Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik
yang dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor
penggerak perubahan. (seperti dalam peristiwa Tragedi Trisakti Mei 1998 yang
menjatuhkan rezim Soeharto). Namun, apakah mahasiswa sekarang dapat bergerak
menuju perubahan, sedangkan di dalam kelas kerjanya tidur? Itulah fenomena yang
sering saya lihat, mahasiswa dengan tenangnya tidur di dalam kelas saat dosen
sedang menerangkan suatu mata kuliah tertentu. Memang, tidak mau berburuk
sangka, mungkin mahasiswa yang tidur karena kelelahan setelah melakukan
berbagai macam aktivitas. Ibarat mesin, tubuh terus dipacu untuk melakukan
semua kegiatan. Tugas yang menumpuk dan jadwal organisasi yang padat, hal itu
membuat mahasiswa kurang beristirahat. Imbasnya, mahasiswa menjadi mudah
tertidur di dalam kelas.
Akan
tetapi sangat disayangkan, apabila mahasiswa tidur itu hanya gara-gara
semalaman mengobrol di asrama, nonton film, main game, atau asyik berselancar di dunia maya. Apalagi karena merasa
bosan atau tidak menyukai mata kuliah tertentu. Memang, tidak salahnya tidur.
Kita perlu tidur untuk sejenak merefreshkan pikiran dari rasa jenuh, sekadar
memejamkan mata beberapa menit. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mahasiswa
dapat menyerap materi ilmu dari dosen sedangkan dari awal hingga akhir kuliah
mahasiswa hanya tidur tanpa mendengarkan dosen? Apa ada materi yang menyangkut
di otak? Lantas, tidaklah mengherankan bila ada beberapa mahasiswa yang gagal
dalam ujian. Kalau seperti itu, perjuangan mahasiswa era 1998 yang mengeluarkan
kita dari masa tidur yang panjang seakan tak ada artinya jika kita tidak mau
mengubah kebiasaan tidur itu.
Era
Reformasi : Masa Bangunnya Mahasiswa dari Tidur Panjang
Era
reformasi merupakan masa bangunnya mahasiswa dari tidur panjang. Mengapa saya katakan
demikian? Di Indonesia, kata reformasi umumnya merujuk kepada gerakan mahasiswa
pada tahun 1998 yang menjatuhkan kekuasaan Presiden Soeharto pada masa Orde
Baru. Mahasiswa dan rakyat Indonesia era orba yang terbuai dengan janji pemerintah
yang telah membuat mereka percaya bahwa pemerintah dapat membawa Indonesia ke
arah yang lebih maju lagi. Memang sekilas Indonesia terlihat maju namun bila
menilik ke belakang ternyata banyak sekali penyimpangan-penyimpangan, seperti
banyaknya korupsi yang dilakukan pemerintah yang berdampak juga pada
pemerintahan dewasa ini.
Mahasiswa
yang sadar akan hal itu lalu terbangun dari tidur panjangnya, bergerak
menyeruakkan aspirasinya, yang kita kenal sebagai Tragedi Trisakti Mei 1998.
Itulah sepenggal kisah sejarah yang seharusnya dapat kita ambil pelajaran. Oleh
karena itu, kita sebagai mahasiswa perlu belajar sejarah masa lalu untuk
dijadikan pedoman masa depan bangsa yang nantinya kita pegang.
Mahasiswa
: Insan Akademik
Sesibuk apapun
mahasiswa, sebanyak apapun agenda aktivitasnya, kita sebagai mahasiswa, jangan
sampai melupakan bahwa mahasiswa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala
aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Walaupun kita mengantuk dan hampir
tertidur sebisa mungkin kita tetap melek
selain agar dapat memahami materi kuliah juga agar lebih menghormati ‘pahlawan tanpa
tanda jasa’ yang berdiri di depan kita.
Peran
kita sebagai insan akademik teramat penting. Peran ini menjadi simbol dan miniatur
kesuksesan dalam memajukan diri kita.
Jika kegagalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit, ada pepatah ‘nasi
sudah menjadi bubur’ maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi
‘bubur ayam spesial’, dengan cara mengembangkan segala potensi yang ada pada
diri kita.
Jangan
Sekadar Tidur-Tiduran
Seharusnya
kita bersyukur karena kita telah memasuki era reformasi, suatu era yang
menuntut perubahan. Era ini membebaskan kita untuk mengemukakan pendapat. Kita
sebagai mahasiswa, seharusnya melanjutkan perjuangan yang telah dilakukan kakak
kelas kita pada tahun 1998. Mungkin caranya tidaklah mesti sama. Mahasiswa memiliki fungsi strategis sebagai iron stock, agent of change, dan agent of social control, harus
senantiasa mengembangkan kemampuan hard
dan soft skill-nya dengan belajar,
belajar, dan belajar. Peran kita saat ini di dunia pendidikan adalah sebagai
pembelajar ilmu yang nantinya bisa menghasilkan suatu kontribusi kepada
masyarakat, bangsa, dan negara.
Di
dalam dunia pendidikan itu sendiri mahasiswa dituntut untuk mewujudkan Tri
Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian
masyarakat. Oleh karena itu sebagai orang yang mengenyam pendidikan tinggi,
sudah sepatutnya berusaha menyerap materi ilmu yang diberikan yang nantinya
untuk diterapkan sebagai bentuk pengabdian kita kepada masyarakat. Semua
pengabdian itu nantinya akan membawa perubahan negara Indonesia ke arah yang
lebih maju, beradab, dan menjadi masyarakat madani.
Jangan terlalu sering tidur di dalam kelas.
Bukankah kita sudah bangun dari masa tidur yang panjang? Jangan sampai kita
tertidur lagi dan tidak terbangun kembali! Jangan menjadi masyarakat yang doyan
tidur walaupun hanya sekadar tidur-tiduran! Tidur untuk bangun, bukan bangun
untuk tidur kembali. (Bangun tidur, tidur lagi.)

0 komentar:
Posting Komentar