Senja itu, bidadari merenung dalam
muram. Berdiri depan danau. Tak hiraukan pelangi muncul dengan indahnya.
Setelah hujan membawa berkahnya. Menghiasi danau surga itu dengan rasa
bahagianya. Mentari pun tak kalah menyapa jua. Awan berteriak kegirangan
menampakkan wajah putih berseri mereka. Air pun terlihat beriak,
bergemerincing, menyala-nyala penuh keanggunan. Bertasbih semua, bersujud
semua, tunduk kepada Dewa Angkasa, Sang Pencipta.
Bertanyalah bidadari itu pada Dewa
Angkasa.
“Dewa, tak Kau lihatkah bumi hancur
karena makhluk sempurna-Mu itu.” Tetap
dengan wajah sendu.
“Begitulah mereka. Begitulah rasa
kehidupan.” Jawab Dewa dengan entengnya.
“Tak adakah sesosok Tuan muda berhati
emas yang kelak menjadi pendampingku di sini?”
“Bukan tak ada, tapi belum. Bagaimana
kalau kau menjemputnya?”
“Oooh apakah aku mampu.” Bidadari anggun
itu meragu.
“Mungkin saja.”
“Kau mengizinkanku?”
“Ya, pergilah. Temukan dia.” Dewa memberi izin dengan meyakinkan.
Maka bidadari itu sampai di sini. Usai bercakap
dengan Sang Dewa, ia kembali merenung. Mungkinkah akan kulakukan itu?
Mungkinkah aku temukan? Mungkinkah aku menjemputnya? Tuan muda berhati emas
itu.
(_Izaki)
161012 dini hari yang sunyi


walaupun pendek ceritanya tapi saya akui kamu punya bakat menulis izaki..
BalasHapuswaaahh.. terima kasih banget yaa. aku jadi semangat nulis niehh.. hehehe
Hapus