Minggu, 11 November 2012

Bidadari di Danau



Drawn and Photographed by @IzakiIyuu
(Please don't be copied and imitated)

Senja itu, bidadari merenung dalam muram. Berdiri depan danau. Tak hiraukan pelangi muncul dengan indahnya. Setelah hujan membawa berkahnya. Menghiasi danau surga itu dengan rasa bahagianya. Mentari pun tak kalah menyapa jua. Awan berteriak kegirangan menampakkan wajah putih berseri mereka. Air pun terlihat beriak, bergemerincing, menyala-nyala penuh keanggunan. Bertasbih semua, bersujud semua, tunduk kepada Dewa Angkasa, Sang Pencipta.
Bertanyalah bidadari itu pada Dewa Angkasa.
“Dewa, tak Kau lihatkah bumi hancur karena makhluk sempurna-Mu itu.”  Tetap dengan wajah sendu.
“Begitulah mereka. Begitulah rasa kehidupan.” Jawab Dewa dengan entengnya.
“Tak adakah sesosok Tuan muda berhati emas yang kelak menjadi pendampingku di sini?”
“Bukan tak ada, tapi belum. Bagaimana kalau kau menjemputnya?”
“Oooh apakah aku mampu.” Bidadari anggun itu meragu.
“Mungkin saja.”
“Kau mengizinkanku?”
“Ya, pergilah. Temukan dia.” Dewa memberi izin dengan meyakinkan.
Maka bidadari itu sampai di sini. Usai bercakap dengan Sang Dewa, ia kembali merenung. Mungkinkah akan kulakukan itu? Mungkinkah aku temukan? Mungkinkah aku menjemputnya? Tuan muda berhati emas itu.
(_Izaki)
161012 dini hari yang sunyi

2 komentar:

  1. walaupun pendek ceritanya tapi saya akui kamu punya bakat menulis izaki..

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaahh.. terima kasih banget yaa. aku jadi semangat nulis niehh.. hehehe

      Hapus