami pun langsung sedih karena burung kakaktua itu masih di dalam rumah. Namun, beberapa hari kemudian, ketika ayah melihat keadaan rumah, sambil berharap masih ada barang yang bisa dibawa, ternyata dengan kekuasaan Allah burung itu masih hidup, padahal rumah kontrakan itu hangus terbakar. Subhanallah.
3. Menumbuhkan sikap saling berbagi
Karena masjid Al Fatah, yang menjadi tempat kami meneduhkan diri dari rasa tidak aman, itu sangatlah luas namun pengungsi yang mendiami juga tak kalah banyaknya, kami harus selalu siap untuk berbagi tempat tidur dengan yang lain, berbagi makanan, dan berbagi kamar mandi. Yah kami tidak boleh berlama-lama mandi, karena pasti ada antrian di depan pintu. Kami juga harus menghemat air. Oleh karena itu, kalau keramas atau buang air besar kami selalu khawatir, bagaimana kalau airnya mati di tengah jalan? Hehe.
4. Bersabar
Kami dituntut agar selalu bersabar. Bersabar karena tidur kami pasti tidak akan nyenyak. Bersabar untuk mendapat jatah hajat dan pangan. Bersabar agar malapetaka ketakutan ini segera berakhir. Bahkan setelah kami tiba di Jawa, bersabar untuk menghadapi puluhan pertanyaan saudara-saudara kami yang khawatir. Pernah suatu ketika, saudaraku menunjukkan sebuah koran kepada ibukku. Koran itu berisi berita tentang kerusuhan Ambon. Bukan koran itu yang menarik, tapi foto besar yang terpampang di bawah judul headline artikel tersebut. Ya, di foto itu ada gambar ibu, saya, kakak dan adikku. Kami diliput media massa. Entah harus senang ataupun sedih.
Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu [QS. AL Baqarah (2): 153]
Akhirnya dengan seluruh kesabaran dan harapan, di tahun 1999 itu juga kami bisa terbebas dari kerusuhan ini dan kembali ke kampung halaman di Jawa. Ada rasa haru dan penuh syukur yang menyeruak di dada. Kami masih mendengar kabar di berbagai media massa kerusuhan masih berlanjut hingga di tahun 2002, hingga berdamai ditandai dengan pertemuan perdamaian yang menghasilkan Perjanjian Malino II sebagai konsensus kesepakatan perdamaian di Maluku.
Note:
1Kronologi Tragedi Ambon-Maluku Berdarah. www.adriandw.com/peristiwa_ambon.htm
2Konflik Maluku Tahun 1999-2002. wiwikpramudya.blogspot.co.id/2014/06/konflik-maluku-tahun-1999-2002.html
1Kronologi Tragedi Ambon-Maluku Berdarah. www.adriandw.com/peristiwa_ambon.htm
2Konflik Maluku Tahun 1999-2002. wiwikpramudya.blogspot.co.id/2014/06/konflik-maluku-tahun-1999-2002.html

ikut ngeri bayangin tragedinya mba. Semoga kita dan keluarga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. amin
BalasHapusMakan Nasi Kecap itu sesuatu banget..
BalasHapusSederhana tapi enak dan mengenyangkan,...
Pasti menyisakan trauma bagi siapapun yg menjadi korban
BalasHapusSegala sesuatu terjadi utk sebuah alasan dan mereka yg mendpt ujian tersebut tentu org2 hebat krn Allah tdk akn menguji diluar kemampuan hambanya.
BalasHapusSegala sesuatu terjadi utk sebuah alasan dan mereka yg mendpt ujian tersebut tentu org2 hebat krn Allah tdk akn menguji diluar kemampuan hambanya.
BalasHapus