Senin, 06 Agustus 2012

Tidur untuk Bangun


Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik yang dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan. (seperti dalam peristiwa Tragedi Trisakti Mei 1998 yang menjatuhkan rezim Soeharto). Namun, apakah mahasiswa sekarang dapat bergerak menuju perubahan, sedangkan di dalam kelas kerjanya tidur? Itulah fenomena yang sering saya lihat, mahasiswa dengan tenangnya tidur di dalam kelas saat dosen sedang menerangkan suatu mata kuliah tertentu. Memang, tidak mau berburuk sangka, mungkin mahasiswa yang tidur karena kelelahan setelah melakukan berbagai macam aktivitas. Ibarat mesin, tubuh terus dipacu untuk melakukan semua kegiatan. Tugas yang menumpuk dan jadwal organisasi yang padat, hal itu membuat mahasiswa kurang beristirahat. Imbasnya, mahasiswa menjadi mudah tertidur di dalam kelas.
            Akan tetapi sangat disayangkan, apabila mahasiswa tidur itu hanya gara-gara semalaman mengobrol di asrama, nonton film, main game, atau asyik berselancar di dunia maya. Apalagi karena merasa bosan atau tidak menyukai mata kuliah tertentu. Memang, tidak salahnya tidur. Kita perlu tidur untuk sejenak merefreshkan pikiran dari rasa jenuh, sekadar memejamkan mata beberapa menit. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mahasiswa dapat menyerap materi ilmu dari dosen sedangkan dari awal hingga akhir kuliah mahasiswa hanya tidur tanpa mendengarkan dosen? Apa ada materi yang menyangkut di otak? Lantas, tidaklah mengherankan bila ada beberapa mahasiswa yang gagal dalam ujian. Kalau seperti itu, perjuangan mahasiswa era 1998 yang mengeluarkan kita dari masa tidur yang panjang seakan tak ada artinya jika kita tidak mau mengubah kebiasaan tidur itu.

Era Reformasi : Masa Bangunnya Mahasiswa dari Tidur Panjang
            Era reformasi merupakan masa bangunnya mahasiswa dari tidur panjang. Mengapa saya katakan demikian? Di Indonesia, kata reformasi umumnya merujuk kepada gerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang menjatuhkan kekuasaan Presiden Soeharto pada masa Orde Baru. Mahasiswa dan rakyat Indonesia era orba yang terbuai dengan janji pemerintah yang telah membuat mereka percaya bahwa pemerintah dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih maju lagi. Memang sekilas Indonesia terlihat maju namun bila menilik ke belakang ternyata banyak sekali penyimpangan-penyimpangan, seperti banyaknya korupsi yang dilakukan pemerintah yang berdampak juga pada pemerintahan dewasa ini.
            Mahasiswa yang sadar akan hal itu lalu terbangun dari tidur panjangnya, bergerak menyeruakkan aspirasinya, yang kita kenal sebagai Tragedi Trisakti Mei 1998. Itulah sepenggal kisah sejarah yang seharusnya dapat kita ambil pelajaran. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa perlu belajar sejarah masa lalu untuk dijadikan pedoman masa depan bangsa yang nantinya kita pegang.

Mahasiswa : Insan Akademik
            Sesibuk apapun mahasiswa, sebanyak apapun agenda aktivitasnya, kita sebagai mahasiswa, jangan sampai melupakan bahwa mahasiswa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Walaupun kita mengantuk dan hampir tertidur sebisa mungkin kita tetap melek selain agar dapat memahami materi kuliah juga agar lebih menghormati ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang berdiri di depan kita.
            Peran kita sebagai insan akademik teramat penting. Peran ini menjadi simbol dan miniatur kesuksesan dalam  memajukan diri kita. Jika kegagalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit, ada pepatah ‘nasi sudah menjadi bubur’ maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi ‘bubur ayam spesial’, dengan cara mengembangkan segala potensi yang ada pada diri kita.

Jangan Sekadar Tidur-Tiduran
            Seharusnya kita bersyukur karena kita telah memasuki era reformasi, suatu era yang menuntut perubahan. Era ini membebaskan kita untuk mengemukakan pendapat. Kita sebagai mahasiswa, seharusnya melanjutkan perjuangan yang telah dilakukan kakak kelas kita pada tahun 1998. Mungkin caranya tidaklah mesti sama.  Mahasiswa memiliki fungsi strategis sebagai iron stock, agent of change, dan agent of social control, harus senantiasa mengembangkan kemampuan hard dan soft skill-nya dengan belajar, belajar, dan belajar. Peran kita saat ini di dunia pendidikan adalah sebagai pembelajar ilmu yang nantinya bisa menghasilkan suatu kontribusi kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
            Di dalam dunia pendidikan itu sendiri mahasiswa dituntut untuk mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Oleh karena itu sebagai orang yang mengenyam pendidikan tinggi, sudah sepatutnya berusaha menyerap materi ilmu yang diberikan yang nantinya untuk diterapkan sebagai bentuk pengabdian kita kepada masyarakat. Semua pengabdian itu nantinya akan membawa perubahan negara Indonesia ke arah yang lebih maju, beradab, dan menjadi masyarakat madani.
 Jangan terlalu sering tidur di dalam kelas. Bukankah kita sudah bangun dari masa tidur yang panjang? Jangan sampai kita tertidur lagi dan tidak terbangun kembali! Jangan menjadi masyarakat yang doyan tidur walaupun hanya sekadar tidur-tiduran! Tidur untuk bangun, bukan bangun untuk tidur kembali. (Bangun tidur, tidur lagi.)

0 komentar:

Posting Komentar